Home Opini  Protestan dan Katholik Masuk Nusantara Melalui Penjajah

 Protestan dan Katholik Masuk Nusantara Melalui Penjajah

93
0

Oleh. Hana Wulansari

Sebelum datangnya penjajah Portugis atau pun Belanda, di Indonesia telah ada beberapa penganut agama berbeda yang hidup berdampingan. Para wirausahawan muslim di nusantara dihadapkan pada berbagai ajaran agama dan keyakinan yang berbeda, yakni Animisme, Dinamisme, Hinduisme dan Buddisme. Perbedaan ajaran dan keyakinan bagi wirausaha muslim pada hakikatnya tidak mengganggu proses dakwah ajaran agama. Justru dalam prakteknya, keragaman menjadi motivasi dakwah. Apalagi ajaran Islam tidak mengenal adanya pemaksaan agama.

Dalam buku Api Sejarah karya Ahmad Mansyur Suryanegara, penyebaran agama Islam tidak terjadi penolakan karena ajarannya tidak mengenal stratifikasi sosial seperti agama Hindu.

Agama islam tidak mengenal adanya pemaksaan dan perbedaan yang terjadi di masyarakat tidak untuk dipertentangkan. Apalagi untuk dijadikan alasan berperang seperti yang dilakukan oleh imperalis Barat dengan agama Katholik dan Protestannya.[1]

Pada dasarnya, kehadiran katholik dan Protestan di Nusantara sebagai agama tidaklah masalah. Namun, kedatangan agama Katholik dan Protestan digunakan oleh penjajah Barat sebagai dasar pembenaran tindak imperialisnya. Oleh karena itu, Katholik dan Protestan keduanya dalam pandangan pribumi sebagai penjajah.

Sehingga secara otomatis, baik penganut Hindu, Budha dan Islam di nusantara merasa terancam dan tertindas, mereka pun tidak dapat membenarkannya. Apalagi dijajah negara, bangsa dan negaranya. Kemerdekaan beragama pun mulai tidak ada. Sehingga rakyat yang tertindas kurang dapat menghormati kedua agama asing yang dikembangkan penjajah.

Perjanjian Tordesilas

Pada 1494 M, Paus Alexander VI menandatangani Perjanjian Tordesilas. Perjanjian tersebut memberikan kewenangan pada Kerajaan katholik Spanyol dan Portugis untuk mempelopori penegakkan imperialisme atau pun penjajahan Barat di dunia. Kedatangan Portugis ke nusantara adalah sebagai pelaksana testamen imperialisme Paus Alexander VI dalam perjanjian Tordesilas. Para imperialis membawa misi gold (emas), god (agama) and glory (kekuasaan). Jadi misi menyebarkan agama (Katholik dan Protestan) masuk melalui imprealisme.

Masuknya imperialisme Barat yang memaksakan agama melalui aktivitas penjajahan telah merusak tatanan toleransi umat beragama, yang sebelumnya terjalin indah, yakni diantara Hindu, Budha dan Islam di nusantara.

Penjajah datang memaksakan agamanya, baik agama Katholik pada abad ke-16 M, maupun agama Protestan pada abad ke-17 M, dikembangkan melalui perang agama. Kedua penjajah dengan agama Nasrani (Katholik dan Protestan) sebelum tiba di nusantara mereka telah melakukan perang agama yang ada di Eropa. Perang antar Protestan yang disebut pula sebagai reformasi lawan Katholik yang dikenal sebagai kontra reformasi. Perang antara kedua agama tersebut dilanjutkan di nusantara Indonesia. Beberapa sejarahwan menyebutnya sebagai perang salib di Asia Afrika dalam memperebutkan tanah jajahan. Kedua agama ini tidak hanya saling berperang antar sesama penganut salib katholik dan Protestan. Namun juga memerangi penganut islam di nusantara Indonesia. Di saming itu agama Hindu, Budha dari India serta Kong Fu Tsu dari Cina dianggap sebagai musuh dari mata keyakinan imperialis Barat.

Perang Agama segitiga

Menurut J.C. Leur dalam Indonesia Trade and society, nusantara dijadikan arena perang agama segitiga. Perang antara Katholik lawan Protestan, serta keduanya sebagai penjajah melawan pribumi Islam di nusantara Indonesia yang tidak mau dijajah. Belanda dengan semangat protetanisme membebaskan negaranya dari penjajahan Katholik Spanyol. Namun sekaligus menjadikan Belanda sebagai negara penjajah Protestan atas nusantara.

Di bawah kondisi ancaman penjajah yang menggunakan agama Katholik dan Protestan, sebagai dasar motivasi penajajahannya, bangkitlah gerakan perlawan bersenjata. Organisasi bersenjata di nusantara, menjadikan Islam sebagai dasar ajarannya. Saat itu Protestan Belanda menggunakan lembaga niaga Verenigde Oust Indiscshe Company (VOC) untuk Belanda, dan East Indian Company (EIC) untuk Inggris. Walaupun organisasi adalah organisasi niaga, namun mereka memiliki misionaris yang menyebarkan injil yang mereka cetak sendiri kemudian dibagikan pada pribumi. VOC pun diberikan kewenangan untuk berdamai atau berperang melawan negara atau kesultanan yang dihadapi.

VOC dan EIS digunakan sebagai lembaga niaga yang melumpuhkan pasar yang dibangun pedagang Islam. Pasar sebelumnya adalah pencipta sumber dana dan pencipta kemakmuran masyarakat muslim. Sebelumnya Islam menjadi kuat karena menguasari perniagaan dan pemasaran seperti yang diajarkan Rosul Muhammad SAW. Sedangkan VOC dan EIC dikerahkan untuk mengalahkan ekonomi dan politik Islam.

[1] Suryanegara, A.M. 2015. Api Sejarah. P178-179

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here