Home Galeri Pos Indonesia Berkembang Sejak Jaman Kolonial

Pos Indonesia Berkembang Sejak Jaman Kolonial

36
0
Pos Jaman Kolonial

SEJARAHONE.ID – Proses surat menyurat di Indonesia melalui pos telah eksis sejak jaman kolonial atau penjajahan Belanda. Sejak zaman Vereenigde Oostindische Compagnie (VOC) berkuasa di Hindia atau Indonesia, tepatnya pada 1746. Institusi negara yang membawahi pos kemudian berkembang mengikuti zaman kolonial. Adalah Gubernur Jenderal Gustaaf Willem Baron van Imhoff (1743-1750) yang pertama kali menginisiasi berdirinya kantor pos pertama di Hindia Belanda (Indonesia).

isamas54: VAN IMHOF (1705-1750), PEMBANGUN KOTA BOGOR

Gubernur Jenderal Gustaaf Willem Baron van Imhoff (1743-1750)

 The Archives of the Dutch East India Company (VOC) and the Local Institutions in Batavia (2007) karya Louisa Balk dan kawan-kawan memaparkan pada 26 Agustus 1746, didirikan kantor pos di Batavia (Jakarta). Hal yang melatarbelakangi diperlukannya institusi pos di Hindia Belanda di antaranya adalah wabah malaria pada 1733 dan tragedi pembunuhan besar-besaran terhadap orang-orang Cina pada 1740 yang ternyata sangat merugikan perdagangan.

Van Imhoff mencari jalan keluar dengan membentuk badan-badan untuk memperlancar pelayaran bebas dan kegiatan dagang. Salah satunya adalah melalui pos.

Setelah kantor pos pertama di Batavia berdiri, empat tahun kemudian dibangun pula kantor pos di Semarang agar tercipta jalur perhubungan pos yang teratur antara kedua kota besar itu. Rute perjalanan pos kala itu ialah melalui Karawang, Cirebon, dan Pekalongan. Dibukanya Jalan Raya Pos atau De Grote Postweg kian memperlancar akses distribusi informasi di Hindia.

Dalam Colonial Exploitation and Economic Development (2013) suntingan Ewout Frankema disebutkan, jalan itu dibangun pada masa awal Gubernur Jenderal Herman Willem Daendels (1808-1811). Daendels mempelopori pembukaan jalur sepanjang 1.000 kilometer di pesisir utara Jawa dari Anyer sampai Panarukan. Sayangnya, tulis Jan Breman dalam buku Keuntungan Kolonial dari Kerja Paksa (2014), proyek besar ini menelan belasan ribu korban jiwa dari orang-orang bumiputra yang dijadikan pekerja paksa. Kini, jalan panjang bikinan Daendels tersebut dikenal dengan nama Jalur Pantura (Pantai Utara) dan menjadi salah satu jalur transportasi terpenting di Jawa.

Dibukanya Terusan Suez pada 1869 dan mulai berkembangnya kapal uap membuat kebutuhan akan jasa pos semakin krusial. Terlebih setelah pesawat berkembang, pos udara menjadi pilihan pengiriman surat via pos. Saat masa peralihan dari era Gubernur Jenderal James Loudon (1872-1875) ke Johan Wilhelm van Lansberge (1875-1881), Dinas Pos digabung dengan Dinas Telegraf dengan status jawatan milik pemerintah. Nama institusinya pun menjadi Posten Telegrafdienst.

Tahun 1877, Dinas Pos dan Telegraf Hindia Belanda tergabung sebagai anggota Union Postale Universelle, yakni terhubung dalam pengiriman surat dan barang secara internasional. Asa Briggs melalui buku Sejarah Sosial Media (2006) menuliskan, Union Postale Universelle didirikan di Inggris pada 1874.

Dari Jawatan ke BUMN Jawatan Pos dan Telegraf di Hindia Belanda berganti nama lagi menjadi Posts Telegraafend Telefoon Dienst atau Jawatan Pos, Telegraf, dan Telepon (PTT) pada 1906 seiring mulai krusialnya kebutuhan telekomunikasi dengan telepon.

Sejak 1931, sebut Hermawan Kertajaya dan kawan-kawan dalam On Becoming a Customer-Centric Company: Transformasi Telkom Menjadi Perusahaan Berbasis Pelanggan (2004), Posts Telegraafend Telefoon Dienst atau Jawatan Pos menjadi perusahaan negara kolonial. Penguasaan Belanda atas telekomunikasi di Indonesia berakhir pada 1942 atau setelah kalah dari Jepang dalam Perang Dunia Kedua. Wilayah Indonesia pun diduduki pemerintah militer Dai Nippon sejak saat itu.

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here