Home Pemberontakan PKI Sangat Benci Buya Hamka, Ulama Sekaligus Pujangga

PKI Sangat Benci Buya Hamka, Ulama Sekaligus Pujangga

142
0

SEJARAHONE.ID – Prof DR Haji Abdul Malik Karim Amrullah gelar Datuk Indomo, populer dengan nama Hamka, lahir di Sungai Batang, Tanjung Raya, Agam, Sumatera Barat, 17 Februari 1908, adalah seorang ulama dan sastrawan.

Hamka berkarier sebagai wartawan, penulis, dan pengajar. Ia terjun dalam politik melalui Masyumi sampai partai tersebut dibubarkan, menjabat Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) pertama, dan aktif dalam Muhammadiyah hingga akhir hayatnya.

Universitas al-Azhar dan Universitas Nasional Malaysia menganugerahkannya gelar doktor kehormatan, dan Universitas Moestopo, Jakarta, mengukuhkan Hamka sebagai guru besar. Namanya disematkan untuk Universitas Hamka milik Muhammadiyah dan masuk dalam daftar Pahlawan Nasional Indonesia.

Hamka remaja sering melakukan perjalanan jauh sendirian. Ia meninggalkan pendidikannya di Thawalib, menempuh perjalanan ke Jawa dalam usia 16 tahun. Setelah melewatkan perantauannya, Hamka kembali ke Padang Panjang ingin ikut membesarkan Muhammadiyah.

Pengalamannya ditolak sebagai guru di sekolah milik Muhammadiyah karena tak memiliki diploma dan dikritik atas kekurangmampuannya berbahasa Arab melecut keinginan Hamka pergi ke Mekkah.

Dengan bahasa Arab yang dipelajarinya, Hamka mendalami sejarah Islam dan sastra secara otodidak. Kembali ke Tanah Air, Hamka merintis karier sebagai wartawan sambil bekerja sebagai guru agama di Deli.

Hamka mengukuhkan tekadnya untuk meneruskan cita-cita ayahnya dan dirinya sebagai ulama dan sastrawan. Kembali ke Medan pada 1936 setelah pernikahannya, ia menerbitkan majalah Pedoman Masyarakat. Lewat karyanya Di Bawah Lindungan Ka’bah dan Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck, nama Hamka melambung sebagai sastrawan.

Selama revolusi fisik Indonesia, Hamka bergerilya bersama Barisan Pengawal Nagari dan Kota (BPNK) menyusuri hutan pegunungan di Sumatra Barat untuk menggalang persatuan menentang kembalinya Belanda.

Pada 1950, Hamka membawa keluarga kecilnya ke Jakarta. Meski mendapat pekerjaan di Departemen Agama, Hamka mengundurkan diri karena terjun di jalur politik. Dalam pemilihan umum 1955, Hamka terpilih duduk di Konstituante mewakili Masyumi. Ia terlibat dalam perumusan kembali dasar negara.

Sikap politik Masyumi menentang komunisme dan gagasan Demokrasi Terpimpin Soekarno memengaruhi hubungan Hamka dengan Presiden Soekarno. Usai Masyumi dibubarkan sesuai Dekret Presiden 5 Juli 1959, Hamka menerbitkan majalah Panji Masyarakat yang berumur pendek, dibredel oleh Soekarno setelah memuat tulisan Bung Hatta (yang telah mengundurkan diri sebagai wakil presiden) berjudul “Demokrasi Kita”.

Seiring meluasnya pengaruh komunis, Hamka dan karya-karyanya diserang oleh organisasi Lekra yang terafiliasi dengan PKI. Tuduhan melakukan gerakan subversif membuat Hamka diciduk dari rumahnya ke tahanan Sukabumi pada 1964. Ia merampungkan Tafsir Al-Azhar dalam keadaan sakit sebagai tahanan.

Menjelang berakhirnya kekuasaan Soekarno, Hamka dibebaskan pada Mei 1966. Pada masa Orde Baru Soeharto, ia mencurahkan waktunya membangun kegiatan dakwah di Masjid Agung Al-Azhar serta berceramah di RRI dan TVRI. Ketika pemerintah menginisiasi pembentukan Majelis Ulama Indonesia pada 1975, peserta musyawarah memilih dirinya secara aklamasi sebagai ketua.

Namun, Hamka memilih meletakkan jabatannya pada 19 Mei 1981 menyikapi tekanan Menteri Agama (Letnan Jenderal Alamsyah) yang memaksanya untuk membatalkan fatwa haram MUI atas perayaan Natal bersama bagi umat Muslim. Hamka wafat di usia 73 tahun pada 24 Juli 1981 dan jenazahnya dimakamkan di TPU Tanah Kusir, Jakarta.

 

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here