Pilar-Pilar Kesultanan Buton

    95
    0

    SEJARAHONE.ID – Kesultanan Buton yang jaya pada emat abad yang lalu memegang teguh empat pilar falsafah.

    Empat pilar falsafah “kebutonan” itu lahir dari prinsip dasar dalam Konstitusi Martabat Tujuh. Konstitusi Martabat Tujuh disusun pada masa Sultan La Elangi tahun 1610 yang merupakan konstitusi tertua di Nusantara.

    Ya, di dalam Mukadimah (pembukaan) Undang-Undang Kesultanan Martabat Tujuh, ada dua prinsip tertinggi yang saling terkait. Prinsip pengenalan Tuhan di dalam diri dan prinsip pobinci-binciki kuli. Istilah umumnya, prinsip bagaimana membangun relasi dengan Sang Khaliq/pencipta (hablu minallah) dan prinsip membangun relasi dengan sesama makhluk (hablu minanas). Dua prinsip ini merupakan bersumber dari ajaran islam. (Negeri Khalifatul Khamis, hal.99)

    Prinsip pertama, merupakan penerjemahan dari suatu hadits qudsi yang terkenal dan menjadi pijakan utama para ahli tasawuf, “Man ‘arafa nafsahu faqad ‘arafaha rabbahu” artinya barangsiapa mengenal (sumber) dirinya yang sejati, maka sungguh dia mengenal Tuhannya yang abadi. Sebagai manusia mesti mengenali dirinya. Ia mesti menyadari, dari mana dia berasal, untuk apa dia hadir di dunia ini dan akan kemana setelah mati, meninggalkan dunia ini. Jika manusia memahami prinsip ini maka ia akan melakukan hal terbaik selama hidup di dunia. Ia paham betul bahwa ia perlu bekal amal baik untuk keselamatan dan kebahagiaan kehidupan di akhirat nanti.

    Prinsip kedua, pobinci-binciki kuli, artinya mencubit kulit sendiri, bila sakit tentu akan sakit pula bagi orang lain. Prinsip ini kemudian dijabarkan dalam empat hal:
    1) Pomae-maeka artinya takut-menakuti.
    2) Popia-piara artinya pelihara-memelihara.
    3) Pomaa-maasiaka artinya sayang-menyayangi.
    4) Poangkaa-ngkataka artinya hormat-menghormati.

    Dari prinsip ini kemudian melahirkan rumusan 4(empat) falsafah Kebutonan. Empat pilar Falsafah inilah yang menjadi penyangga peradaban masyarakat di Kesultanan Buton. Keempat pilar falsafah itu dapat kita uraikan sbb:

    PERTAMA, Yinda-yindamo Arataa Sumanamo Karo. (biar tiadanya harta, demi keselamatan diri, keselamatan dunia akhirat). Ini dimaknai sebagai prinsip bahwa lebih diutamakan keselamatan diri di dunia dan diakhirat ketimbang adanya harta. Keberadaan harta memang diperlukan untuk menunjang kehidupan. Namun harta hanya diposisikan untuk meraih keselamatan di dunia dan lebih utama lagi untuk keselamatan di akhirat. Jika pun tidak ada berlimpah harta, yang terpenting bisa selamat dan bahagia di dunia dan akhirat. Harta bukan tujuan utama dan tidak diraih dengan segalanya cara yang justru bisa membahayakan keselamatan di akhirat. Harta justru dikorbankan untuk keselamatan dan kebahagiaan diri di dunia dan akhirat.

    KEDUA, Yinda-yindamo Karo Sumanamo Lipu. (biar tiadanya diri, demi keselamatan negeri). Hal ini dapat dimaknai bahwa masyarakat Buton yang dikenal sebagai warga Negeri Khalifatul Khamis lebih mengutamakan keselamatan negerinya daripada dirinya sendiri. Dalam prinsip pertama, Mereka rela mengorbankan harta demi keselamatan diri. Selain itu, mereka juga rela mengorbankan diri demi keselamatan negeri. Pendek kata mereka rela mengorbankan harta dan jiwa mereka demi negerinya.

    KETIGA, Yinda-yindamo Lipu Sumanamo Syara’, (biar tiadanya negeri, demi selamatnya syara’ Allah Ta’ala). Prinsip ini menunjukan semangat membela hukum Syara Allah Ta’ala (syariah islam). Bahkan bagi masyarakat buton negeri khalifatul khamis, mengorbankan harta dan diri mereka serta negeri mereka itu akan tetap dilakukan demi tegaknya syariah islam. Dapat dimaknai bahwa bagi masyarakat buton, syariah islam lebih utama dibanding Harta, diri dan negeri mereka sendiri.

    KEEMPAT, Yinda-yindamo Syara’ Sumanamo Agama Sadaa-daa. (biar tiadanya syara’ asalkan Agama tegak abadi, yaitu teguh mengagamakan diri walaupun di tengah pemerintahan zalim). Ini menggambarkan bagaimana semangat juang masyarakat buton dalam menegakkan hukum islam (syariah islam. Dan jika pun tidak berhasil menegakkan hukum syara Allah Ta’ala (syariah islam) karena pemerintahan dikuasai penjajah, maka mereka tetap berjuang mempertahankan agamanya agar tidak murtad. Mereka akan tetap mempertahankan agamanya meski ditengah pemerintahan zalim yang tak menerapkan hukum syara Allah Ta’ala (syariah islam).

    Itulah empat pilar yang menjadi pembangun semangat masyarakat buton yang dikenal dengan julukan “Negeri Khalifatul Khamis”. Mereka rela mengorbankan Harta. Mereka juga rela mengorbankan diri dan nyawa mereka demi tegaknya Hukum Syara Allah Ta’ala. Bahkan jika negera dikuasai penjajah dan mereka tak bisa menegakkan hukum Syara Allah Ta’ala, maka mereka akan tetep mempertahankan agamanya. Tentunya itu tetap dilakukan meski dengan tekanan dan pengorbanan di tengah pemerintahan zalim sekali pun.

    Dengan karakter masyarakat Buton yang rela mengorbankan Hartanya, rela pula mengorbankan jiwanya demi membela keadilan dan tegaknya hukum Syara Allah Ta’ala maka tak heran jika mereka sangat di segani saat itu. Bahkan mereka mampu membangun dan mewariskan Benteng Terluas di dunia yang membanggakan kita.

    Kiranya dari kesultanan buton, negeri khalifatul khamis, kita bisa belajar bagaimana memiliki karakter tangguh. Bagaimana pula membangun dan mewariskan peradaban mulia yang disegani bangsa lainnya di muka bumi ini. Tabiik.

    (disarikan dari Buku NEGERI KHALIFATUL KHAMIS, Terbitan WADIpres tahun 2019, yang ditulis oleh Irwansyah Amunu & W_almaroky)

    NB; Penulis pernah belajar pemerintahan di STPDN angkatan ke-04 dan IIP Jakarta angkatan ke-29 serta MIP-IIP Jakarta angkatan ke-08.

    Penulis: Wahyudi al Maroky (Dir. PAMONG Institute)

    TULISKAN PENDAPAT KAMU?

    Please enter your comment!
    Please enter your name here