Home Pahlawan Petilasan Sejarah Panglima Besar Jenderal Soedirman di Trenggalek

Petilasan Sejarah Panglima Besar Jenderal Soedirman di Trenggalek

50
0

SejarahOne.id – Kabupaten Trenggalek, yang merupakan kabupaten di pesisir selatan Pulau Jawa, ternyata juga mempunyai sejarah jejak Panglima Besar Jendral Soedirman. Menurut sejarah, Jendral Soedirman juga pernah melintasi wilayah Trenggalek pada masa agresi militer pada tahun 1949. Dari perjalanannya tersebut ternyata melintasi Trenggalek dua kali yakni berangkat dan pulang.

Kasi Pelestarian Sejarah Tradisi dan Cagar Budaya Dinas Pariwisata dan Kebudayaan (Disparbud) Kabupaten Trenggalek, Agus Prasmono mengatakan, pada saat itu Panglima Besar Jendral Soeudirman usai perjalanan dari Kecamatan Dongko menuju Desa Bodag Kecamatan Panggul bersama rombongan.

Diantara rombongannya adalah dua ajudan Sutardjo Rustam dan Cokropranolo. Juga dokter Suwondo, Penasehat Militer Harsono Cokroaminoto, Menteri Agama Kh. Maskur, Sekjen Kementerian Dalam Negeri Mr. Sunaryo dan putra balita Kh. Maskur yang bernama Saiful.

“Di Desa Bodag, Jenderal Soedirman menginap mulai tanggal 31 Januari – 3 Februari 1949. Ada yang menarik dalam perjalanan beliau yaitu putra balita Kh. Maskur yang selalu digendong bernama Saiful yang kala itu juga ikut mengawal Panglima Besar Jenderal Soedirman,” ucapnya, Sabtu (2/2/2019).

Menurut Agus, dari cerita yang berkembang ternyata Saiful memiliki indra ke enam atau yang biasa disebut anak indigo. Sehingga Saiful diajak ayahnya mengawal Jenderal Soedirman untuk memberikan tanda-tanda jika akan terjadi bahaya datang misal kepungan musuh atau serangan musuh.

Sedangkan rute masuk ke Trenggalek, dari Jogya ke timur sampai Ponorogo melewati Sawo, Tugu Trenggalek ketimur, Trenggalek kota, Bendorejo Pogalan, Kalambret Tulungagung, Kediri dan Nganjuk.

Kembalinya dari Gunung Ngindeng, masuk Ponorogo, Sawo, Desa Tumpak Pelem, Tugu, Trenggalek, ke Selatan, Karangan, Suruh, Dongko dan Bodag Panggul. “Usai menginap di Desa Bodag, Panggul, Trenggalek, Jenderal melanjutkan perjalanan ke Nogosari Pacitan dan menginap di kediaman Lurah Nogosari,” terangnya.

Disaat berangkat Agus mengatakan, Jenderal Soedirman dalam perjalanannya di tandu secara bergantian. Namun karena tidak ingin merepotkan, Jenderal Soedirman hanya di tandu jika jalan menanjak dan sudah merasa lelah. Jika dirasa mampu Jenderal Soedirman tetap berjalan bersama rombongan.

“Jadi perjalanan Jenderal Soedirman sendiri pada zaman revolusi mempertahankan kemerdekaan yakni di masa agresi militer ke-2. Pada waktu itu Jenderal Soedirman meninggalkan Jogya menuju Selatan kearah Bantul, Gunung Kidul, Wonogiri lalu ketimur menuju Ponorogo dan mengelilingi Gunung Wilis. Sepulangnya dari Trenggalek, melewati Panggul menuju kebarat ke Gunung Kidul dan kembali ke Jogya,” jelasnya

Agus menerangkan, jadi saat Jenderal Sudirman singgah, yang disinggahi itu tidak ada hubungan apa-apa. Singgahnya Jenderal sesuai informasi intelejennya, jika dirasa wilayah tersebut aman dan steril untuk disinggahi di situlah akan bermalam.

“Jadi disaat singgah, pemilik rumah tidak tahu bahwa beliau adalah Jenderal Besar. Namun setelah mengetahui Jenderal Besar yang singgah, masyarakat sekitar menyambut dengan baik. Bahkan menyediakan fasilitas serta makanan,” jelasnya.

Agus menambahkan, seperti di Desa Bodag, Kecamatan Panggul, masih disimpan dan dirawat petilasan serta barang-barang yang telah dipakai Jenderal Soedirman pada waktu itu. Seperti piring, bokor, sendok dan garpu. Bahkan sajadah yang dipakai oleh Jenderal juga masih dirawat oleh cucu keturunan pemilik kediaman yang pernah di singgahi Jenderal Soedirman.

Sumber: FaktualNews.co

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here