Home Merdeka Perlawanan Pasukan Sultan Agung ke Benteng Batavia 1628

Perlawanan Pasukan Sultan Agung ke Benteng Batavia 1628

572
0

Oleh Hamzah Afifi

SejarahOne.id – Adi Prabu Hanyakrakusuma atau yang lebih dikenal dengan Sultan Agung, adalah Raja ketiga Kesultanan Mataram yang memerintah pada 1613-1645. Sultan Agung mengantarkan Mataram menjadi kerajaan terbesar di Jawa. Sultan Agung juga salah seorang Pahlawan Nasional Indonesia yang melakukan perlawanan terhadap VOC.

Tercatat dalam sejarah, Sultan Agung pernah memerangi VOC di Batavia pada 1628 dan 1629. Sejarah menuturkan bahwa Sultan Agung memiliki seorang abdi bernama Juru Taman, yang konon katanya memiliki kesaktian istimewa. Sultan Agung wafat pada 1645 setelah membangun Astana Imogiri sebagai pusat pemakaman keluarga raja-raja Kesultanan Mataram.

Sultan Agung terlahir pada 1591 sebagai cucu pendiri kerajaan Mataram, Panembahan Senopati. Nama kecil Sultan Agung adalah Raden Mas Rangsang. Ia adalah keturunan Panembahan Hanyakrawati dan Ratu Mas Adi Dyah Banawati. Sang ayah adalah raja kedua Mataram. Sang ibu adalah putri Pangeran Benawa raja Pajang. Ketika berusia 20 tahun, Sultan Agung dinobatkan sebagai Raja Mataram yang kekuasaannya meliputi wilayah yang luas, dari Cirebon sampai Pasuruan.

Dalam sejarah, saat memerintah Sultan Agung pernah terpaksa menggunakan kekuatan senjata kepada beberapa penguasa daerah yang berencana melepaskan diri dari kekuatan Mataram. Penguasa dari Surabaya yang menyusun kekuatan gabungan dari utara Jawa Timur merupakan perlawanan terhebat yang dihadapi Sultan Agung.

Pada 1620, Mataram mengepung kota Surabaya dan menghentikan suplai air. Tumenggung Bahurekso (Bupati Kendal pertama dan panglima perang Mataram di bawah Sultan Agung) dikirim untuk menaklukkan Sukadana. Ki Juru Kiting dikirim untuk menaklukkan Madura. Setelah Sukadana dan Madura berhasil dipegang, Surabaya akhirnya jatuh karena kelaparan pada 1625.

Selanjutnya, Sultan Agung menguasai Jawa Barat, yaitu Cirebon dan Sumedang. Verenigde Oost Indische Compagnie (VOC) mulai memperlihatkan ancaman di tanah Jawa dengan menduduki beberapa wilayah seperti Batavia pada awal abad ke-17. Belanda menuntut hak monopoli perdagangan, sementara Sultan Agung mau berdagang dengan bangsa manapun membuat keduanya bentrok.

Pada 1618, pertentangan Mataram-VOC mulai terlihat. Mataram menyerang VOC pada 18 Agustus 1618 karena Belanda merampok di bandar Jepara. Setelah Surabaya, Mataram kemudian beralih ke Banten, yang posisinya cukup dekat dengan Batavia sehingga dapat menjadi penghalang. Sultan Agung menyatakan perang ke Batavia setelah VOC menolak tawaran damai dari Mataram pada April 1628. Pasukan Mataram tiba di Batavia pada 27 Agustus 1628 di bawah komando Tumenggung Bahureksa.

Pasukan kedua tiba pada bulan Oktober di bawah komando Pangeran Mandurareja. Dengan total 10.000 prajurit, perang terbesar terjadi di benteng Holandia. Namun karena kurang perbekalan, Mataram mundur. Karena kekalahan itu, Sultan Agung menghukum mati Tumenggung Bajureksa dan Mandurareja. Pada Mei 1629, Sultan Agung kembali menyerang Batavia yang dipimpin oleh Adipati Ukur dan Adipati Juminah yang berangkat pada bulan Juni.

Kali ini prajurit dengan total 14.000 orang mempersiapkan lumbung-lumbung beras di Karawang dan Cirebon. Sayangnya, VOC punya mata-mata dan berhasil memusnahkan semuanya membuat Mataram kembali mengalami kekalahan. Taktik Sultan Agung selanjutnya adalah membendung dan mengotori Sungai Ciliwung yang menimbulkan wabah penyakit Kolera. Gubernur Jenderal VOC, JP Coen meninggal akibat penyakit tersebut.

Karena dua kali gagal menaklukkan Batavia, daerah-daerah bawahan Mataram mulai berani melakukan pemberontakan. Pemberontakan pertama dilakukan oleh Ulata Tembayat yang berhasil diredam pada 1630. Sumedang dan Ukur juga melakukan pemberontakan pada 1631. Pada 1640, Sultan Agung berhasil menaklukkan Blambangan dengan mengirim utusan Pangeran Selarong.

Selama masa kekuasaannya, hampir seluruh Pulau Jawa berhasil dikuasai Mataram. Hanya Batavia yang tersisa karena masih diduduki militer VOC Belanda. Selain pulau Jawa, daerah Palembang dan Sukadan juga dikuasai. Kebudayaan Mataram sangat diperhatikan oleh Sultan Agung. Kalender Jawa Islam adalah hasil perpaduan Sultan Agung dari kalender Hijriyah dan kalender Saka.

Hingga masa-masa terakhirnya di dunia, Sultan Agung tidak sekalipun berdamai dengan Belanda. Pada 1645, Sultan Agung meninggal dunia dan posisinya digantikan oleh Amangkurat I. Sultan Agung dikebumikan di Astana Imogiri yang ia buat sendiri untuk makam raja-raja Mataram. Berdasarkan Surat Keputusan Presiden RI No. 106/TK/Tahun 1975 tertanggal 3 November 1945, Sultan Agung dianugerahi gelar Pahlawan Nasional.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here