Home Khasanah Perkembangan Dinar Dirham di Indonesia

Perkembangan Dinar Dirham di Indonesia

69
0

SEJARAHONE.ID – Dirham adalah koin perak murni seberat 2.975 gram sedangkan dinar adalah koin emas seberat 4.25 gram, berkadar 22 karat (91.7). Standar ini mengikuti ketentuan WIM (World Islamic Mint), sesuai dengan ketetapan dari Rasulullah, sallalahu alayihi wa sallam, yang dikukuhkan oleh Khalifah Umar Ibn Khattab (www.islamicmint.com, 17 Oktober 2013 ).

Hadirnya mata uang berbasis emas di Indonesia bukan lagi sekedar angan, walau masih jauh panggang dari api setidaknya diskursus mengenai penggunaan mata uang dinar kembali mencuat di tengah ancaman inflasi yang mengkhawatirkan.

Diyakini dinar bisa menjadi alternatif mata uang Indonesia setelah sekian lama rupiah tidak mampu berkutik menghadapi hantaman krisis moneter. Bagi yang mencermati, krisis selalu mengajarkan banyak hal. Tentu saja banyak orang yang merasa gusar, mengapa perekonomian bisa terpuruk hanya karena nilai mata uang berubah.

Hal ini bisa terjadi karena uang kertas yang ada saat ini hanyalah legal tender, artinya hanya berupa “dekrit negara” yang menganggap bahwa itu adalah uang. Lalu bagaimanakah ikhtiar penggunaan Dinar dan Dirham tahap demi tahap. Berikut ini adalah tahap-tahapnya dari posisi kita sekarang :

Pertama, penggunaan Dinar dan Dirham pada saat ini belum dikenal luas dan belum diakui sebagai mata uang.

  • Dinar dan Dirham saat ini memang belum diakui oleh pemerintah sebagai mata uang, bahkan Bank Indonesia ( BI ) melarang penggunaan dinar dirham sebagai mata uang“Kalau mengacu pada Undang-Undang Mata Uang, alat pembayaran yang terjadi di

Indonesia itu harus rupiah,” ungkap Adnan saat ditemui di Kantor Bank Indonesia, Kamis (16/8) seperti dilansir Detik.com. Bahkan tidak hanya dilarang, ancaman kurungan penjarapun bisa diberikan kepada siapa saja yang menggunakan alat pembayaran yang bukan rupiah di wilayah Indonesia.“Sanksinya pidana, itu semua ada di UU Mata Uang, kalau tidak salah penjara 1 tahun dan denda Rp 200 juta kalau tidak salah,” ungkapnya. Adnan mengecualikan, transkasi yang bersifat internasional dan telah ada kesepakatan sebelumnya diperbolehkan untuk menggunakan alat transaksi selain rupiah. “Yang dikecualikan sudah ada kalau diperjanjikan, atau perdagangan internasional,” jelasnya

a. Namun karena mata uang ini berharga bukan karena pengakuan pemerintah sebagaimana mata uang kertas, melainkan karena bendanya sendiri memang berharga (emas 22 karat atau perak murni) maka pemegang mata uang ini memegang nilai tukar yang sesungguhnya, bisa tukarkan dengan barang berharga lain apapun dan kapanpun dia mau.

Kedua, karena nilai mata uang Dinar dan Dirham melekat pada barangnya sendiri, tidak ada pihak luar yang bisa merusak atau menghancurkan nilainya (Irfani Fitri Azizah, 2003: 90) Oleh karenanya mata uang Dinar dan Dirham dapat digunakan sebagai simpanan yang paling aman nilainya dibandingkan dengan nilai mata uang Rupiah, Dollar AS dan uang fiat lainnya di seluruh dunia. Nilainya yang terus terappresiasi terhadap mata uang kertas yang membuktikan keperkasaan Dinar selama ini. Karena daya belinya yang tetap tinggi sepanjang masa, Dinar dan Dirham sangat cocok untuk transaksi muamalat yang bersifat jangka menengah sampai panjang di kala mata uang kertas tidak bisa digunakan sebagai alat transaksi yang adil karena nilainya yang terus berubah.

Pinjam meminjam, invetasi bagi hasil (Qirad dan Mudharabah) ataupun kerjasama usaha (musyarakah) dengan berbasis Dinar dan Dirham akan bisa lebih adil baik bagi yang menyediakan modal maupun yang menjalankan usaha (http://geraidinar.com). Umat Islam tidak dianjurkan untuk menumpuk harta yang tidak produktif, oleh karenanya investasi yang aman dan adil sesuai syariah akan menjadi solusi yang efektif bagi surplus pendapatan yang ada di kaum muslimin. Dinar dan Dirham dapat digunakan untuk perencanaan keuangan yang aman, misalnya untuk merencanakan biaya pendidikan anak, pengobatan kesehatan di hari tua, persiapan pensiun dsb.

Perlunya dana ini diinvestasikan adalah untuk menjaga minimal agar Dinar tidak hanya disimpan sehingga tidak produktif dan tergerus oleh zakat, itulah sebabnya dalam Islam bahkan ketika kita mendapat amanah untuk mengelola anak yatimpun sangat dianjurkan untuk mengelola dana tersebut untuk kepentingan yang produktif agar tidak habis terkena zakat.

Secara fisik Dinar dan Dirham untuk kepentingan tabungan, investasi, muamalah atau bahkan untuk ibadah (membayar zakat misalnya) dapat dibeli di berbagai tempat penjualan dinar yang tersebar di berbagai kota di seluruh Indonesia. Kedua, penggunaan Dinar dan Dirham pada saat ini mulai dikenal luas tetapi belum diakui sebagai uang. Dalam tahap ini ketika Dinar dan Dirham sudah mulai dikenal secara luas, maka penggunaannya untuk kepentingan transaksi antara sesama pengguna dinar dapat dioptimalkan. Saat ini dapat menggunakan mobile dinar (www.mdinar. com) untuk saling bertransaksi antar pengguna dinar kemudian di Dubai ada pula E-Dinar yang memfasilitasi antara pemegang account E-Dinar dengan pedagang atau penjual jasa yang juga sudah melayani pembayaran dengan menggunalan E-Dinar (www.GeraiDinar.com).

Contoh lain dari penggunaan Dinar di zaman modern ini adalah menggunakannya sebagai kartu tagih (Charge Card) yang berbasis Dinar sebut saja Dinar Card. Cara beroperasinya mirip dengan kartu sejenis yang berbasis uang kertas, hanya setiap ada transaksi ditagihkan ke account dinar dari pemegang kartu yang bersangkutan.

Contoh berikutnya yang juga bisa diperkenalkan pada tahap ini adalah penggunaan Dinar sebagai basis Mobile Payment System (MPS) yang teknologinya sedang diperebutkan secara ketat oleh para pemain MPS dunia. Dengan teknologi MPS ini, telepon genggam yang saat ini sudah dimiliki. ratusan juta penduduk dunia dapat berubah menjadi alat pembayaran yang efektif dari pengguna yang satu ke pengguna lainnya. Dengan teknologi MPS ini, uang Dinar dapat digunakan sepraktis uang manapun di dunia, namun tetap dengan keunggulannya yang hakiki yaitu nilai yang tidak bisa rusak atau dirusak oleh spekulan mata uang, Dinar juga akan selalu bisa diklaim kembali uang fisiknya sehingga akan tetap paling aman dari sisi resiko kejahatan penjahat-penjahat era cyber yang semakin canggih.

Ketiga, penggunaan Dinar & Dirham secara luas dan siap bersaing dengan mata uang masa depan. Sebenarnya sudah beberapa dasawarsa terakhir ini terjadi persaingan yang sangat keras antar para pelaku perbankan dan pelaku teknologi informasi dunia untuk bersaing mendefinisikan uang masa depan. Berikut adalah contoh-contoh persaingan tersebut.

Beberapa nama perusahaan yang relatif belum terkenal, telah melahirkan berbagai uang untuk zaman cyber ini dengan nama-nama seperti Mondex, E-Cash, Digi Cash, Cyber Cash, Gold Money, E-Gold, E-Dinar, dan M-Dinar. Uang-uang cyber ini telah menemukan pasarnya sendiri-sendiri namun belum dikenal secara luas oleh masyarakat kebanyakan. Sementara itu perusahaan dengan nama global seperti Microsoft, Visa & Citicorp tentu tidak mau ketinggalan. Mereka tentu sudah lama juga melihat fenomena dan peluang ini, Citicorp bahkan telah menggagas apa yang mereka sebut sebagai Electronic Monetary System ( M. Iqbal, 2009: 211). Namun apapun nantinya yang berjaya di dunia cyber, mungkin bukan Rupiah, bukan juga US dolar atau Euro.

Mata uang yang akan lahir untuk dunia masa depan ini akan berlaku universal tidak mengenal batas Negara dan mungkin juga bisa lepas dari pengawasan bank sentral dari masing-masing negara. Bahkan untuk transaksi dengan uang masa depan tersebut bisa jadi tidak lagi membutuhkan perantaraan institusi perbanka maka dengan melalui tahapan-tahapan tersebut di atas dan peluang-peluang yang akan selalu muncul dalam kembalinya Dinar & Dirham sebagai alat tukar dalam sistem moneter internasional adalah sebuah keniscayaan seperti Hadits dalam Musnad Imam Ahmad Diriwayatkan oleh Abu Bakar ibnu Abi Maryam bahwa beliau mendengar Rasulullah SAW bersabda; “Masanya akan tiba pada umat manusia, ketika tidak ada apapun yang berguna selain Dinar dan
Dirham.”


Sumber :  Ali Mursid, SMPI Sunan Kalijaga Batealit Jepara, Indonesia, Ikhtiar menjadikan Dinar-Dirham Sebagai Mata Uang Indonesia

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here