Home Pahlawan Perjuangan KH Hasyim Asy’ari Melawan Penjajah

Perjuangan KH Hasyim Asy’ari Melawan Penjajah

332
0

SEJARAHONE.ID – KH Hasyim Asy’ari lahir pada 10 April 1875 (24 Dzulqaidah 1287 H) di Desa Gedang, Kecamatan Diwek, Kabupaten Jombang, Jawa Timur. Selain sebagai pahlawan nasional yang ditetapkan pada 17 November 1964 melalui Keppres Nomor 294 Tahun 1964, KH Hasyim Asy’ari merupakan pendiri dari Ormas Islam Nahdlatul Ulama (NU).

Dalam lingkungan ulama pesantren, ia dikenal dengan gelar Hadratus Syeikh atau maha guru. Perjuangan beliau melawan penjajah dibuktikan ketika KH Hasyim Asy’ari mengeluarkan fatwa mengenai resolusi jihad, bahwa membela negara merupakan bagian dari ajaran agama Islam.

Sehingga banyak umat Islam yang tergerak dan yakin dalam memperjuangkan negara Indonesia. KH Hasyim Asy’ari adalah putra dari Kyai syari dan Nyai Halimah. Ia menjadi putra ketiga dari 11 bersaudara. Dari garis keturunan ibunya, KH Hasyim Asy’ari merupakan keturunan kedelapan dari Jaka Tingkir (Sultan Pajang).

Lahir dari keluarga pesantren, KH Hasyim Asy’ari belajar nilai dan dasar-dasar Islam secara kokoh. Ayahnya merupakan pengasuh pesantren di daerah Jombang bagian selatan.

Sejak umur 13 tahun, KH Hasyim Asy’ari sudah membantu ayahnya mengajar santri-santri di pesantren. Hingga pada umur 15 tahun, ia berkelana memperdalam ilmu ke beberapa pesantren.

Diawali dengan menjadi santri di Pesantren Wonokoyo, Probolinggo. KH Hasyim Asy’ari kemudian pindah ke Pesantren Langitan, Tuban. Lalu ia juga melanjutkan ke Pesantren Trenggilis, Semarang dan Kademangan, Bangkalan.

KH Hasyim Asy’ari juga pernah belajar di tanah suci, Mekkah pada tahun 1893 M dan menetap selama 7 tahun sebelum pulang ke tanah air dan mengajar di pesantren milik kakeknya di Ngedang, Jombang bagian utara.

Pada 1899 M, KH Hasyim Asy’ari mendirikan Pondok Pesantren Tebuireng. Awalnya santri Ponpes Tebuireng berjumlah 28 orang, kemudian bertambah hingga ratusan orang, hingga di akhir hayatnya telah mencapai ribuan orang.

HIngga pada 25 Juli 1947 KH Hasyim Asy’ari wafat dan dimakamkan di Tebu Ireng, Jombang. Perjuangan KH Hasyim Asy’ari dalam melawan penjajah

Pertama, melalui Pasukan Hizbullah dan Sabilillah. Pada masa 1943-1945, hampir dari setiap pondok pesantren membentuk laskar dan barisan dalam memerjuangkan kemerdekaan tanah air. Di antaranya ialah Laskar Hizbullah dan Sabilillah.

Didirikan saat pemerintahan Jepang hampir berakhir, yakni pada 8 Desember 1944. Berisikan para santri dari berbagai pondok pesantren. KH Hasyim Asy’ari, saat itu menjadi pimpinan Majelis Syuro Muslimin Indonesia (Masyumi) senantiasa menyemangati para pejuang dan memberikan glembengan langsung kepada pejuang laskar.

Kedua, mengeluarkan fatwa Resolusi Jihad. Berangkat dari pernyataan Soekarno tentang hukum mempertahankan kemerdekaan bagi umat Islam, KH Hasyim Asy’ari pada 17 September 1945 berfatwa jika perjuangan membela tanah air merupakan sebagai jihad fi sabilillah.

Hingga pada 21-22 Oktober 1945 PBNU menggelar rapat konsul NU se-Jawa dan Madura, PBNU mengeluarkan Resolusi Jihad sekaligus menguatkan fatwa jihad Rais Akbar NU Hadratus Syaikh KH Hasyim Asy’ari.

Ketiga, berdakwah dengan memanfaatkan Jepang. Kala Indonesia dijajah Jepang, dibentuk badan yang mengurusi keagamaan atau Shumubu dan KH Hasyim Asy’ari diminta menjadi ketua. Kedekatan KH Hasyim Asy’ari dengan Jepang membuat lahirnya Laskar Hizbullah dan Pembela Tanah Air (Peta) yang dilatih langsung oleh Jepang.

Keempat, membesarkan Hati Umat Islam soal Dasar Negara. Setelah Bangsa Indonesia diproklamasikan oleh Soekarno dan Mohammad Hatta pada 17 Agustus 1945, terdapat pertentangan antar tokoh tentang dasar negara. Hal tersebut disikapi dengan membentuk panitia sembilan dan menghasilkan piagam jakarta. Tetapi mendapat penolakan dari berbagai daerah.

Wahid Hasyim yang merupakan putra dari KH Hasyim Asy’ari menyampaikan pesan agar tujuh kata sila pertama “dengan kewajiban menjalankan Syariat Islam bagi Pemeluknya” dihapus.

Pesan Wahid Hasyim tidak jauh dari pelajaran ayahandanya semasa hidup tentang mempertahankan negara merupakan ajaran agama. Sehingga pesan itu disepakati dan sampai kini dikenal dengan Pancasila sebagai dasar negara Republik Indonesia.

 

 

TULISKAN PENDAPAT KAMU?

Please enter your comment!
Please enter your name here