Home Pahlawan Perjuangan Jenderal Soedirman Mempertahankan Kemerdekaan

Perjuangan Jenderal Soedirman Mempertahankan Kemerdekaan

82
0

Oleh Hamzah Afifi

SejarahOne.id – Peristiwa proklamasi 17 Agustus 1945 bukanlah titik batas akhir perjuangan kemerdekaan Indonesia. Setiap bangsa yang merdeka tentunya terus berjuang untuk mengisi dan mempertahankan kemerdekaan, karena kemerdekaan yang diproklamasikan merupakan manifestasi politik dari kesiapan rakyat Indonesia untuk selangkah lebih maju melewati proses penyempurnaan arti dari kemerdekaan yang sesungguhnya.

Proklamasi kemerdekaan Indonesia merupakan titik awal untuk bersama-sama merasa sebagai satu bangsa dengan satu bahasa satu wilayah yang sama untuk membangun bangsa Indonesia. Sejak dibentuknya Tentara Keamanan Rakyat (TKR), pada tanggal 5 Oktober 1945, Soekarno telah menunjuk Soeprijadi sebagai Menteri Keamanan Rakyat.

Jenderal Soedirman kemudian membuktikan, bahwa beliau pantas menjadi “Panglima di antara Panglima”. Di Ambarawa, dengan pasukan yang praktis compang-camping, ia menghalau serdadu Belanda dan sekutu yang merupakan tentara dengan persenjataan lengkap. Karena ia dipilih, bukan diangkat, Jenderal Soedirman menjunjung kewajiban moral untuk membuktikan kepada pemiliknya bahwa mereka tidak keliru.

Adanya “mandat”, Jenderal Soedirman melangkah dan mengambil berbagai keputusan yang dikemudian hari menimbulkan perbantahan. Ketika Revolusi kemerdekaan Indonesia meletus, Jenderal Soedirman yang sedang berada di Jawa Barat bergegas untuk pulang ke Banyumas. Di daerah ini Jenderal Soedirman mengambil langkah-langkah untuk menyusun organisasi Badan Keamanan Rakyat (BKR).

Badan yang telah diumumkan pendiriannya oleh pemerintah tanggal 22 Agustus 1945 ini terdiri dari beberapa himpunan para alumni militer pada zaman Jepang, antara lain Peta, Heiho, Seinendan, Keibodan, Kaigun,dan Keisatsutai (Polisi). Pada tanggal 5 Oktober 1945, Jenderal Soedirman menggabungkan satuan-satuan BKR di Banyumas menjadi satuan-satuan Tentara Keamanan Rakyat (TKR).

Semua anggota TKR yang berada di Banyumas tersebut kemudian ditetapkan menjadi Divisi V Banyumas. Jenderal Soedirman menjadi panglimanya dengan pangkat kolonel. Saat Jenderal Soedirman dalam keadaan sakit dan dalam perawatan di rumahnya di Bintaran, Yogyakarta, situasi politik nasional semakin memanas.

Pada bulan November 1948, hubungan antara Indonesia dengan Belanda semakin memburuk. Serangkaian usaha diplomasi berjalan tersendat-sendat. Belanda terus berusaha meningkatkan kekuatan bersenjatanya. Menghadapi perkembangan yang semakin memburuk itu, sekalipun dalam keadan sakit, Jenderal Soedirman tetap melakukan koordinasi dengan para komandan agar semua kekuatan bersenjata selalu bersiaga.

Pasukan Indonesia mendapat tugas dari Jenderal Soedirman untuk menguasai jalan besar yang menghubungkan Ambarawa dan Semarang. Pada pukul 16.00 telah ada laporan bahwa mereka telah ada laporan bahwa mereka telah berhasil menguasai sasarannya. Setelah menerima laporan tersebut, Jenderal Soedirman memerintahkan agar jalan besar yang telah dikuasai itu dipertahankan.

Serangan umum yang dilancarkan pasukan TKR merupakan suatu gerakan pendobrak. Pasukan pemukul bergerak dari Barat ke arah Timur menuju Semarang. Sedangkan pasukan-pasukan yang bergerak dari arah samping kanan dan kiri merupakan suatu gerakan Supit Udang yang kedua ujungnya bertemu di bagian luar kota Ambarawa.

Palagan Ambarawa telah memberikan dua makna besar dalam perjuangan bersenjata bangsa Indonesia setelah kemerdekaan. Adapun yang pertama adalah lahirnya seorang pemimpin militer sejati, yaitu Jenderal Soedirman. Kedua adalah terbuktinya kepeloporan infantri. Oleh karena itu tanggal 15 Desember ditetapkan sebagai hari Infantri.

Palagan Ambarawa merupakan kebangsaan bagi Korps Infantri yang dikenal dengan ‘Thee Queen of Battlefield’. Demikian pengorbanan dan perjuangan seorang Panglima Besar (Pangsar) Jenderal Soedirman yang tetap berjuang di tengah-tengah anak buahnya dengan kondisi paru-paru yang tinggal sebelah ketimbang harus tinggal di kota untuk berobat demi mempertahankan NKRI.

Untuk mengenang dan menghargai jasa Jenderal Soedirman, pemerintah memberikan penghargaan tertinggi berupa gelar Pahlawan Nasional pada tanggal 20 Mei 1970. Menjelang memperingati hari Angkatan Bersenjata Republik Indonesia ke-52, pemerintah Republik Indonesia menganugerahi pangkat kehormatan Jenderal Besar TNI atau Jenderal Bintang Lima kepada Panglima Besar Jenderal Soedirman berdasarkan Keputusan Presiden Nomor 44/ABRI/1997.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here