Home Merdeka Perjuangan Hajah Maemunah Mempertahankan Kemerdekaan RI di Mandar

Perjuangan Hajah Maemunah Mempertahankan Kemerdekaan RI di Mandar

87
0

Oleh Muhammad Hamka Halim

SejarahOne.id – Bangsa Indonesia masuk ke dalam masa penjajahan sejak awal abad ke 17. Kedatangan bangsa Eropa diawali oleh bangsa Portugis dan bangsa Spanyol untuk mengadakan penjajahan keliling dunia. Kedua negara ini kemudian mengelilingi dunia untuk mencari daerah jajahan baru maka sampailah bangsa-bangsa tersebut di Asia, termasuk Indonesia.

Berabad-abad lamanya wilayah yang termasuk kawasan Indonesia hidup terpecah belah dalam status kerajaan sektoral yang tidak pernah akur satu sama lainnya. Hingga datangnya bangsa bangsa-bangsa penjajah, bangsa yang hidup terpecah belah ini dengan sangat mudah berhasil ditaklukkan dan dikuasai satu demi satu kerajaan membuat bangsa Indonesia menderita.

Pada tahun 1630 Belanda mulai menanamkan kekuasaannya dengan menguasai perdagangan di semenanjung Indonesia. Pada awal tahun 1942 kekuasaan Belanda mulai goyah dengan datangnya para tentara Jepang dan menyapu bersih pasukan-pasukan Belanda dan sekutu serta pengambilalihan pemerintahan.

Tentara Jepang membutuhkan waktu berbulan-bulan hingga kekuatan militer Belanda tumbang kemudian membagi Indonesia menjadi tiga wilayah yaitu Sumatera dibawah pimpinan angkatan darat ke-25, Jawa dan Madura dibawah pimpinan angkatan darat ke-7 serta Kalimantan dan Indonesia Timur yang berada dibawah pimpinan angkatan laut.

Perjuangan bangsa Indonesia dalam mewujudkan negara Republik Indonesia sebagai suatu bangsa yang merdeka dan berdaulat, berdasarkan proklamasi kemerdekaan tanggal 17 Agustus 1945 ternyata tidak semudah membalikkan telapak tangan. Sebab, pemerintah Belanda bukan saja menolak memberikan pengakuan kepada bangsa Indonesia yang telah menyatakan kemerdekaannya, akan tetapi juga berusaha untuk memulihkan kembali pengaruh dan kedudukan kekuasaan pemerintah kolonial Belanda di wilayah bekas jajahannya (Hindia Belanda).

Hal ini berkaitan dengan sikap sekutu yang tampil sebagai pemenang dalam perang dunia ke II, yang tidak mengakui sepenuhnya proklamasi kemerdekaan dan pemerintah Republik Indonesia. semua ini terjadi sebagai akibat dari proses persiapan kemerdekaan Republik Indonesia yang mendapat dukungan dari Jepang, dan proklamasi kemerdekaan serta penyelenggara pemerintah Republik Indonesia merupakan tokoh-tokoh yang teribat kerjasama dengan pihak Jepang.

Tambahan pula bahwa perumusan pembenukan negara yang dilaksanakan oleh PPKI merupakan wadah ciptaan pemerintah militer Jepang. Itulah sebabnya pihak Inggris dan Australia yang mewakili sekutu untuk menyelesaikan persoalan di Indonesia, tampaknya membenarkan keinginan NICA yang hendak memulihkan kembali pengaruh dan kedudukan kekuasaan pemerintah kolonial Belanda di Indonesia.

Kembalinya Belanda menjajah Indonesia didasarkan pada hasil konferensi Postdam yang melahirkan delapan keputusan yang antara lain pada butir keenam yaitu memperbarui/mengembalikan pemerintahan sendiri dan pendidikan untuk mencapai cita-cita demokrasi. Disamping perjanjian Postdam, pada tanggal 24 Agustus di Chequers dekat kota London, lahir pula suatu perjanjian Civil Affair Agrement.

Landasan perjanjian ini adalah merupakan kerjasama antara Inggris dan Belanda, dalam rangka usaha Belanda untuk menjajah kembali Indonesia. Dalam perjanjian tersebut Inggris memberikan wewenang sepenuhnya kepada Belanda untuk mengatur Indonesia. Berdasarkan pada perjanjian tersebut, pada bulan September 1945 pasukan sekutu (Inggris dan Australia) yang ikut pula membonceng tentara NICA mendarat di kota-kota besar seluruh Indonesia.

Awal kedatangan NICA disambut baik oleh rakyat Indonesia. Namun hal ini tidak berlangsung lama setelah NICA secara terang-terangan hendak menegakkan kembali pemerintahannya di Indonesia dan sikap Inggris yang tidak menghargai kedaulatan bangsa Indonesia baik pemimpin nasional maupun lokal. Keinginan Belanda untuk menanamkan kembali kekuasannya di Indonesia berdampak besar terhadap kehidupan rakyat. Pergolakan terjadi dimana-mana hampir di seluruh pelosok nusantara baik itu perjuangan secara fisik maupun perjuangan secara diplomasi.

Rombongan pertama tentara sekutu yang bertugas menduduki daerah Sulawesi Selatan tiba di kota Makassar pada tanggal 21 September 1945 dari brigade ke-21 yang dipimpin oleh Brigadir Ivan Dougharty. Pemerintah RI di Makassar dibawah pimpinan Dr Ratulangi awalnya menerima kedatangan tentara sekutu sebab mereka hanya menjalankan mandat yang diberikan yaitu mengurus evakuasi para tawanan perang. Namun didalam pasukan sekutu terdapat pula satu detasemen NICA berjumlah 150 orang dan mereka inilah yang melaksanakan tugas sipil.

NICA dengan dukungan sekutu berusaha menduduki kantor-kantor pemerintahan namun selalu dihalang-halangi rakyat dan pemuda. Kedatangan tentara sekutu di Makassar bukan saja dalam rangka melucuti senjata tentara Jepang dan memelihara keamanan dan ketertiban melainkan membantu Belanda untuk mengembalikan kekuasaannya di Sulawesi Selatan.

Berita tentang pendaratan Sekutu yang mengikutsertakan NICA serta dengan diam-diam membantu pihak Belanda untuk mengembalikan kekuasaannya, diketahui juga oleh para tokoh-tokoh pejuang pergerakan di daerah Polmas. Hal ini disebabkan karena pejuang pergerakan selalu mengadakan kontak atau hubungan komunikasi dengan tokoh-tokoh pejuang lainnya yang berada di Makassar. Disaat-saat nyata kembalinya Belanda hendak menjajah Indonesia lewat tentara Sekutu, maka para tokoh dan pemuda setempat secara terang-terangan pula segera mempersatukan massa dalam suatu wadah organisasi perjuangan.

Terbentuknya suatu kekuatan pergerakan dalam bentuk organisasi kelaskaran di Sulawesi Selatan pada umumnya diprakarsai oleh kepedulian golongan bangsawan. Beberapa kelaskaran terbentuk di berbagai daerah yang ada di Sulawesi Selatan yang dihimpun dalam satu wadah bernama LAPRIS (Laskar Pemberontak Rakyat Indonesia Sulawesi). Di Mandar, munculnya beberapa organisasi kelaskaran tidak hanya diprakarsai oleh kaum bangsawa saja tetapi juga diprakarsai oleh orang-orang yang biasa yang bukan keturunan bangsawan.

Afdeling Mandar pada perang kemerdekaan merupakan sebutan bagi 4 afdeling tingkat II yang ada di Sulawesi Selatan yaitu onderafdeling Polewali, onderafdeling Majene, onderafdeling Mamasa, dan onderafdeling Mamuju. Di Majene, berita mengenai kemerdekaan Republik Indonesia didengar melalui siaran radio dari Australia yang berbahasa Inggris dan Belanda pada 20 Agustus 1945.

Mulai saat itu, para pemuda pejuang di daerah Majene bertekad untuk terus menegakkan, membela, dan mempertahankan kemerdekaan Republik Indonesia yang telah diproklamirkan pada tanggal 17 Agustus 1945. Untuk itu, maka para pemuda pejuang mendirikan berbagai oganisasi perjuangan.

Di majene,muncul beberapa organisasi yang bergerak di berbagai bidang seperti bidang sosial, pendidikan, keagamaan, pengumpulan dana, sampai pada keamanan dan pertahanan. Salah satu organisasi yang bergerak dibidang keamanan dan pertahanan adalah kelaskaran GAPRI 531 (Gabungan Pemberontak Republik Indonesia Kode 5.3.1). GAPRI 531 pada awalnya merupakan suatu organisasi sosial yang bernama PRAMA (Persatuan Rakyat Mandar). Setelah proklamasi kemerdekaan organisasi kembali merubah namanya menjadi PERMAI (Perjuangan Masyarakat Indonesia).

Perjuangan di berbagai daerah yang ada di Indonesia memiliki ciri dan corak tertentu. Di daerah Mandar, Ada ciri khas yang membedakan perjuangan dibanding dengan daerah lain yang ada di Indonesia. Ciri atau corak tersebut adalah keterlibatan wanita dalam perjuangan mempertahankan kemerdekaan Indonesia di daerah Mandar dan menjadi tokoh sentral dalam perjuangan. Di Majene muncul beberapa nama yang menjadi tokoh penting dalam dinamika pergerakan di Mandar.

Satu wanita diantara beberapa wanita yang menjadi tokoh sentral dalam perjuangan mempertahankan kemerdekaan di Majene adalah Hajah (Hj) Maemunah Djud Pantje yang menjadi pemimpin Kelaskaran GAPRI 531 (Gabungan Pemberontak Republik Indonesia Kode 5.3.1). Bersama dengan suaminya yang bernama H. Muh. Djud Pantje, Hj Maemunah menjadi pimpinan suatu kelaskaran terbesar yang ada di Majene yang bertugas dibidang keamanan dan pertahanan dalam rangka perjuangan menegakkan dan mempertahankan kemerdekaan Republik Indonesia.

Hj Maemunah merupakan pahlawan di daerah Mandar yang secara terang-terangan berani menentang Belanda. Ia adalah sosok wanita yang beberapa kali lolos dari maut walaupun beberapa kali tertangkap dan disiksa di tahanan. Ia benar-benar mengabdikan dirinya untuk bangsa dan negara pada saat usianya masih muda. Pada saat jadi guru di Bababulo, ia rela meninggalkan tugasnya sebagai guru untuk ikut bergabung dan menjadi pemimpin salah satu organisasi pergerakan terbesar yang ada di Majene saat itu.

Hj Maemunah melaksanakan tugasnya dengan tekun dan bertanggung jawab. Bahkan ia ikut serta melakukan gerakan-gerakan rahasia bersama rekan seperjuangannya di GAPRI 531. Para pejuang kemerdekaan telah mengikuti keberadaannya sebagai pejuang revolusi terbukti adanya pemberian tanda-tanda jasa oleh negara yang menjadikannya orang yang sangat dihormati sebagai pahlawan di daerah Mandar.

Beberapa perjuangan yang dilakukan oleh para pejuang GAPRI 531, Hj Maemunah memiliki peran yang sentral sebagai pemimpin dari kelaskaran. Sebagai pemimpin, Hj. Maemunah berperan mengorganisir dan menyusun beberapa stategi perjuangan yang dilakukan oleh GAPRI 531. Strategi inilah yang membuat beberapa penyerangan yang dilakukan oleh para pejuang menjadi sangat merepotkan bagi Belanda karena mereka harus mengeluarkan fikiran, tenaga, dan harta untuk menumpas gerakan yang didalangi oleh Hj Maemunah.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here