Home Pahlawan Perjuangan Cut Nyak Dhien, Pahlawan Nasional Wanita dari Aceh

Perjuangan Cut Nyak Dhien, Pahlawan Nasional Wanita dari Aceh

636
0

Oleh Hamzah Afifi

Cut Nyak Dhien adalah Pahlawan Nasional wanita dari Aceh yang melakukan perjuangan di masa sejarah Perang Aceh melawan penjajah Belanda. Saat wilayah VI Mukim diserang oleh Belanda, beliau mengungsi, sementara suaminya bernama Ibrahim Lamnga ikut serta berjuang melawan Belanda. Gugurnya Ibrahim Lamnga di tanah Gle Tarum pada tanggal 29 Juni 1878 kemudian menambah semangat Cut Nyak Dhien lebih kuat untuk melawanan Belanda.

Cut Nyak Dhien terlahir dari keluarga ningrat yang berpegang teguh terhadap ajaran Islam di Aceh Besar pada tahun 1848. Tepatnya Wilayah VI Mukim. Ayah Cut Nyak Dhien bernama Teuku Nanta Seutia, sebagai hulubalang VI Mukim. Sedangkan ibunya anak dari hulubalang Lampageu.

Di masa kecil, Cut Nyak Dhien memperoleh pendidikan ilmu agama dari orang tua atau pun guru agama dan ilmu rumah tangga seperti ilmu memasak, melayani keluarga serta yang menyangkut rumah tangga dari orang tuanya. Umur 12 tahun, Cut Nyak Dhien sudah dijodohkan orang tuanya tahun 1862 dengan Teuku Cek Ibrahim Lamnga. Putra dari hulubalang Lamnga XIII.

Pada 26 Maret 1873, Belanda menyatakan perang kepada Aceh. Serangan dimulai dengan menembaki meriam ke daratan Aceh dari kapal perang bernama Citadel van Antwerpen. Awal dari Perang Aceh ini pun meletus. Pada perang tahap pertama yang terjadi 1873 hingga 1874, Aceh yang dipimpin oleh Sultan Machmud Syah dan Panglima Polim bertempur melawan Belanda yang dipimpin Johan Harmen Rudolf Kohler.

Di bawah pimpinan Johan Harmen, Belanda berangkat dengan kekuatan 3.198 prajurit dan mendarat pada tanggal 8 April 1873. Mereka langsung menyerang serta berhasil menguasai Masjid Raya Baiturrahman dan membakarnya. Beruntung, Kesultanan Aceh berhasil memenangkan perang pertama. Ibrahim Lamnga yang berlaga di garis depan kembali dengan membawa kemenangan, sementara Kohler sendiri tewas tertembak.

Perang tahap kedua dimulai tahun 1874-1880. Belanda melakukan serangan lagi di bawah pimpinan Jenderal Jan van Swieten. Daerah VI Mukim berhasil ditaklukkan Belanda pada tahun 1873 sedangkan Keraton Sultan berhasil ditaklukkan pada tahun 1874. Cut Nyak Dhien yang tinggal di Daerah VI Mukim dan bayinya akhirnya mengungsi bersama para ibu rumah tangga dan rombongan lainnya pada 24 Desember 1875.

Suami Cut Nyak Dhien berangkat bertempur untuk merebut kembali daerah VI Mukim dari tangan Belanda. Ibrahim Lamnga yang bertempur dengan penuh perjuangan di Gle Tarum, akhirnya gugur pada 29 Juni 1878. Kematian suaminya ini membuat Cut Nyak Dhien diselimuti kemarahan dan bersumpah akan menghancurkan para penjajah Belanda.

Teuku Umar, salah satu tokoh penting pejuang Aceh, melamar Cut Nyak Dhien. Awalnya Cut Nyak Dhien menolak lamaran itu tapi akhirnya menerima setelah Teuku Umar mengizinkan beliau untuk ikut bertempur. Bergabungnya Cut Nyak Dhien berhasil meningkatkan moral semangat perjuangan Aceh melawan Belanda. Perang berlanjut secara gerilya dan berkobarlah “perang fii sabilillah”. Pada tahun 1875, Teuku Umar melakukan melakukan pendekatan dengan para Belanda dan hubungannya dengan para penjajah itu semakin kuat.

Pada tanggal 30 September 1893, Teuku Umar bersama 250 orang pasukannya pergi ke Kutaraja untuk menyerahkan diri kepada Belanda. Tentu Belanda sangat senang karena musuh yang sangat berbahaya mau membantu mereka. Sehingga Belanda memberikan Teuku Umar julukan bernama Teuku Umar Johan Pahlawan. Lebih dari itu, Teuku Umar menjadi komandan unit pasukan Belanda dengan kekuasaan yang cukup besar.

Teuku Umar merahasiakan rencana untuk menipu penjajah Belanda, meski ia sudah dituduh sebagai pengkhianat oleh rakyat Aceh. Cut Nyak Dien terus berusaha menasihatinya agar kembali ke sisi rakyat Aceh untuk kembali melawan Belanda. Namun, Teuku Umar masih terus berhubungan dengan Belanda demi mencoba siasatnya.

Teukur Umar lalu mempelajari taktik dan strategi tentara Belanda, sementara perlahan tapi pasti, dia mengganti sebanyak mungkin orang Belanda di unit yang berada di bawah tanggung jawabnya. Ketika jumlah tentara Aceh yang berada di pasukan tersebut cukup, Teuku Umar menipu tentara Belanda dan ia pun berencana menyerang basis Aceh. Sebenarnya Teuku Umar hanya mencuri semua perbekalan dan logistik yang diberikan oleh Belanda. Dia berangkat kembali ke Aceh dan tidak pernah kembali.

Kejadian ini membuat penjajah Belanda sangat marah dan melakukan operasi besar untuk menangkap Teuku Umar dan Cut Nyak Dhien. Karena sudah memiliki senjata milik Belanda, tentara Aceh berhasil mengimbanginya. Bahkan Jenderal Jakobus Ludovicus terbunuh. Cut Nyak Dhien dan Teuku Umar terus menyerang semuanya bahkan banyak jenderal Belanda harus kembali diganti oleh pasukan elit bernama De Marsose yang dikenal tanpa ampun. Pasukan ini berhasil membuat rakyat Aceh ketakutan.

Ketakutan ini dimanfaatkan Jenderal Benedcitus. Dia menyewa orang Aceh untuk menjadi mata-mata dan berhasil mengetahui rencana Teuku Umar untuk menyerang Meulaboh. Karena informasinya bocor, Teuku Umar gugur tertembak. Anak Cut Nyak Dhien menangis karena kematian ayahnya. Kini giliran Cut Nyak Dhien yang memimpin perlawanan bersama pasukan kecilnya. Hingga pasukannya hancur pada tahun 1901 setelah Belanda mempelajari cara berperang Aceh. Cut Nyak Dhien sendiri sudah tua dan sering terkena penyakit. Hingga dia berhasil ditangkap oleh Belanda. Perjuangan pun diteruskan oleh Cut Gambang.

Kekalahan Aceh membuat keadaan semakin memburuk dan Cut Nyak Dhien ditangkap. Setelah ditangkap, beliau dibawa ke Banda Aceh dan dilakukan perawatan. Dua penyakitnya seperti encok dan rabun perlahan-lahan sembuh. Karena terlihat belum menyerah, Cut Nyak Dien akhirnya dibawa ke Sumedang di Jawa Barat. Belanda tidak ingin keberadaannya di Aceh bisa mempertahankan semangat perlawanan rakyat Aceh. Selain itu karena Cut Nyak Dhien terus berhubungan dengan pejuang yang masih bertekad kuat untk meneruskan perjuangan

Bersama tahanan pejuang Aceh yang lain, Cut Nyak Dhien dibawa ke Sumedang. Dia menarik perhatian Bupati Suriaatmaja dan para tahanan laki-laki juga memperhatikan Cut Nyak Dhien. Namun identitas asli Cut Nyak Dhien tetap dirahasiakan Belanda. Ia ditahan bersama dengan seorang ulama bernama Ilyas. Ulama itu cepat menyadari bahwa Cut Nyak Dhien adalah seorang yang cukup ahli dalam agama Islam. Sehingga Cut Nyak Dhien mendapat nama julukan, yaitu Ibu Perbu.

Cut Nyak Dhien menghembuskan nafas terakhir pada 6 November 1908 karena usia tua. Di akhir hayatnya beliau lebih dikenal dengan nama Ibu Perbu dan makamnya baru ditemukan pada tahun 1959 setelah dilakukan pencarian berdasarkan permintaan Gubernur Aceh Ali Hasan yang menjabat saat itu. Ibu Perbu diangkat oleh Presiden Soekarno sebagai Pahlawan Nasional Indonesia.

Makam Cut Nyak Dhien ini berhasil ditemukan pada tahun 1959 setelah Gubernur Aceh Ali Hasan pada saat itu meminta untuk melakukan pencarian. Pencarian makam Cut Nyak Dhien dilakukan setelah mendapatkan data yang ditemukan di Belanda. Masyarakat Aceh yang berada di Sumedang sering menggelar acara pertemuan. Pada acara tersebut, para peziarah berangkat ke makam Cut Nyak Dhien dengan jarak sekitar dua kilometer.

Makam Cut Nyak Dhien dilakukan pemugaran pertama pada 1987. Bukti pemugaran bisa terlihat di monumen peringatan yang berada di dekat pintu masuk. Di monumen itu tertulis peresmian makam yang ditandatangani langsung oleh Gubernur Aceh Ibrahim Hasan pada 7 Desember 1987. Makam Cut Nyak Dhien dilindungi oleh pagar besi yang digabung bersama beton dengan luas sebesar 1.500 m2.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here