Home Merdeka Peristiwa Yamato, Nasionalisme Arek Surabaya

Peristiwa Yamato, Nasionalisme Arek Surabaya

74
0
Peristiwa Yamato, setelah Pemuda Merobek kain biru bendera Belanda

Oleh. Hana Wulansari

SejarahOne.id – Peristiwa sejarah di Hotel Yamato, akan menjadi pelajaran bagi generasi penerus untuk membela republik dengan gagah berani. Peristiwa terjadi  pada tanggal 1945 September di Surabaya, Indonesia yakni ketika pemuda Surabaya merobek bagian biru bendera Belanda. 

Apa yang anda ketahui tentang Insiden Hotel Yamato ? - Sejarah ...

Ilustrasi Peristiwa Hotel Yamato

Berawal pada 15 September 1945, tentara Inggris datang ke Indonesia yang tergabung dalam AFNEI (Allied Forces Netherlands East Indies). AFNEI yang merupakan bikinan blok sekutu Inggris dan Belanda, awalnya bertugas melucuti tentara Jepang di Indonesia, membebaskan para tawanan, serta mengembalikan tentara Jepang ke negerinya.

Hanya saja, kedatangan tentara Inggris diboncengi oleh NICA (Netherlands Indies Civil Administration) yang membawa misi mengembalikan Indonesia sebagai negeri jajahan Hindia Belanda. Hotel Yamato direncanakan menjadi markas para tentara sekutu saat itu. 18 September 1945 pukul 21.00, sekelompok orang Belanda di bawah pimpinan Mr. W.V. Ch Ploegman mengibarkan bendera Belanda di tiang tertinggi itu. Ploegman sendiri merupakan utusan kerajaan Belanda sebagai pemimpin administratif di Surabaya.

Tanggal 19 September pagi. Setelah ramai kabar yang sampai ke seluruh pelosok Surabaya, ribuan anggota massa yang didominasi pemuda ramai mendatangi hotel tersebut. Pengibaran bendera Belanda, dianggap tidak menghormati harga diri Indonesia yang telah dinyatakan berdaulat. Hariyono dan Kusno, dua pemuda yang selalu tertulis dalam buku sejarah sekolah, berhasil menurunkan bendera Belanda dan merobek warna biru dari bendera Belanda tersebut.

Pasca Kemerdekaan

Pada 17 Agustus 1945, Sukarno dan Hatta mendeklarasikan kemerdekaan Indonesia di Jakarta, dua hari setelah kaisar Jepang menyerah di Pasifik. Berita kemerdekaan tersebar di seluruh nusantara, rakyat Indonesia merayakan kemerdekaan. Pada September 1945, Komandan senior Jepang di Surabaya, Wakil Laksamana Shibata Yaichiro, memberikan dukungannya  dan memberi akses ke persenjataan Indonesia. Pada tanggal 3 Oktober, ia menyerah kepada seorang kapten Angkatan Laut Belanda, perwakilan Sekutu pertama yang tiba. Yaichiro memerintahkan pasukannya untuk menyerahkan senjata mereka yang tersisa kepada orang Indonesia.

Pada tanggal 31 Oktober 1945, Soekarno mengeluarkan keputusan bahwa pada tanggal 1 September 1945 seluruh  rakyat Indonesia harus mengibarkan Merah Putih (bendera Merah Putih, bendera nasional Indonesia). Jadi, pada tanggal 1 September 1945, rakyat mulai mengibarkan bendera. Pada saat pasukan Sekutu tiba pada akhir Oktober 1945.

Pada tanggal 18 September 1945, tentara sekutu dan tentara Belanda atas nama AFNEI (Pasukan Sekutu Hindia Belanda) bersama-sama dengan intercross datang ke Surabaya dari Jakarta. Tentara Sekutu dan tentara Belanda mendirikan markas mereka di Hotel Yamato (Jalan Tunjungan 65, Surabaya)  di Jalan Tunjungan 80, Surabaya. Keduanya mendirikan markas besar mereka. Sejak saat itu, Hotel Yamato didirikan sebagai kantor pusat RAPWI (Rehabilitasi Tahanan Sekutu Perang dan Internees).

Pada tanggal 19 September 1945 pukul 9 WIB, sekelompok pasukan Belanda yang didukung oleh Jepang mengibarkan bendera Belanda di luar Hotel Yamato (dulunya Hotel Oranje, sekarang Hotel Majapahit) di Surabaya, Jawa Timur. Milisi nasionalis Indonesia, yang melihatnya keesokan hari menjadi sangat marah.  Berita ini menyebar dengan cepat ke seluruh kota Surabaya. Massa membanjir di jalan depan dan halaman depan Hotel Yamato, dan juga di gedung samping hotel, sementara kelompok terdiri dari beberapa tentara Jepang terbangun di halaman belakang.

“Hotel Yamato, titik awal mendidihnya darah rakyat Surabaya,” kata sejarawan sekaligus guru besar Universitas Surabaya, Prof Dr Aminuddin Kasdi.

Ketika itu, Sudirman  wakil residen Surabaya datang mewakili massa ke Hotel Yamato untuk bernegosiasi sebagai perwakilan otoritas Indonesia. Dia dipandu oleh Sidik dan Hariyono. Sudirman, Sidik, dan Haryono bertemu dengan kepala kelompok Belanda, Ploegman. Mereka mencoba bernegosiasi dengan Ploegman untuk mengibarkan merah putih. Tapi, Ploegman menolak dan negosiasi menjadi ketegangan. Ploegman mengambil senjatanya dan menembakkan perwakilan Indonesia,  hal itu membuat Sidik maju untuk melindungi tuannya dan mereka bertarung. Sidik menembak Ploegman dan menyebabkan kematian, sementara Sidik juga dibunuh oleh Belanda yang kaget mendengar senjata yang ditembak oleh Ploegman. Sudirman dan Hariyono berhasil melarikan diri.

Insiden menyebar ke massa di luar hotel, dan situasi di luar kendali. Massa terpaksa membuka gerbang hotel dan pergi ke loby kemudian melawan Jepang dan Belanda. Hariyono juga kembali ke hotel dan langsung ke atap bersama Kusno Wibowo. Salah satunya memanjat tiang bendera dan merobek porsi biru bendera Belanda yang dikibarkan di atas hotel untuk mengubahnya menjadi bendera Indonesia merah putih. Massa, ketika mereka melihat aksi itu, berteriak ′′ Merdeka!” (Kemerdekaan! ).

Insiden ini menyebabkan pertempuran pertama antara AFNEI dan Indonesia pada 27 Oktober 1945. Insiden lain pada tanggal 31 Oktober 1945 menyebabkan kematian Brigadir Jenderal Aubertin Walter Sothern Mallaby, komandan brigade Inggris di Surabaya. Kematiannya merupakan penyebab utama dari pertempuran terbesar revolusi Indonesia, yang dikenal sebagai ′′ Pertempuran Surabaya.”

nilah Surabaya, kota pahlawan yang memiliki banyak cerita heroik dalam perjalanannya. Surabaya terkenal dengan pemudanya yang gagah berani. Maka tak berlebihan, dalam salah satu versi, nama daerah ini diambil dari dua penggal kata: Sura yang berarti berani, dan Baya yang berarti bahaya. Surabaya: kampungnya para pemberani dalam tiap ancaman bahaya.

Penghormatan untuk kota inilah yang juga membuat tiap 10 November ditetapkan sebagai Hari Pahlawan. September menuju November 1945, tak cukup rasanya merekam kembali semua peristiwa yang terjadi di ibu kota Jawa Timur ini. Tiap sudut di kota Surabaya, hampir semua menjadi saksi bisu perjuangan arek-arek Suroboyo mempertahankan kemerdekaan. Seperti Hotel Yamato atau Hotel Majapahit.

Hotel Majapahit yang berada di Jalan Tunjungan nomor 65, tak akan membekas kalau tidak pernah terjadi peristiwa perobekan Bendera Belanda di sana. Terkenang peristiwa 19 September 1945, di sinilah terjadi peristiwa perobekan bendera Belanda (Merah-Putih-Biru) menjadi bendera Indonesia (Merah-Putih).

Hotel Majapahit sebelumnya bernama Hotel Yamato pada zaman kependudukan Jepang. Di zaman Belanda berkuasa, hotel itu menyandang nama Hotel Orange, sebuah nama yang diambil dari warna kebanggaan negeri kincir angin itu. Konon nama Orange juga diambil lantaran bangunan hotel juga dicat penuh warna oranye.

Hotel Majapahit hingga kini masih kokoh berdiri di pinggiran Jalan Tunjungan yang memang dibuat satu arah. Biasanya, para turis kelas atas mengambil tempat di sini lantaran banyaknya fasilitas layaknya hotel berbintang.

Tiang putih menjulang tiga meter di salah satu menara putihnya. Di tiang itu, indah berkibar sang merah putih di ujungnya. Mungkin ini jadi alasan mengapa Hotel Majapahit menjadi lokasi pertama bagi siapa pun yang berkunjung di kota tua Surabaya. Di sini, “Insiden Hotel Yamato” terjadi.

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here