Home Khasanah Sejarah Perang Tabuk dan Tobatnya Ka’ab

Sejarah Perang Tabuk dan Tobatnya Ka’ab

38
0

SEJARAHONE.ID – Genderang perang disuarakan kubu kaum Muslimin pada musim panas tahun ke-9 Hijriah atau 630 M. Rasulullah SAW memobilisasi pasukan untuk menyiapkan diri dan merapatkan barisan di tengah panas yang berdebu.

Upaya ini dilakukan setelah adanya informasi jika pihak Romawi sedang menyiapkan pasukan untuk menyerbu tanah Arab bagian utara. Serangan itu direncanakan untuk membuat orang lupa akan strategi cerdik Khalid bin Walid yang berhasil mengecoh lebih dari 100 ribu tentara Romawi pada Perang Mu’thah.

Muhammad Husin Haekal dalam Sejarah Hidup Muhammad menggambarkan cuaca ketika itu merupakan musim maut yang sangat mencekam di padang pasir. Tak hanya itu, perjalanan dari Madinah ke Syam selain jauh juga amat sukar ditempuh.

Logistik seperti makanan dan air tidaklah cukup untuk membekali mereka jikalau tak ada tekad dan ketabahan yang kuat. Sejarah pun mencatat perang ini menjadi ujian untuk menyingkap hati orang beriman, orang munafik, orang yang ragu, dan orang-orang yang lemah.

Imam Syahid Hasan al Banna, seorang pembaharu asal Mesir menjelaskan, sulitnya perjalanan ini karena setiap tentara hanya diberikan jatah satu ekor unta. Bekal mereka berupa kurma dan gandum. Terkadang, satu  butir kurma harus dibagi untuk dua orang.

Meski demikian, ada tiga orang sahabat pilihan yang tak ikut serta dalam pasukan beliau. Mereka adalah Ka’ab bin Malik, Mararah bin Rabi Al-‘Amiri, dan Hilal bin Umayah Al-Waqifi. Mereka tak ikut serta bukan karena halangan tertentu tetapi karena sedang bersantai.

Meski demikian, Rasulullah tak lantas menghakimi mereka. Sesampainya di Tabuk, beliau bertanya,”Di mana Ka’ab bin Malik?” Sesungguhnya dia termasuk salah seorang sahabat terbaik.

Saat salah seorang pasukannya menjawab, “Wahai Rasulullah, Ka’ab bin Malik dilalaikan oleh kesibukan mengurus dagangan dan menikmati selimutnya.” Rasulullah justru bersabda, “Kami tidak pernah mengetahui kepadanya selain kebaikan.”

Menurut Hasan al Banna, beginilah seharusnya sikap para pemimpin. Saat memegang tongkat komando, jangan begitu saja menerima ucapan orang-orang yang melakukan fitnah sebelum mengklarifikasi. Ini pun ada dalam Alquran yang menyuruh kita untuk bertabayyun.

Saat memegang tongkat komando, jangan begitu saja menerima ucapan orang-orang yang melakukan fitnah sebelum mengklarifikasi.

“Wahai orang-orang yang beriman, jika datang kepada kalian orang fasik membawa suatu berita, maka periksalah dengan teliti agar kalian tidak menimpakan suatu musibah kepada suatu kaum tanpa mengetahui keadaannya yang menyebabkan kalian menyesal atas perbuatan kalian itu.” (QS al-Hujarat: 6).

Singkat cerita, Rasulullah pulang dari peperangan tanpa bertemu dengan pasukan Romawi. Musuh adi kuasa itu ternyata lebih suka mundur ke belakang. Mereka berada dalam ketakutan dan menarik diri dari benteng-benteng perlawanan.

Sepulangnya Rasulullah, Ka’ab dan kawan-kawan pun meminta maaf dan berkata: “Sebenarnya kami dalam keadaan lapang dan mampu. Tidak ada sebab yang menghalangi kami dari berjihad fisabilillah.” Nabi SAW pun bersabda, “Tunggu sampai Allah memberikan keputusan-Nya untuk kalian.”

Rasulullah memerintahkan kaum Muslimin untuk mengisolasi mereka. Setiap mereka masuk ke dalam masjid, tidak ada satu orang pun yang menyapa.

Ka’ab bahkan berkata, ”Keadaan ini menjadikan kedua sahabat saya tertekan, sehingga keduanya terus berdiam di rumah. Adapun saya, setiap kali saya menghadiri majelis Rasulullah SAW, beliau memalingkan wajah untuk menunjukkan bahwa beliau marah.”

Ujian Ka’ab pun semakin bertambah saat datangnya surat dari Raja Ghasan — sekutu Romawi yang merupakan seorang Arab Kristiani. Raja berkata, “Ka’ab, kami mendengar apa yang terjadi antara dirimu dan sahabatmu.“

Raja pun mengundang Ka’ab untuk datang menemuinya. Ka’ab merasa ini merupakan termasuk dalam ujian. Dia membakar surat tersebut.

Raja pun mengundang Ka’ab untuk datang menemuinya. Ka’ab merasa ini merupakan termasuk dalam ujian. Dia membakar surat tersebut.

Bersama kedua sahabatnya, Ka’ab tetap diasingkan hingga 40 hari. Ujian kembali ditambahkan saat Rasulullah memerintahkan agar mereka menjauhi istri-istri mereka. Demikian istri-istri mereka yang diperintahkan untuk menjauh.

Hingga Allah SWT menurunkan ayat berkenaan tentang mereka. “Sesungguhnya Allah telah menerima taubat Nabi, orang-orang muhajirin dan orang-orang Anshar, yang mengikuti Nabi di masa sulit, setelah hati segelongan dari mereka hampir berpaling, kemudian Allah menerima taubat mereka itu.” (QS at-Taubah: 117).

Hati Ka’ab dan kawan-kawan sangat gembira mendengar tobat mereka diterima. Rasulullah pun menyambut Ka’ab dengan tersenyum dan riang seraya berkata, “Bergembiralah dengan kebaikan, wahai Ka’ab!”

Ka’ab yang berniat untuk menyerahkan seluruh hartanya untuk perjuangan umat Islam demi menyempurnakan tobatnya dicegah Rasulullah. Saat Ka’ab memaksa, Rasulullah hanya meminta dia untuk memberikan sepertiga saja karena itu pun sudah banyak.

Dalam memaknai tobatnya Ka’ab, Hasan Al-Banna mengungkap, peristiwa ini merupakan wujud keikhlasan Ka’ab dan kawan-kawan kepada dakwah. Sebuah penghormatan seseorang kepada hak jamaah.

Saat beberapa individu melakukan penyimpangan, jamaah tersebut pun mengisolasi mereka sebagai bentuk tindakan kedisiplinan. Mereka tetap teguh pada prinsip dan keimanan meski datang rayuan dari raja kubu sebelah.

Mereka pun menyadari kesalahan sehingga Allah mengabadikan tobat mereka dalam Alquran dan mengembalikan kehormatan mereka seperti semula.

Wallahu a’lam.

Sumber: Republika Online

TULISKAN PENDAPAT KAMU?

Please enter your comment!
Please enter your name here