Home Merdeka Peran Ulama dalam Merebut Kemerdekaan Indonesia

Peran Ulama dalam Merebut Kemerdekaan Indonesia

809
0

Oleh Afif Thohir Furqoni

Sejarahone.id – Setiap tanggal 17 Agustus bangsa Indonesia merayakan kemerdekaannya. Bendera merah putih berkibar dimana-mana. Lomba-lomba agustusan banyak digelar, mengingatkan kita tentang perjuangan berat seluruh komponen bangsa untuk mengusir penjajah yang telah mencengkeram Ibu Pertiwi selama kurang lebih 350 tahun lamanya. Kemerdekaan pun diraih dengan cucuran air mata para pejuang.

Sejarah mencatat bahwa ulama, kiai, dan komponen pesantren turut memberikan sumbangsih besar terhadap terealisasinya kemerdekaan bangsa ini. Hal ini tak lepas dari realita bahwa ulama saat itu mempunyai pengaruh besar terhadap pola pikir masyarakat Indonesia.

Dengan pengaruh tersebut, banyak rakyat yang bersatu dan bergabung melawan penjajah, begitupun tokoh-tokoh Islam yang membentuk pasukan perang sendiri di wilayah masing-masing.

Hal ini diakui oleh Thomas S. Raffles, seorang Letnan Guberner EIC (1811-1816),” Karena mereka (Ulama) begitu dihormati, maka tidak sulit bagi mereka untuk menghasut rakyat agar memberontak. Dan mereka menjadi alat yang paling berbahaya di tangan penguasa pribumi yang menentang kepentingan pemerintahan kolonial”.

Mereka berjuang mengangkat senjata bersama rakyat dalam perjuangan melawan penjajah. Banyak ulama yang menjadi pemimpin perlawanan seperti Imam Bonjol, Teungku Cik Di Tiro, KH. Zainal Mustofa, KH. As’ad Syamsul Arifin.

Mereka membentuk laskar-laskar rakyat untuk mendapat pelatihan militer dan memanggul senjata dengan metode baru. Maka terbentuklah laskar-laskar rakyat seperti Hizbullah, Sabilillah, Mujahidin, dan lainnya yang memainkan peran penting dalam perang kemerdekaan Indonesia.

Ulama juga menjadikan pesantren-pesantren sebagai markas dan tempat perlindungan bagi para tentara pejuang. Di pesantren-lah para pejuang menghimpun kekuatan dan menyusun strategi penyerangan maupun pertahanan.

Bahkan, KH Khotib Umar, Pengasuh Pondok Pesantren Raudlatul Ulum Jember, berani menyatakan bahwa seandainya tidak ada kiai dan pesantren, niscaya tentara-tentara Indonesia akan hancur. Hal ini karena mereka tidak memiliki tempat berlindung, bertahan, dan meyusun strategi serta kekuatan kecuali di pesantren. Jadi bisa dikatakan kiai dan pesantren di masa dulu adalah pusat perjuangan bangsa ini.

Kegigihan para ulama tentu tak lepas dari konsep jihad yang mereka pegang. Bagi mereka, penjajah adalah orang zalim yang telah merampas kedaulatan umat Islam serta ingin menghancurkan agama Islam. Jadi memerangi penjajah termasuk jihad danwajib bagi kaum muslimin untuk melaksanakannya.

Fatwa jihad ini berpengaruh besar terhadap perjuangan melawan penjajah. Hampir semua pertempuran melawan penjajah dipengaruhi oleh fatwa jihad, seperti pertempuran 10 Nopember 1945 di Surabaya yang kemudian hari dikenang sebagai Hari Pahlawan.

Keberhasilan pertempuran ini tak lepas dari Resolusi Jihad yang dikeluarkan oleh ulama NU. Resolusi ini bermula dari fatwa KH Hasyim Asy’ari pada 22 Oktober 1945 di Surabaya, yang kemudian dikokohkan pada Muktamar NU XVI di Purwokerto 26-29 Maret 1946.

Resolusi Jihad menyebutkan, bahwa berperang melawan penjajah adalah kewajiban fardlu ‘ain bagi orang yang berada dalam jarak lingkaran 94 km dari kedudukan musuh. Fardlu itu berlaku baik bagi laki-laki, perempuan, maupun anak-anak, bersenjata atau tidak. Selain itu perang Paderi, perang Aceh, pemberontakan petani di Banten, Pemberontakan rakyat Singaparna di Jawa Barat, dan banyak peristiwa lainnya, juga dipicu oleh fatwa jihad dari para ulama.

Kini, penjajah telah terusir dari bumi pertiwi. Perjuangan para pahlawan khususnya para ulama harus dihargai semua pihak, termasuk pemerintah. Para ulama memang tidak mengharapkan apa-apa dalam perjuangan. Mereka memperjuangkan kemerdekaan dengan ikhlas semata. Penghargaan yang seharusnya diberikan pemerintah atas jasa-jasa yang telah diberikan para ulama paling tidak adalah memberi perhatian terhadap pesantren. Sekalipun ulama tidak memintanya.

Walhasil, perjuangan masih belum berhenti. Semangat yang para ulama kobarkan dulu, masih tertananam dalam dada generasi mereka sekarang. Hanya saja tidak lagi berbentuk fisik, tetapi lebih kepada usaha untuk mengisi kemerdekaan dengan hal-hal yang sesuai dengan cita-cita para ulama yang telah berjuang dulu.

Ulama sekarang harus menyiapkan generasi berikut yang akan meneruskan perjuangan mereka. Demikian pula mereka harus menjadi panutan umat dalam segala hal. Perkataan dan tingkah lakunya juga harus menjadi sumber keteladan umat Islam di negeri tercinta ini.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here