Home Merdeka Peran Ulama Dalam Integrasi Nusantara

Peran Ulama Dalam Integrasi Nusantara

709
0

Oleh. Hana Wulansari

  Integrasi suatu bangsa adalah hal yang sangat penting dalam kehidupan berbangsa dan bernegara.

Sejarahone.id – Dengan adanya integrasi akan melahirkan satu kekuatan bangsa yang ampuh dan segala persoalan yang timbul dapat dihadapi bersama-sama. Negara Kesatuan Repubik Indonesia adalah wujud konkret dari proses integrasi bangsa. Proses integrasi bangsa Indonesia ini sudah ternyata sudah berlangsung cukup lama bahkan sudah dimulai sejak awal tarikh masehi. Pada abad ke-16 proses integrasi bangsa Indonesia mulai mengalami kemajuan pesat sejak proses Islamisasi.

Jika ditelusuri, bahwa hubungan antara ulama dari berbagai daerah telah mempercepat proses persatuan bangsa-bangsa di kepulauan Indonesia. Ulama-ulama dari Minangkabau misalnya sudah berhasil mengislamkan saudara-saudara kita di Sulawesi, begitu juga sebaliknya ulama Sulawesi juga telah beperan dalam mengislamkan saudara-saudara kita di Bima, Nusa Tenggara, Kepulauan Riau dan sebagainya, begitu juga ulama dari Jawa Timur telah mengislamkan Ternate dan Tidore, tentu kalau diurai satu persatu maka hubungan antar ulama ini telah menyatukan seluruh wilayah Indonesia bahkan sampai Malaka dan Singapura.

Agama Islam yang masuk dan berkembang di Nusantara mengajarkan kebersamaan dan mengembangkan toleransi dalam kehidupan beragama. Islam mengajarkan persamaan dan tidak mengenal kasta-kasta dalam kehidupan masyarakat. Konsep ajaran islam memunculkan perilaku ke arah persatuan dan persamaan derajat. Disisi lain, datangnya pedagang-pedagang Islam di Indonesia mendorong berkembangnya tempat-tempat perdagangan di daerah pantai. Tempat-tempat perdagangan itu kemudian menjadi berkembang menjadi pelabuhan dan kota-kota pantai. Bahkan kota-kota pantai yang merupakan bandar dan pusat perdagangan, berkembang menjadi kerajaan. Timbulnya kerajaan-kerajaan Islam merupakan awal terjadinya proses integrasi. Meskipun masing-masing kerajaan memiliki cara dan faktor pendukung yang berbeda-beda dalam proses integrasinya. Namun demikian sikap toleransi melekat dalam Islam.

Sikap toleransi dalam aspek budaya dapat juga dilihat dalam praktik perdagangan. Para pedagang Islam berpandangan bahwa mereka bisa berdagang dengan siapa pun tanpa melihat latar belakang agama. Secara kultural, para pedagang Islam memiliki sikap terbuka terhadap perbedaan suku bangsa, agama, dan golongan dalam kegiatan dagang. Misalnya, para pedagang Islam di Malaka, Banten, Makasar, dan lain-lain bukan hanya berdagang dengan pedagang Islam dari Arab, Persia, Gujarat, melainkan dengan para pedagang non-Islam dari Cina, Champa, dan lain-lain. Jadi secara historis, walaupun perdagangan pada abad 14-17 didominasi para pedagang Islam, mereka bersedia berdagang dengan siapa pun tanpa melihat perbedaan latar belakang bangsa dan agama.

Para pedagang Nusantara tidak menentang bangsa asing yang berdagang di perairan Indonesia. Mereka beranggapan bahwa yang terpenting dalam perdagangan adalah keuntungan yang bisa diraih. Kerajaan-kerajaan Islam di Nusantara, walaupun berambisi menguasai jalur penting dagang, beranggapan bahwa laut merupakan wilayah terbuka yang bisa digunakan oleh siapa pun. Pandangan seperti ini antara lain dianut oleh kerajaan Islam Makasar. Sikap terbuka tersebut telah membantu proses integrasi karena dengan demikian para pedagang Nusantara bisa berdagang dengan berbagai pedagang, baik dari Nusantara maupun mancanegara.

Portugis Datang Menjajah

Secara historis, ternyata sikap terbuka tersebut disalahgunakan oleh kekuatan asing yang ingin menguasai sumber barang dagangan. Mereka berambisi untuk menguasai claerah penghasil rempah-rempah. Jatuhnya Malaka ke tangan bangsa Portugis tahun 1511 adalah bukti adanya pemaksaan kehendak pedagang Barat dalam menguasai wilayah dagang.

Peristiwa jatuhnya pelabuhan Malaka tersebut merupakan awal perubahan sikap pedagang Nusantara. Sejak peristiwa itu, para pedagang Nusantara mulai berhati-hati dengan pedagang asing terutama dari Barat (Eropa). Para pedagang Islam mulai menyadari bahwa datangnya para pedagang Portugis di kepulauan Nusantara bukan hanya ingin berdagang, melainkan juga memiliki tujuan politis dan historis, yaitu ingin menghancurkan kekuatan Islam.

Mengapa bangsa Portugis ingin menghancurkan kekuatan Islam? Dalam keputusan Paus Alexander VI dalam perjanjian Torsidelas (1494 M). Perjanjian tersebut memberikan kewenangan pada kerajaan Katholik Spanyol, Portugis untuk melakukan imperalisme atau penjajahan di dunia. Portugis membawa misi imperalisme untuk tiga tujuan, yakni gold (kekayaan), glory (kemenangan) dan gospel (agama). Selain untuk menjajah, Portugis juga memiliki misi untuk menyebarkan agama Nasrani pada wilayah jajahannya.,

Disamping itu, ketika masa kekuasaan Dinasti Umayyah di Cordoba. Ternyata, penaklukkan Jazirah Iberia (wilayah bangsa Portugis dan Spanyol) oleh dinasti Islam Umayyah abad ke-7 M dan disusul dengan kekuasaan Islam atas wilayah Eropa lainnya sampai abad ke-15, serta jatuhnya Konstantinopel, ibukota Romawi Timur, ke tangan kerajaan Islam Turki Usmania tahun 1453, menimbulkan kebencian bangsa Eropa terhadap kekuatan Islam yang pernah menaklukkannya.

Bangsa Portugis dan Spanyol yang secara historis pernah dikuasai oleh orang-orang Islam ingin membalas dendam penaklukkan tersebut. Didukung oleh faktor ambisi mengejar kejayaan, menguasai sumber perdagangan rempah-rempah, dan misi agama, mereka berusaha untuk menjelajah dunia dan menguasai jalur dagang internasional yang pada umumnya dikuasai oleh para pedagang Islam. Dengan ambisi tersebut, satu per satu kekuatan Islam diperangi dan pelabuhan-pelabuhannya diduduki.

Setelah berhasil melalui pantai barat, selatan, dan timur Afrika, mereka sampai ke Samudera Hindia dan bertemu dengan pedagang-pedagang Islam di pelabuhan-pelabuhan sepanjang jalur tersebut. Akhirnya mereka sampai di Malaka dan berhasil menaklukkan dan menguasai pelabuhan itu tahun 1511. Setelah berhasil merebut Malaka, bangsa Portugis terus berusaha menaklukkan kekuatan-kekuatan Islam lainnya di Nusantara, antara lain, Pelabuhan Banten, Ambon, dan Maluku.

Tindakan bangsa Portugis tersebut disusul oleh bangsa Belanda yang memiliki ambisi sama. Bangsa Belanda pun berusaha untuk menguasai sumber penghasil rempah-rempah dan pelabuhan-pelabuhan penting kerajaan Islam Nusantara. Dengan cara memecah belah (devide at impera), satu per satu pelabuhan-pelabuhan penting Nusantara dikuasainya, seperti Sunda Kelapa, Ambon, Makasar, Demak, Cirebon, dan lain-lain.

Penjajahan Menyatukan Umat Islam

Peranan Islam dalam proses integrasi telah dipengaruhi oleh perkembangan historis di atas. Berdasarkan perkembangan tersebut, para pedagang Islam serta kerajaan-kerajaan Islam Nusantara melihat bahwa kedatangan orang-orang Barat bukan hanya untuk berdagang, melainkan juga untuk menaklukkan kekuasaan Islam di Nusantara. Mereka mulai sadar bahwa kekuatan asing telah menyalahgunakan keterbukaan sikap pedagang Islam dan keterbukaan laut Nusantara. Akibat dari perkembangan historis tersebut, adalah

Pertama, peranan pedagang Islam di Laut Nusantara mengalami kemunduran karena para pedagang asing (Barat) mulai memonopoli perdagangan di kawasan tersebut.

Kedua, Islam telah dijadikan sebagai satu kekuatan pemersatu untuk melawan kekuatan asing. Akal bulus datangnya bangsa Barat tersebut justru telah menyatukan kerajaan-kerajaan Islam atas dasar azas yang sama yaitu agama Islam dalam menghadapi Barat. Walaupun mereka tidak bersatu secara politis, akan tetapi telah terdapat kesamaan pandangan di kalangan umat Islam saat itu bahwa kekuatan asing tersebut akan menghancurkan kekuatan Islam. Oleh karena itu, Islam digunakan sebagai satu kekuatan azasi untuk mengusir penjajah. Kesamaan pandangan tersebut membuktikan bahwa Islam telah mempercepat proses integrasi.

Islam Menjadi Kekuatan

Perlawananan daerah-daerah di Indonesia terhadap kekuatan Belanda pada abad ke-19 merupakan bukti bahwa Islam telah digunakan sebagai kekuatan azasi dan yang telah dianut masyarakat sejak ratusan tahun yang lalu itu dimanfaatkan oleh para pemimpin perlawanan di daerah yang pada umumnya kharismatis dan memiliki pengetahuan agama Islam yang mendalam.

Dengan kekuatan tersebut, semangat untuk mengusir penjajah semakin besar. Rakyat yang berada di bawah pemimpin kharismatis percaya bahwa Belanda adalah kafir, dan musuh Islam. Dengan semangat perang sabil, perlawanan di daerah pada abad ke-19 merupakan perang yang telah merepotkan pemerintah kolonial Belanda.

Contoh-contoh yang menunjukkan bahwa Islam telah digunakan sebagai kekuatan azasi dapat dilihat dalam Perang Saparua (1817), Perang Paderi (1819-1832), Perang Diponegoro (1825-1830), Perang Banjarmasin (1852, 1859, 1862), Perang Aceh (1873-1912), dan Perlawanan Petani Banten (1888). Walaupun perang-perang tersebut masih bersifat kedaerahan, secara historis dapat dikatakan bahwa perang yang dilandasi oleh kekuatan ideologis Islam itu telah menjadi dasar bagi lahirnya nasionalisme Indonesia pada awal abad ke-20. Sebenarnya, dasar-dasar gerakan nasionalisme atau gerakan kebangsaan Indonesia pada awal abad ke-20 telah diletakkan sejak tumbuh dan berkembangnya penganut serta kekuatan politik Islam di Nusantara, yaitu sejak abad ke-16./hana

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here