Home Merdeka Peran Islam Dalam Perjuangan Kemerdekaan Indonesia

Peran Islam Dalam Perjuangan Kemerdekaan Indonesia

70
0

Oleh Hamzah Afifi

SejarahOne.id – Perjuangan untuk memperoleh “Kemerdekaan Indonesia” tidaklah muncul begitu saja, namun melalui proses perjuangan panjang yang telah mendahuluinya. Kedatangan bangsa Eropa yang tidak bersahabat, mereka datang membawa bedil dan meriam, dengan pendekatan perang.

Dengan politik ‘Devide et Impera’ mereka memecah belah masyarakat di Indonesia, sedikit demi sedikit menguasai tanah Indonesia ini. Perjuangan umat Islam melawan penjajahan kolonial Portugis, Belanda dan Inggris dimulai dari kerajaan-kerajaan dan kemudian diteruskan oleh perjuangan rakyat semesta yang dipimpin sebagian besar oleh para ulama.

Jadi, perjuangan ini dirintis sejak dari perlawanan kerajaan-kerajaan Islam, kemudian diteruskan dengan munculnya pergerakan sosial di daerah-daerah yaitu perlawanan rakyat terhadap kolonial/penjajahan dan para agen-agennya, sampai dengan munculnya kesadaran bernegara yang merdeka.

Dalam perjuangan di kawasan Nusantara, khususnya Indonesia yang mayoritas penduduknya muslim, maka peranan ajaran Islam dan sekaligus umat Islamnya punya arti yang sangat penting dan tidak dapat dihapus dalam panggung sejarah Indonesia.

Ajaran Islam yang dipeluk oleh sebagaian besar rakyat Indonesia telah memberikan kontribusi besar, serta dorongan semangat dan sikap mental dalam perjuangan kemerdekaan. Umat Islam Indonesia punya peranan yang menentukan dalam dinamika perjuangan untuk mendapatkan kemerdekaan.

Dimulai sejak awal masuknya bangsa barat dengan pendekatan kekuatan yang represif (bersenjata), maka dilawan oleh karajaan-kerajaan Islam di kawasan Nusantara ini. Perjuangan ini antara lain: Malaka melawan serangan Portugis (1511) diteruskan oleh Ternate di Maluku (Portugis berhasil dihalau sampai Timor Timur), kemudian Makasar melawan serangan Belanda (VOC), Banten melawan serangan Belanda (VOC) dan Mataram Islam juga melawan pusat kekuasaan Belanda (VOC) di Batavia (1628-1629) dan masih banyak lagi.

Mereka semua perang dengan gigih dan Belanda pun kalangkabut, namun setelah ada politik “Devide Et Impera” (pecah belah), satu persatu kerajaan ini dapat dikuasai. Meski demikian semangat rakyat tidak pudar melawan penjajahan kolonial, maka selanjutnya perjuangan melawan penjajahan diteruskan oleh rakyat yang dipimpin para Ulama.

Setelah penjajah kolonial berhasil menguasai kerajaan-kerajaan di Indonesia, namun umat Islam bersama para ulamanya tidak berhenti melawan penjajahan. Munculah era gerakan sosial merata di seluruh pelosok tanah air. Ulama sebagai elite agama Islam memimpin umat melawan penindasan kezhaliman penjajah.

Sejak dari Aceh muncul perlawanan rakyat dipimpin oleh Tengku Cik Di Tiro, Teuku Umar, Tjut Nya’ Dhien. Di Sumatera Barat muncul Perang Padri dipimpin oleh Tuanku Imam Bonjol. Perlawanan KH Hasan dari Luwu. Gerakan R. Gunawan dari Muara Tembesi Jambi. Gerakan 3 Haji di Dena Lombok. Gerakan H Aling Kuning di Sambiliung Kaltim.

Lalu ada Gerakan Muning di Banjarmasin. Gerakan Rifa’iyah di Pekalongan. Gerakan KH Wasit dari Cilegon. Perlawanan KH Jenal Ngarib dari Kudus. Perlawanan KH Ahmad Darwis dari Kedu. Perlawanan Kyai Dermojoyo dari Nganjuk dan juga perlawanan Pangeran Diponegoro dan masih banyak lagi.

Dari perlawanan itu, sesungguhnya pihak Belanda sudah goyah kekuasaaanya, sebagai bukti tiga perlawanan yaitu Rakyat Aceh, Sumatera Barat dan Java Oorlog (Diponegoro) telah mengorbankan lebih dari 8000 tentara Belanda mati dan 20.000.000 Gulden kas kolonial habis.

Oleh karena itu, mereka kemudian mencari jalan lain yaitu mengubah politik kolonialnya dengan pendekatan “Welfere Politiek” (Politik Kemakmuran) untuk menarik simpati rakyat jajahan. Namun, pada kenyataannya politik itu dijalankan dengan perang kebudayaan dan idiologi, terutama untuk memecah dan melemahkan potensi umat Islam Indonesia yang dianggapnya musuh utama pemerintah kolonial.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here