Home Khasanah Peran Dinasti Turki Utsmani Dalam Kejayaan Islam

Peran Dinasti Turki Utsmani Dalam Kejayaan Islam

115
0

SEJARAHONE.ID – Sejarah mengatakan bahwasanya Islam pada masa awal sangat maju dan berkembang sangat pesat, disebabkan peranan Kesultanan Islam seperti Dinasti Umayah, Abbasiyah, Saljuk, Fatimiyah dan sebagainya. Paska Islam redup dan tidak mempunyai kekuasaan dan kekuataan, pada masa abad pertengahan muncul kembali kesultanan-kesultanan Islam di dunia yang mampu membangkitkan ghirah semangat Islam dan mencoba kembali membangun puing-puing peradaban yang telah lama lenyap. Dinasti Turki Utsmani merupakan khalifah yang cukup besar dalam Islam dan memiliki pengaruh cukup signifikan dalam perkembangan wilayah Islam di Asia, Afrika dan Eropa.

Bangsa Turki memiliki peran yang sangat penting dalam perkembangan peradaban Islam. Peran yang paling menonjol terlihat dalam birokrasi pemerintahan yang bekerja untuk para khilafah Bani Abbasiyah.

Kemudian mereka sendiri membangun kekuasaan yang sekalipun independen, tetapi masih tetap mengaku loyal kepada khilafah Bani Abbasiyah. Hal tersebut ditunjukkan dengan munculnya Bani Saljuk.1 Dalam sejarah umat Islam, munculnya Kesultanan Turki Utsmaniyah, memiliki peranan yang sangat penting baik dalam pengembangan kebudayaan maupun dalam perluasan wilayah (futuhat) kekusaan Islam.

Kejayaan Turki Usmani Halaman all - Kompas.com

Al Fatih bersama Pasukan Saat Menguasai Konstantinopel

Perluasan Wilayah Dinasti Turki Utsmani

Perluasan wilayah tersebut meliputi tiga benua (Asia, Afrika, dan Eropa) dan dua lautan (Laut Tengah dan Laut Merah). Korelasi dari tertatanya sistem pemerintahan yang teratur dapat dilihat dari hasil pembangunan kebudayaan Kesultanan Turki Utsmani ini dengan nilai arsitektur yang sangat tinggi pada saat itu, bahkan mungkin sampai saat ini.2 1 Samsul Munir Amin, Sejarah Peradaban Islam, (Jakarta: Amzah, 2009)

Terdapat Tiga wilayah yang paling penting di mana orang-orang Muslim berhasil memperluas wilayah Eropa, di antaranya yaitu Andalusia (Spanyol dan Portugal Muslim), Sisilia dan Creta.

Jatuhnya Konstantinopel, yang selama delapan abad tidak berhasil dijatuhkan oleh kaum Muslimin, memberi bukti bahwa kekuatan Kesultanan Turki Ustmaniyah benar-benar tangguh di samping keunggulan mereka dalam taktik strategi serta teknologi perang.

Adanya kepemimpinan militer yang jitu dan kekuatan persenjataan yang melebihi semua kekuatan bangsa-bangsa lain pada zamannya ditambah dengan semangat juang yang tinggi dengan mengerahkan segala ilmu dan daya yang ada, semua itulah yang harus dimiliki oleh seluruh ummat.4 Dalam sekian lama kekuasaan Kesultanan Turki Utsmaniyah sekitar 625 tahun berkuasa, dan tidak kurang dari tiga puluh delapan sultan.

Di antara sekian banyaknya Sultan tersebut, di masa Sultan Sulaiman Al-Qanuni lah puncak perluasan dan kebesaran Turki Utsmani. Ia menguasai Beograd, kepulauan Rodhesia, semenanjung Krym dan ibukotanya, sehingga sampai menerobos Eropa, hingga sampai di Wina ibukota Austria. Orang Barat memberinya dengan gelar “Solomon the Magnificent” atau “Solomon the Great”.

Putra dari Sultan Salim I ini juga mendapat gelar Al-Qanuni karena memiliki jasa besar dalam menyusun dan mengkaji sistem undang-undang Kesultanan Turki Utsmani.5 Pada masa kepemimpinan Sultan Sulaiman inilah kejayaan Kesultanan Turki Utsmaniyah mencapai puncaknya. Ia berhasil memperluas wilayah kekuasaan Turki Utsmaniyah ke beberapa daerah strategis di Benua Eropa, Asia, dan Afrika.6 Pada masa pemerintahannya ini sebagian besar wilayah Hongaria, dan Wina serta Rhodes dapat diduduki

Sejak Turki gagal dalam merebut kota Wina pada tahun 1683 M, peranan Kesultanan Ustmaniyah pun di medan peperangan berubah. Sejak tahun 1683 M, tentara Turki kebanyakan hanya berusaha sekedar menangkis pukulan-pukulan musuh dan tidak berdaya untuk melancarkan serangan-serangan. (Abdul Syukur Al-Azizi, Kitab Sejarah Peradaban Islam “ Menelusuri Jejak-Jejak Peradaban Islam di Barat dan Timur”)

Pada masa selanjutnya, wilayah Turki Utsmani yang luas itu sedikit demi sedikit terlepas dari kekuasaannya, direbut oleh negara-negara Eropa yang baru mulai bangkit.

Pada tahun 1699 M, terjadi perjanjian Karlowith9 yang memaksa sultan untuk menyerahkan seluruh Hongaria, sebagian besar Slovenia dan Kroasia kepada Hasburg dan Heminietz, Pedolia, Ukraina, Morea, dan sebagian Dalmetia kepada orangorang Venesia. Perjanjian Kucuk Kaynarca 1774 M10 memperkuat dugaan bahwa militer, teknologi, dan administrasi Eropa lebih unggul dibanding dengan Turki Utsmani.

Solusi yang ditempuh oleh para pemimpin kesultanan yaitu dengan mengadopsi kemajuan-kemajuan yang telah dicapai Eropa yang selanjutnya melahirkan gerakan pembaharuan di Turki

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here