Home Merdeka Penyerahan Kedaulatan RI dari Kerajaan Belanda

Penyerahan Kedaulatan RI dari Kerajaan Belanda

240
0
Hatta dalam Konferensi Meja Bundar (KMB)

Sejarahone.id – Indonesia telah memproklamasikan Kemerdekaan pada 17 Agustus 1945. Namun demikian, Indonesia belum mendapatkan pengakuan de facto untuk kemerdekaannya. Seluruh upaya dilakukan para bapak bangsa dengan melakukan perundingan dan kunjungan diplomatik ke beberapa negara. Dari Perjanjian Linggarjati, Renville, hingga Roem-van Roijen, perundingan berujung pada penyerahan kedaulatan dari Negeri Belanda ke Republik Indonesia pada 27 Desember 1949.

Konferensi Meja Bundar

Penyerahan kedaulatan dari Negeri Belanda ke Republik Indonesia pada 27 Desember 1949, dilakukan antara wakil tinggi mahkota Belanda di Indonesia Tony Lovink dan Sri Sultan Hamengku Buwono IX, sebagai wakil perdana menteri.

Kabar tersebut disambut kegembiraan. “Drum berhias pita merah putih ditabuh di Jawa, Sumatera, Bali, Sulawesi, Kalimantan, hingga Timor,” demikian cuplikan isi artikel “Indonesia Opens New Chapter as Sovereign State”, yang dimuat koran Australia Canberra Times pada 28 Desember 1949.

Belanda yang menjajah Indonesia sejak Abad ke-16, mau kehilangan wilayah koloni di Asia yang jadi sumber pundi-pundi kekayaan: teh, kopi, rempah-rempah, tekstil, minyak, mineral, dan banyak lainnya.

Seperti dikutip dari situs Radio Netherlands Worldwide (RNW), Pemerintah Belanda pun merespons dengan mengirim pasukan ke Hindia, untuk melakukan apa yang disebut sebagai ‘Aksi Polisionil’.

Belanda menghindari istilah ‘perang kolonial’, menolak untuk mengakui bahwa itu adalah konflik antara dua negara dan menganggapnya sebagai masalah internal. Aksi polisionil besar-besaran dilakukan dua kali: Agresi Militer I dan II. Tujuannya, mengembalikan Nusantara sebagai sapi perah Holland.

Pertempuran tak hanya melibatkan bedil dan bambu runcing, tapi juga perang urat syarat di meja perundingan.

Dari Perjanjian Linggarjati, Renville, hingga Roem-van Roijen, perundingan berujung pada penyerahan kedaulatan dari Negeri Belanda ke Republik Indonesia pada 27 Desember 1949.

Kabar tersebut disambut kegembiraan. “Drum berhias pita merah putih ditabuh di Jawa, Sumatra, Bali, Kalimantan, hingga Timor,” demikian cuplikan isi artikel “Indonesia Opens New Chapter as Sovereign State”, yang dimuat koran Australia Canberra Times pada 28 Desember 1949.

Upacara penyerahan kedaulatan dari Belanda ke Indonesia digelar tiga kali.Pertama, di Amsterdam, tepatnya di Istana Op de Dam. Wakil Presiden sekaligus perdana menteri, Mohamad Hatta memimpin delegasi Indonesia dalam Konferensi Meja Bundar (KMB).

“Kedua negara (Belanda dan Indonesia) tak lagi saling berlawanan, kini kita berdiri berdampingan,” kata Ratu Belanda Juliana kala itu, sesaat setelah naskah penyerahan kedaulatan ditandatangani.

Bung Hatta yang bicara Bahasa Indonesia dalam sebuah pertemuan KMB menekankan pentingnya penyelesaian damai konflik dua negara. “Empat tahun lamanya rakyat kita timbal balik hidup dalam persengketaan, karena merasa dendam di dalam hati … Bangsa Indonesia dan Bangsa Belanda, kedua-duanya akan mendapat bahagianya. Anak cucu kita, angkatan kemudian akan berterima kasih pada kita,” kata Hatta.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here