Home Merdeka Penuturan Mohammad Natsir Tentang PRRI

Penuturan Mohammad Natsir Tentang PRRI

15
0

SejarahOne.id – Ketika Mohammad Natsir memiliki keberpihakan pada PRRI, relasi politiknya mulai terpecahpecah. Sehingga muncul pertanyaan,  mengapa Natsir dan kawan-kawan ikut PRRI?

Pada satu kesempatan, Natsir menuturkan bahwa pada saat itu Indonesia menghadapi dua hal yang mengkhawatirkan. Pertama, komunis masuk istana; kedua, pecahnya Indonesia.

Natsir melihat komandan militer di daerah-daerah masing-masing jalan sendiri. Malah ada yang pergi ke CIA, Amerika; mengadakan hubungan, mendapat senjata, malah dapat kapal terbang.

“Nanti kalau Aceh juga mencari ke tempat lain, bagaimana. Jadi, ada bermacam-macam risiko. Indonesia akan terpecah belah,” kata Natsir.

Maka empat tokoh Masyumi yaitu Natsir, Sjafruddin, Burhanuddin, dan Faqih Usman, kemudian bertemu secara diam-diam. Mengapa diam-diam? Sebab jika dikemukakan kepada publik, akan banyak orang tahu.

Supaya Indonesia tidak terpecah belah, diputuskan untuk menemui para pemimpin militer. “Tetapi, hal itu tergantung para komandan militer itu. Maukah mereka kami campuri secara politis?”

Keempat tokoh itu berpendapat, daripada melihat Indonesia hancur lebur, biarlah dicoba pendekatan lain. “Saya, Pak Sjaf, dan Pak Bur sepakat, biarlah kita korbankan pribadi-pribadi kita. Masyumi jangan terbawa. Prawoto tidak kami beritahu.”

Risiko itu diambil Natsir, Sjafruddin, dan Burhanuddin justru untuk keutuhan Indonesia, dan untuk menjaga agar Indonesia jangan masuk komunis.

Setelah mendapat persetujuan dari para komandan militer, Natsir dan kawan-kawan, datang. “Kami datang untuk mencari jalan penyelesaian. Bukan untuk memberontak,” gagas Natsir seraya menambahkan, bahwa misinya mempersatukan para perwira militer itu berhasil.

Untuk persatuan nasional, rapat para perwira militer dengan politisi sipil itu menyepakati usul Bung Karno tetap sebagai Presiden. Bung Hatta menjadi Perdana Menteri, dan Sultan HB IX sebagai Wakil Perdana Menteri.

Agar Indonesia tidak terpecah belah, diusulkan supaya ada otonomi daerah. Jawaban Pemerintah atas tuntutan itu ialah bom. Dibomnya Painan. Sesudah Painan dibom, perasaan bertambah luka. Susah menyembuhkan luka itu.

Sukarno: PKI Pelopor Kekuatan Revolusi

Pada saat Indonesia sedang bergejolak. Presiden Soekarno secara terang-terangan mendukung komunisme.

Dan, muncul pernyataan. APAKAH jika Natsir, Sjafruddin, dan Burhanuddin tidak datang ke Sumatera Barat, Masyumi tidak akan dipaksa membubarkan diri?

“Mungkin saja,” kata Natsir, “tetapi kami merasa, untuk apa ada Masyumi jika hanya untuk menuruti kemauan Sukarno. Kalau Masyumi ada sekadar untuk menuruti kemauan Sukarno, mengganti orang-orangnya dengan orang-orang Sukarno, dan mau menerima Nasakom, kami tidak rela.”

Natsir yakin, alasan utama pembubaran Masyumi ialah karena Masyumi tidak mau menerima Nasakom. Alasan kedua, karena dirinya dan kawan-kawan ikut PRRI. Keyakinan Natsir secara tidak langsung dibenarkan oleh Sukarno.

Beberapa pekan menjelang dilengserkan dari kursi kepresidenan, ilmuwan politik Bernhard Dahm bercakap-cakap dengan Bung Karno.

Bernhard : “Mengapa Anda tidak mau membubarkan PKI?” tanya Dahm.

Soekarno: “Kita tidak dapat menghukum suatu partai secara keseluruhan karena kesalahan beberapa orang,” jawab Presiden Soekarno.

Dahm lalu mengingatkan Sukarno bahwa dia telah melakukannya pada 1960 saat melarang Masyumi dan PSI dengan alasan pemimpin kedua partai itu tidak menghukum anggota-anggotanya yang terlibat dalam PRRI.

“Masyumi dan PSI,” jawab Sukarno, “telah merintangi penyelesaian revolusi kami. Akan tetapi, PKI merupakan pelopor kekuatan-kekuatan revolusi. Kami membutuhkannya bagi pelaksanaan keadilan sosial dan masyarakat yang makmur.”

Dengan jawaban Sukarno kepada Dahm, jelaslah duduk perkaranya bahwa Soekarno menerima ajakan PKI untuk melakukan suatu revolusi.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here