Home Pemberontakan Penumpasan G30S PKI 1965 di Jawa Tengah (Bagian 2)

Penumpasan G30S PKI 1965 di Jawa Tengah (Bagian 2)

116
0

SEJARAHONE.ID – Pada tanggal 19 Oktober 1965 pukuI 23.00, pasukan RPKAD mulai bertindak terhadap sasaran gedung-gedung, rumah-rumah, bangunan – bangunan di kota Semarang yang diduga menjadi sarang G 30 S/PKI.

Operasi-Operasi RPKAD

Dalam gerakan pertama telah berhasil ditahan lebih kurang 1050 orang yang dicurigai beserta sejumlah barang bukti, dan dokumen-dokumen dapat disita. Dalam gerakan ini, diketemukan pula lubang-Iubang sebanyak 16 buah di Kampung Kedungmundu yang direncanakan untuk penguburan korban-korban keganasan mereka.

Dengan hadirnya RPKAD, golongan Nasionalis dan Agama yang semula dalam suasana takut, bangkit membantu dan mengadakan aksi-aksi. Perang plakat/pamflet berkobar seru antara golongan pendukung G 30 S/PKI di satu fihak dan golongan¬-golongan Nasionalis serta Agama di lain fihak.

Sampai siang hari tanggal 20 Oktober 1965, gerakan pembersihan terus dilakukan. Bersamaan dengan itu, terjadi aksi massal dari golongan Nasional dan Agama terhadap lawannya, berupa pembakaran-pembakaran beberapa gedung PKI, Baperki, sekolah-sekolah asing/RRC, gedung Gerwani dan beberapa pabrik rokok milik pendukung G 30 S/PKI.

Pihak G 30 S/PKI ternyata tidak tinggal diam. Dengan maksud untuk membangkitkan sentimen rasial terhadap golongan ini, maka Pemuda Rakyat melakukan pembakaran terhadap toko-toko Cina di Kompleks Pekojan Semarang.

Dengan adanya gerakan-gerakan dari golongan Nasional dan Agama melawan golongan Komunis itu, maka suasana kota yang semula tenang menjadi tegang dan panas. Guna menghindarkan hal-hal yang tidak diharapkan, maka sebagai tindakan pencegahan, pasukan RPKAD melakukan patroli-patroli pengamanan di seluruh kota Semarang.

Dalam melakukan gerakan-gerakan pembersihan tersebut, RPKAD tidak mendapat perlawanan sama sekali. Mereka yang diduga terlibat G 30 S/PKI disinyalir melarikan diri ke arah barat daya atau ke timur kota Semarang.

Setelah keadaan di Semarang dapat diatasi, maka pada pukul 12.00 tanggal 21 Oktober 1965 pasukan RPKAD menuju ke sasaran yang baru, yaitu Magelang. Tugas RPKAD di Semarang dipertanggungjawabkan kepada Mayor Subekti (Wadan Yon II) dengan kekuatan Kompi Drip, Kompi Ramelan dan Kompi Dakso.

Pasukan-pasukan lainnya bergerak ke Magelang dan tiba di kota tersebut pada pukul 15.00. Di sini pasukan diperkuat lagi dengan Kompi Tedjo dari Batalyon 11 Magelang. Ketika memasuki kota Magelang pasukan RPKAD disambut dengan meriah oleh masyarakat di Alun-alun Magelang. Gerakan pasukan dalam bentuk show of force (pamer kekuatan) dilakukan di dalam kota.

Setelah show of force (pamer kekuatan) berjalan, rakyat Magelang khususnya para pemudanya bangkit melakukan serangan terhadap obyek-obyek milik PKI, Baperki, gedung perkumpulan Cina komunis CHTH. Bahkan rumah Walikota Argo Ismoyo yang tokoh PKI itu, tidak terhindar dari aksi para pemuda itu.

Tanggal 20 Oktober 1965, Panglima selaku Pepelrada Jateng/DIY mengeluarkan keputusan tentang pembekuan kegiatan PKI, Baperki, dan ormas-ormas lainnya di bawah naungan PKI.

Dengan dikeluarkannya keputusan Pepelrada Jateng/DIY, para pendukung G 30 S/PKI mengadakan gerakan-gerakan pemogokan dan aksi-aksi teror sebagai kontra aksi. Mulai pukul 20.00, Serikat Buruh Kereta Api (SBKA) di Stasiun Balapan Solo mogok duduk, sehingga kereta api jurusan Solo – Semarang, Solo – Jakarta dan Solo.

Surabaya terhenti. Sampai pagi hari kereta api tidak ada yang keluar atau masuk stasiun. Angkutan darat lainnya, seperti bus-bus umum tidak ada yang berani keluar karena dihalang- halangi oleh Pemuda Rakyat/PKI.

Pemogokan-pemogokan dilancarkan pula di pabrik karung Delanggu, Pabrik Gula (PG) Gondangwinangun Klaten, pabrik tekstil PN. Infitex, dan perusahaan-perusahaan tembakau. Jalan raya an tara Delanggu – Gondangwinangun dirintangi dengan batang¬-batang pohon.

Tepat pada hari pemakaman Kolonel Katamso dan Letnan Kolonel Sugijono, Komandan Kodim Boyolali melaporkan bahwa markas Kodim Boyolali sedang dikepung oleh ratusan Pemuda Rakyat yang bersenjatakan bambu runcing. Pada tanggal 22 Oktober 1965 pukul 05.00 pasukan RPKAD yang terdiri dari satu Ton Panser dan Kompi Kajat bergerak menuju Boyolali, dan sebagian pasukan bergerak ke Solo.

Kompi Kajat dan satu Ton Panser setibanya di Boyolali dengan cepat mengadakan penangkapan dan pembersihan terhadap orang¬-orang PKI dan Pemuda Rakyat yang mengadakan pengacauan. Percobaan pengepungan dan merebut Kodim Boyolali dapat digagalkan.

Sedang sebagian pasukan RPKAD yang mengadakan gerakan ke Solo, setibanya di Solo pukul 15.30 langsung mengadakan pameran kekuatan dan mengamankan Gedung Balai Kota untuk mencegah para demonstran anti PKI menduduki gedung tersebut.

Pada pukul 16.30 pasukan RPKAD bergerak ke stasiun Solo Balapan untuk membubarkan pemogokan. Komandan Resimen RPKAD (Sarwo Edhie Wibowo) menekankan agar para pemogok bekerja lagi seperti biasa. Mereka diharapkan jangan terpengaruh oleh G 30 S/PKI, dan jangan ragu-ragu untuk membantu ABRI dalam mengikis habis pimpinan G 30 S/PKI.

Pada tanggal 23 Oktober 1965 satu Kompi RPKAD bergerak ke Wonogiri. Jalan menuju ke daerah tersebut telah dirusak, dan diberi rintangan oleh orang-orang PKI. Dalam gerakan ke Wonogiri tersebut, pasukan RPKAD telah berhasil menangkap 115 orang anggota G 30 S/PKI, dan juga disita sejumlah senjata dan dokumen.

Sementara itu, di Klaten terjadi pengepungan terhadap Dodik V Klaten yang dilakukan oleh ratusan rakyat pengikut G 30 S dengan tujuan untuk merebut senjata. Pengepungan tersebut terjadi pada pukul 03.00 subuh, dan mereka telah berhasil memasuki halaman Dodik tersebut. Akan tetapi usaha penyerbuan itu dapat digagalkan, dan 135 orang penyerbu dapat ditangkap.

Pada tanggal 26 Oktober 1965 dalam rangka intensifikasi operasi yang akan dilancarkan, Kolonel Sarwo Edhie telah menyelenggarakan rapat “Gabungan Staf Keamanan Surakarta” (GSKS) di Skodim Surakarta yang anggotanya terdiri atas :

• Dan Brigif 6, Kolonel Ashari
• Dan Dim Surakarta, Letkol Ezi Suharto
• Dan Polres Surakarta, Ajun Komisaris Besar Polisi Drs. Sarwono.
• Kejaksaan Surakarta
• Dan Pangkalan Udara Panasan Surakarta, Letkol Soejoto
• Wali Kota Surakarta
• Kolonel Ranuwidjaja selaku wakil dari Kodam VII.

Hasil dari rapat Gabungan Staf Keamanan Surakarta tersebut adalah sebagai berikut:

• Tidak memberi kesempatan kepada G 30 S/PKI untuk mengadakan konsentrasi/konsolidasi dengan diikuti perang urat syaraf, peranq pamflet, sambil diimbangi oleh penerangan-peneranqan secara intensif guna mencapai “showing down”.
• Garis strategi adalah mengkonsolidasi daerah yang sudah kita kuasai. Selanjutnya selangkah demi selangkah kita melebarkan sayap untuk memperkecil bidang gerak G 30 S/PKI.
• Membantu serta mengerahkan potensi massa non komunis yang terdiri dari golongan nasionalis dan agama melawan massa komunis, karena massa harus dilawan massa.
• Di dalam konsolidasi dan opstelling, perlu diadakan aksi.
• Memisahkan massa G 30 S/PKI dengan pimpinannya.

Dalam kegiatan G 30 S/PKI di daerah Jawa Tengah, telah ikut terlibat beberapa orang pejabat pemerintahan, antara lain Bupati Boyolali, Bupati Karanganyar Drs.Harun Al Rasjid, dan Walikota Surakarta Utoyo Ramelan.

Pada tanggal 27 Oktober 1965, Gubernur Jawa Tengah telah mengangkat Letkol Sumanta menjadi Walikota Surakarta, Letkol Saebani sebagai Bupati Boyolali, dan Kompol I Drs. Kargono sebagai Bupati Karanganyar.

Pada bulan November 1965, pelaksanaan operasi terhadap G 30 S/PKI mendapat bantuan dari Brigade Infanteri 4/Diponegero di bawah pimpinan Kolonel Yasir Hadibroto. Bertugas secara bergiliran yaitu Batalyon E, F, dan G, dan masing-masing ditempatkan di Boyolali, Klaten dan Solo.

Dengan datangnya pasukan tersebut, beban tugas yang dipikul pasukan RPKAD menjadi ringan. Akibatnya ruang gerak sisa-sisa G 30 S/PKI menjadi semakin sempit, dan tinggal menunggu kehancurannya. Pada tanggal 22 November 1965 pukul 21.00, tokoh utama G30S/PKI D.N. Aidit berhasil ditangkap hidup-hidup di kampung Sambeng Gede, Surakarta.

Selanjutnya pada tanggal 1 Desember 1965, dalam rangka untuk mengintensifkan pencarian dan penghancuran sisa-sisa G 30 S/PKI, telah dibentuk Komando Operasi Merapi. Susunan Komando sebagai berikut :

1. Komandan : Kolonel Sarwo Edhi Wibowo
2. Seksi I : Mayor Taher, Pasi I Kodam VII dpb Parako
3. Seksi II : Mayor Sutjipto
4. Pelaksana : Mayor C.I. Santoso dibantu oleh Kapten Darjono (Kasi I Parako yang turba, merangkap Wa Dan Yon I menghadapi khusus Operasi Merapi dalam rangka pengejaran serta penangkapan ex Kolonel Sahirman dkk).
5. Pasukan-pasukan yang diergunakan :
– Kompi Urip Kompi
– Kajat Kompi Tedja
– Kompi Sembiring
– Dibantu oleh Kompi Panzer 2 Ton (dpb Lettu Mukajat) ditambah dengan 3 helikopter AD yang dipimpin oleh Letkol Widodo.

Sementara itu, dalam menghadapi serangan dan pembunuhan¬-pembunuhan yang dilakukan G 30 S/PKI dengan cara mengerahkan massa di daerah Surakarta, Boyolali dan Klaten, Komando Operasi Merapi menghadapinya dengan mengerahkan massa pula.

Beratus-¬ratus pemuda dilatih oleh para anggota RPKAD tentang cara-cara mengunakan senjata dan memelihara kampung halaman beserta keluarganya. Mereka juga dilatih mengumpulkan informasi dalam rangka membantu ABRI. Taktik pengerahan massa ini ternyata berhasil. Rakyat bangkit mendampingi ABRI menumpas hasil sisa-sisa G30S/PKI.

Pada tanggal 8 Desember 1965, pimpinan Operasi Merpati mendapat informasi, bahwa Kolonel Sahirman dan kawan-kawannya berada di daerah Merbabu. Untuk melaksanakan operasi pengejaran terhadap Kolonel Sahirman dan kawan-kawannya tersebut, dilakukanlah kontak dengan Batalyon E yang berada di Boyolali.

Pada tanggal 9 Oktober, 1 peleton dari Yonif E yang dipimpin oleh Letda Tarwan bergerak ke Cemorosewu di lereng Merbabu bagian Timur. Gerakan pasukan diikuti oleh pemuda-pemuda terlatih dari daerah Ampel.

Pada pukul 05.00 pasukan berhasil menyergap gerombolan yang dicari dan berhasil menewaskan sebagian dari gerombolan itu. Di samping itu berhasil pula ditangkap seorang Gerwani yang bernama Hartini alias Lestari, serta menyita sebuah pistol FN 46 milik Letkol Usman Sastrodibroto.

Pada pukul 11.00 beberapa perwira Staf Komando Operasi Merapi mengadakan pengecekan ke tempat kejadian. Ternyata yang tertembak mati ialah:

1. Letkol Usman Sastrodibroto
2. Mayor Sumadi
3. Kapten Sukirno
4. Darmin, BTI Cabang Boyolali
5. Astiyo, anggota DPRD GR Boyolali
6. Edi Bagiyo, Guru SD merangkap anggota DPRD-GR Boyolali.

Pada hari itu juga dapat ditangkap seorang anggota gerombolan yaitu Letnan Udara I Soekarno atas bantuan rakyat, dan menyita sebuah pistol FN 46. Sisa gerombolan yang diperkirakan berjumlah 9 orang berhasil melarikan diri.

Pada tanggal 10 Oktober 1965, dua peleton pasukan RPKAD di bawah pimpinan Letda Dawud, melakukan pengejaran ke Cemorosewu, Candisari dan Jlaren. Ketika itu TNI berhasil menangkap seorang gerombolan bernama Pawirodono, dan menyita sebuah sten. Pada tanggal 13 Desember 1965, satu peleton RPKAD melanjutkan tugas pengejaran.

Selanjutnya sebagai akibat dari tekanan terus-menerus dari pasukan RPKAD dan Batalyon Infanteri E dan F yang bergabung dalam Komando Operasi Merapi, serta diikuti oleh gerakan massa rakyat yang telah disadarkan, maka sisa gerombolan Kolonel Sahirman dan kawan-kawan tidak dapat bertahan lagi. Pada tanggal 14 Desember 1965, Kolonel Sahirman, Kolonel Maryono dan Mayor RW. Sukirno turun dari gunung, dan berhasil disergap dan ditembak mati.

Demikianlah dalam waktu singkat Gerakan 30 September di Jawa Tengah dapat dipatahkan. Kepercayaan rakyat kepada pemerintah kembali pulih, karena tindakan-tindakan pemerintah yang positif dalam memulihkan keamanan dan ketertiban, serta kerjasama yang baik antara pemerintah dan rakyat dalam berbagai tugas negara.

Pada tanggal 25 Desember 1965 pasukan RPKAD telah menyerahkan kembali tugas keamanan daerah kepada pemerintah dan pimpinan militer setempat. Selanjutnya, pasukan RPKAD segera bergerak menuju Jakarta untuk menunaikan tugas-tugas baru. (ARS)

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here