Home Pemberontakan Penumpasan G30S PKI 1965 di Jawa Tengah (Bagian 1)

Penumpasan G30S PKI 1965 di Jawa Tengah (Bagian 1)

229
0

SEJARAHONE.ID – Pangdam VII/Diponegoro Brigjen Surjosumpeno dalam usaha untuk mengamankan jajarannya sebagai akibat kudeta G30S/PKI bertindak cepat dan tegas.

Tindakan Panglima Kodam VII/Diponegoro

Pada malam hari tanggal 1 menjelang tanggal 2 Oktober 1965 Pangdam VII/Diponegoro mengadakan rapat pimpinan di Magelang, karena Garnizun Magelang merupakan satu-satunya garnizun yang tidak mengalami gangguan G 30 S/PKI. Magelang digunakan sebagai basis operasi oleh Pangdam VII/Diponegoro.

Pasukan yang berada di Magelang terdiri atas Batalyon 2 Kavaleri, Batalyon 3 dan Batalyon 11 Artileri Medan, dan Peleton Pioner dari Batalyon 2 Para. Bagi Panglima tidak ada pilihan lain kecuali harus bertindak cepat sebelum para pemberontak berkonsolidasi.

Rencana Panglima sangat sederhana dan terdiri atas tiga tahap. Pertama, memulihkan rantai Komando antara Panglima dengan Korem – Korem dan Brigif – Brigif; kedua, konsolidasi Staf Kodam VII/Diponegoro; ketiga, pemulihan keamanan-ketertiban dengan merebut kembali kota Semarang.

Untuk melaksanakan rencana itu, Panglima hanya dapat menggunakan pasukan-pasukan yang ada di Magelang ditambah dengan Yon “P” dari Brigif 4 yang ada di Gombong dan sisa -sisa kesatuan dari Batalyon Para 3 yang berada di Semarang.

Dalam pelaksanaan operasi pembebasan kota Semarang, Pangdam VII/Diponegoro Brigjen TNI Surjosumpeno mengambil kebijaksanaan untuk mengompakkan kembali jajaran Kodam VIII Diponegoro, dan memisahkan oknum-oknum G 30 S/PKI dari Slagorde Kodam VII/Diponegoro.

Pasukan yang digerakkan dalam operasi pembebasan kota Semarang, dipimpin oleh Letkol Yasin Husein, dengan kekuatan:

• 1 Peleton BTR dibantu 1 Peleton Armed sebagai Infanteri bermotor di bawah pimpinan Lettu Kav. Suwito.
• 1 Peleton BTR dibantu dengan 1 Peleton Armed sebagai lnfanteri bermotor di bawah pimpinan Lettu Kav. Saryono
• 1 Kompi Zipur sebagai Infanteri di bawah pimpinan Lettu Czi Efendi dibantu 1 Paleton tank.

Pada tanggal 2 Oktober 1965 pukul 05.00 (setelah mengalami penundaan 11/2 jam dari rencana) pasukan segera bergerak menuju ke Semarang dipimpin oleh Letnan Kolonel Yasin Husein. Dalam gerakan itu turut pula Pangdam VII/Diponegoro. Untuk menghindari korban di kalangan masyarakat, Panglima memerintahkan menunda pengepungan Markas Kodam VII dan memerintahkan mengambil posisi di Jatingaleh.

Panglima memerintahkan Mayor Hartono dan Mayor Subekti untuk memanggil Kolonel Sahirman dan Letkol Usman Sastrodibroto menghadap Panglima. Ternyata Sahirman dan Usman tidak berada di tempat. Kemudian Panglima memerintahkan Letnan Kolonel Soeprapto dan Mayor Soeroto merebut RRI Studio Semarang.

Pasukan Batalyon K pimpinan Mayor Kaderi yang datang dari Solo sebanyak 2 kompi yang semula ditempatkan di Semarang oleh G30S/PKI, di antaranya mengawal Kolonel Sahirman, Kolonel Marjono, Letkol Usman, Mayor Karsidi, Mayor Kirjan ternyata telah ditarik. Dua Kompi yang lain dan satu kompi dari Batalyon D dapat di lokalisir di Srondol.

Tanpa ada perlawanan, Panglima memasuki kembali Markas Kodam VII/Diponegoro. Setelah Markas Kodam VII dan RRI dikuasai, pada hari itu juga Panglima berpidato di radio yang ditujukan kepadajajaran Kodam VII, masyarakat Jawa Tengah dan Daerah Istimewa Yogyakarta, untuk menjelaskan bahwa Pangdam VII/Diponegoro telah memegang pimpinan kembali.

Selanjutnya pada hari itu pula disiarkan berturut-turut Pernyataan Bersama Pangdam VII/Diponegoro, Pangdak IX/Jawa Tengah, Dan Kosional dan Gubernur Jawa Tengah, yang tetap berdiri di belakang Bung Karno.

Pengumuman dari Jenderal Soeharto sangat besar pengaruhnya terhadap rakyat, ditambah dengan seruan Presiden Soekarno tentang pencegahan pertumpahan darah dan konflik bersenjata. Sejak itu, G 30S/PKI kehilangan dukungan bersenjata. Banyak anggota pasukan yang sadar dan merasa dirinya tertipu. Kesatuan-kesatuan yang diperalat G30S/PKI, kemudian kembali ke pangkalannya masing¬-masing.

Di Purwokerto pada tanggal 3 Oktober 1965, Letkol Soemitro menyerah kepada Kolonel Tjiptono Setyabudi, Komandan Korem 071. Dengan demikian Komando Rem 071 dapat dipulihkan: Sedangkan perwira lainnya, seperti Mayor Trisnadi Kasi I, dan Mayor Bernadi Kasi III Korem 071 ditangkap.

Di Solo pada tanggal 4 Oktober 1965 Kolonel Ashari Komandan Brigif 6, beserta perwira-perwira lainnya yang ditawan oleh G30S/PKI dibebaskan pula. Di Salatiga pemimpin-pemimpin G30S/PKI merasa takut akibat pameran kekuatan yang dilancarkan oleh Kolonel Sudjono Kasdam VII. Ia menempatkan beberapa kendaraan lapis baja di tempat-tempat yang strategis, sehingga Letkol Idris menyerah tanpa syarat, dan Dan Rem 073 Kolonel Sukardi bebas dari tahanan G30S/PKI.

Misi Kasdam VII yang diikuti oleh Letkol Mardeo Ass-7 dan Letkol Purwosutedjo SH serta Kapten Iskandar berhasil. Di Yogyakarta, pada tanggal 4 Oktober 1965 Kapten Surjotomo mantan Wakil Komandan Batalyon 451 (Yon L) sebagai utusan pribadi Pangdam VII/Diponegoro menemui Batalyon tersebut dengan tugas:

1) Mengembalikan Komando Korem 072 kepada Dan Rem 072 Kolonel Katamso.
2) Mengamankan Yon L dan Yon C dari pengaruh G 30 S/PKI.

Tugas ini baru sebagian yang dapat dilaksanakan yaitu menormalisir situasi daerah Korem 072, sedangkan menemukan Dan Rem 072 beserta Kas Rem-nya belum terlaksana.

Pada tanggal 5 Oktober pukul 10.00, Panglima datang ke Markas Korem 072 dan mengadakan briefing dengan seluruh Komandan Kodim, Batalyon, Kompi di Aula Rem 072 untuk menjelaskan situasi yang sebenarnya. Briefing berjalan dengan lancar. Pada saat itu juga untuk mengisi kekosongan pimpinan Korem 072, Kolonel Widodo Ass. 4 Kodam VII ditunjuk sebagai careteker Komandan Korem 072 berdasarkan pertimbangan keamanan. Perjalanan Pangdam VII sendiri dari Semarang pun tidak menemui kesulitan.

Pada tanggal 5 Oktober 1965 itu pula Mayor Kaderi beserta 2 kompi anak buahnya yang mengawal Kolonel Sahirman telah memisahkan diri dari tokoh G 30 S/PKI tersebut. Ia melaporkan secara tertulis kepada Panglima tentang kembalinya ke pangkalan di Solo.

Dengan demikian, dalam jangka waktu hanya lima hari, pemulihan garis komando di jajaran Kodam VII dengan Korem-¬Korem dan Brigif-Brigif telah pulih kembali. Di Semarang, Mayor Sukirjan Wa Ass-5 dan Mayor Karsidi Wa Ass-2 menyerah. Pemulihan keamanan dan ketertiban di wilayah Kodam VIII Diponegoro dilaksanakan terutama dalam menghadapi ormas¬-ormas dan orpol-orpol yang anti Pancasila.

PKI jauh sebelum pecahnya kudeta G 30 S/PKI nyata-nyata telah menanamkan elemen-elemen komunis dalam tubuh ABRI umumnya jajaran Kodam VII khususnya, dan telah mempersiapkan tenaga bantuan politis, materiil, personil secara sembunyi-sembunyi.

Ketika Kodam VII mengadakan regrouping, mereka telah menggunakan kesempatan itu untuk menempatkan orang-orang binaannya pada jabatan-jabatan tertentu khususnya pada bidang intelijen, personalia, dan territorial. Ketika pengkhianatan/pemberontakan G30S/PKI meletus, maka terasa sekali bahwa bidang-bidang tersebut menjadi lumpuh sama sekali.

Berhubungan dengan itu, maka dalam pelaksanaan konsolidasi itu, pimpinan Kodam VII/Diponegoro betul-betul harus mengerahkan tenaga dan fikiran dalam mengkonsolidasikan mental ideologis satuan-satuan dalam slagorde Kodam VII.

Untuk penyelesaian personalia dilakukan secara prosedural dan institusionil militer serta pergeseran-pergeseran, dan penggantian-penggantian personil yang telah terlibat dalam petualangan G30S/PKI baik secara langsung maupun tidak langsung dengan pejabat-pejabat yang dapat diandalkan kejujurannya baik mental maupun ideologisnya.

Dalam rangka membantu memulihkan keamanan dan ketertiban di Jawa Tengah, pada tanggal 17 Oktober 1965 pemerintah telah mengirimkan kesatuan RPKAD dari Jakarta menuju ke Semarang dengan kekuatan satu batalyon, yang terdiri atas:

– Kompi Urip
– Kompi Kayat
– Kompi Tanjung
– Kompi Palad Komp
– Panser Kavaleri
– Peleton pasanda Peleton Pomad

Kelompok Khusus (Sejarah Militer dan Penerangan Kostrad). Komandan pasukan adalah Mayor CI Santoso. Pasukan bermalam di desa Tunjang kabupaten Brebes. Hari berikutnya, pasukan melanjutkan perjalanan menuju ke Pekalongan dan tiba di kota Semarang pada pukuI 14.30.

Pada tanggal 12 Oktober 1965 Kelompok Komando Parako di bawah pimpinan Komandan RPKAD Kolonel Sarwo Edhie Wibowo dengan dikawal peleton Letda Sintong Panjaitan tiba di Semarang pada pukul 01.30

Sementara itu, pada pukul 21.00 malam dengan menumpang kereta api, telah pula tiba di Semarang I Ki Yon Kavaleri di bawah pimpinan Mayor Kav. Sunaryo. Mereka ditempatkan di Yon Dodik Angmor.

Pada tanggal 13 Oktober 1965 pukul 08.00 Komandan RPKAD Kolonel Sarwo Edhie Wibowo melaporkan kedatangan pasukannya kepada Pangdam VII/Diponegoro Brigjen TNI Surjosumpeno.

Dalam kesempatan itu, Pangdam VII/Diponegoro berpesan supaya dalam bertindak selalu berpedoman kepada “Ambil ikannya jangan sampai keruh airnya”. Selesai penerimaan oleh Pangdam VII/Diponegoro, dilanjutkan “show of force” (pamer kekuatan) keliling kota Semarang.

Ditemukannya jenazah Kolonel Katamso dan Letkol Sugijono

Sementara itu di Yogyakarta usaha pencarian terhadap Kolonel Katamso dan Letkol Sugijono dilakukan oleh tim Kapten Surjotomo tanpa mengenal lelah. Jerih payahnya terobati setelah berhasil mendapat keterangan positif tentang nasib kedua perwira itu.

Di dalam kompleks asrama Yon L Kentungan, pada tanggal 10 Oktober 1965 ditemukan timbunan tanah yang diduga sebagai tempat penguburan kedua perwira itu. Untuk membuktikannya, ia menghadapi resiko yang berat karena Yon L masih berada di asrama tersebut.

Tanggal 18 Oktober 1965, pasukan-pasukan Yon L diberangkatkan ke luar Jawa dalam rangka tugas Dwikora. Kesempatan ini dipergunakan sebaik-baiknya. Sebuah team yang dipimpin oleh Mayor CPM Moh. Said beserta anggota POM, Kesehatan Rem 072, Zi Bang Rem 072 ditugaskan untuk membongkar tempat itu.

Hari Pembongkaran ditentukan tanggal 20 Oktober 1965, tetapi karena ada perintah Panglima pelaksanaannya ditunda sehari Pada tanggal 21 Oktober 1965, atas perintah Panglima timbunan tanah dibongkar.

Pada pukul 07.00, jenazah kedua Pamen Rem 072 dapat diangkat. Selanjutnya dengan iring-iringan kendaraan yang didahului dengan dua buah panser dan pengawal RPKAD, kedua jenazah dibawa ke Kesehatan Korem 072 untuk diotopsi oleh team dokter yang dipimpin Kolonel Dr. Sutarto.

Dengan diketemukannya jenazah Dan Rem 072 dan Kas Rem 072 tersebut, masyarakat Yogyakarta khususnya dan Jawa Tengah pada umumnya meluap amarahnya terhadap G 30 S/PKI.

Kedua jenazah ini diberangkatkan ke Taman Makam Pahlawan Kusumanegara pada tanggal 22 Oktober 1965 dengan mendapat perhatian yang luar biasa dari masyarakat Yogyakarta dan sekitarnya. Jawa Tengah dinyatakan berkabung selama 7 hari.

Sementara itu, ex Mayor Muljono yang telah melarikan diri sejak tanggal 5 Oktober 1965, tertangkap di Kelurahan Karanggeneng, Boyolali pada tanggal 18 Oktober 1965. Orang inilah yang bertanggungjawab atas terbunuhnya Dan Rem 072 beserta Kas Remnya. (ARS)

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here