Home Opini Pemerintah Harus Tempatkan Tan Malaka pada Porsi Tepat

Pemerintah Harus Tempatkan Tan Malaka pada Porsi Tepat

180
0

Oleh: Erwin C Sihombing

SejarahOne.id – Sejarawan Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) Asvi Warman Adam menilai, tokoh kiri Indonesia Tan Malaka hanya dijadikan legenda dan bukan sebagai pahlawan apalagi tokoh politik. Sebab gagasan-gagasannya dalam bernegara tidak mampu diterjemahkan oleh pengikut-pengikutnya.

Padahal, jauh sebelum Soekarno maupun Hatta menggagas Republik Indonesia, Tan sudah terlebih dulu menggagasnya pada 1925 melalui karyanya yang berjudul “Naar de Republiek Indonesia” (Menuju Republik Indonesia). Hal itu ditegaskan oleh Asvi dalam acara diskusi dan peluncuran buku “Tan Malaka, Gerakan Kiri dan Revolusi Jilid 4” di Jakarta.

Turut hadir dalam acara tersebut Soegeng Sarjadi, Peneliti Koninklijk Instituut voor Taal-, Land-en Volkenkunde (KITLV), Leiden, Belanda dan penulis buku Tan Malaka Harry A Poeze, sejarawan Bonnie Triyana, peneliti LIPI Hermawan Sulistyo, dan Fadjroel Rachman. “Tan Malaka dijadikan legenda tetapi pemikirannya tidak dijabarkan dalam bentuk aksi,” kata Asvi.

Menurut Asvi, kondisi tersebut yang membuat Partai Musyawarah Rakyat Banyak (Murba) yang didirikan Tan tidak berkembang, kendati diisi oleh tokoh-tokoh muda progresif seperti Iwa Kusumasumantri, Chaerul Saleh, Adam Malik, Sukarni, dan Prijono.

Upaya Murba mendekatkan diri dengan Partai Komunis Indonesia (PKI) pasca Tan tewas dieksekusi di Kediri 21 Februari 1949 juga tidak mampu menyelamatkan Murba dari kehancuran, sebab pertikaian Tan dengan Muso telah mendarah daging. Imbasnya, pada Pemilu 1955 Murba hanya mendapat dua kursi dari 257 yang diperebutkan.

Beruntung, kata Asvi, Soekarno melalui Demokrasi Terpimpin mengangkat Murba sebagai penyeimbang PKI. Bahkan, tokoh-tokoh Murba, seperti Chaerul Saleh dan Prijono masuk kabinet. Adam Malik dan Sukarni diangkat menjadi Duta Besar di Moskow, dan Bejing. Tan pun diangkat sebagai pahlawan nasional tahun 1963.

Dalam situasi sekarang, Tan juga hanya dijadikan sebagai mitos. Sosoknya seakan tidak diakui sebagai pahlawan nasional. Namanya dilenyapkan dari buku sejarah oleh rezim orde baru, yang terlalu alergi dengan tokoh-tokoh komunis.

Tan merupakan tokoh politik dan pergerakan yang dikagumi, karena bukan hanya gagasannya tetapi juga keberaniannya. Dia berjuang melalui PKI, pernah berbicara di Komintern namun harus terhempas karena berselisih paham dengan Muso pada pemberontakan PKI 1926/1927. Tan juga tidak terlibat dalam peristiwa Madiun 1948.

Tan Malaka lebih dikenal sebagai sosoknya yang kerap dikaitkan dengan mistis karena hidup sebagai eksodus dari Pandan Gadang, Bukit Tinggi, Batavia, Semarang, Yogyakarta, Bandung, Kediri, Surabaya, Amsterdam, Berlin, Moskow, Amoy, Shanghai, Kanton, Manila, Saigon, Bangkok, Hong Kong, Singapura, Rangon, dan Penang.

Tan disebut lihai meloloskan diri dari kejaran intelijen Belanda yang terus memburunya, sehingga disebut jago menghilang. Dia melanglang buana selama 30 tahun hingga akhirnya tewas dieksekusi di negara yang kemerdekaannya dia perjuangkan.

Menurut Asvi, pemerintah harus menempatkan Tan dalam porsi yang tepat. Ditemukannya makam Tan di Kediri, diusulkan sebaiknya dipindahkan ke Taman Makam Pahlawan Kalibata. Gagasan Tan hingga kini juga masih relevan bahkan, Soekarno menyebutnya sebagai guru dan sosok yang mahir dalam revolusi.

“Dengan dipindahkan ke Kalibata maka itu merupakan pengakuan pemerintah akan Pahlawan Tan Malaka dan (nama) Tan Malaka sudah direhabilitasi. Tan tidak mewariskan partai tetapi dia meninggalkan pemikiran yang brilian,” katanya.

Harry A Poeze meyakini, temuannya di Desa Selopanggung, Kediri, Jawa Timur pada 2009 merupakan makam Tan. Sebab data-data yang dimilikinya telah mengkonfirmasi hal itu.

Data-data yang dimaksud adalah kerangka tinggi badan mayat dalam kubur yang serupa dengan tinggi Tan, yaitu 167 cm. Tubuhnya ditemukan dengan kondisi tangan terikat ke belakang.

Poetze meyakini, Tan tewas dieksekusi oleh tentara bernama Soekotjo. Selain itu umur jasad juga cocok dengan Tan yang kelahiran 2 Juni 1897. “Tetapi makam dan jazad itu harus diuji secara ilmiah,” kata Poeze.

Sumber: Suara Pembaruan

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here