Home Uncategorized Pembangunan Rel Kereta di Masa Penjajahan

Pembangunan Rel Kereta di Masa Penjajahan

59
0

SEJARAHONE.ID – Pada periode tahun 1897-1914, membangun jalur kereta api dengan panjang 373 km . Jalur kereta tersebut menghubungkan Semarang dengan Cirebon hingga ke Kadhipaten di ujung barat. Pembangunan jalur kereta itu dilakukan oleh Belanda de Semarang–Cheribon Stoomtram Maatschappij, N.V. (SCS) , yakni  salah satu perusahaan pada zaman kolonial  Hindia Belanda.

 Jalur ini juga melewati kota-kota di sepanjang pantai Utara Jawa ke arah barat, seperti Kendal, Pekalongan, Tegal, dll. Dahulu stasiun dari jalur ini berada di Jalan Poncol. Sekarang diambil alih oleh PT KAI dan menjadi Stasiun Poncol.

Sejarah Jalur Kereta Api Semarang- Cirebon ( Artikel 1 ) | Rizal Akustika

Stasiun Kereta Cirebon 1914

Meskipun diberi nama SCS, kantor pusatnya sendiri berada di Tegal. Kantor pusatnya dikenal di kalangan masyarakat sebagai “Gedung Birao”.

Awal Pembangunan Jalur Kereta Cirebon-Semarang

Jaringan rel SCS (garis merah tebal) per 1913

VOC dan pemerintah Belanda melakukan pembangunan rel kereta api untuk mendukung pengangkutan penumpang dan gula di jalur perdagangan lintas utara Jawa. Belinda membutuhkan  sebuah sistem transportasi massal. Di lintas utara Jawa sendiri terutama di jalur antara Semarang, Pekalongan, Tegal, dan Cirebon terdapat 54 pabrik gula yang beroperasi pada masa itu.

SCS didirikan pada tahun 1895, berdasarkan konsesi yang sudah diterbitkan pada tahun 1884 dan dialihkan ke Financiel Maatschappij van Nilverheidsondernemingen in Nederlandsch-Indië (sebuah perusahaan penghimpun modal Hindia Belanda) pada tahun 1893, serta menjadi awal pembangunan jalur kereta api di rute Semarang–Cirebon.

Dalam verslag yang dibuat oleh SCS, jalur kereta apinya dimulai dari Semarang (Pendrikan) hingga Kendal (bukan dari Poncol) pada tanggal 2 Mei 1897. Jalur ini kemudian dibagi menjadi dua wilayah kerja, yaitu dari arah Cirebon (Cheribon) serta dari arah Semarang. Jalur utama SCS ini selesai dengan dibukanya jalur menuju Pemalang pada tanggal 1 Februari 1899.

Trase SCS awalnya berbeda dengan trase jalur kereta api Semarang–Cirebon sekarang. Pertama, jalurnya melewati Kota Kendal (sebagai segmen Kalibodri–Kendal–Kaliwungu). Kedua, pada saat mencapai Waruduwur, jalurnya membelok ke arah Sindanglaut hingga akhirnya bertemu di Bedilan. Ketiga, terdapat jalur trem di Kaligangsa.

Sebelum ada jalur SCS, terlebih dahulu ada jalur kereta api Tegal menuju Balapulang yang dibangun oleh Javasche Spoorweg Maatschappij. Karena JSM tidak mampu bertahan lama mengingat biaya operasional dan utang yang membengkak, maka pada tanggal 16 September 1895, SCS resmi mengakusisi saham, jalur, dan seluruh layanan JSM.

Pembangunan Jalur Baru

Pada awal dekade 1910-an, Staatsspoorwegen (SS) mulai menanamkan pengaruhnya di Cirebon. SS, sebagai perusahaan kereta api rel berat dengan armadanya yang besar-besar dan lalu lintas angkutan yang tinggi sehingga dimungkinkan arus lalu lintas kereta api yang menuju Cirebon juga dipastikan akan tinggi.

Kejadian yang sama juga terjadi di Semarang. Stasiun Samarang yang selama ini menjadi tulang punggung Nederlandsch-Indische Spoorweg Maatschappij (NIS) menjadi tidak efisien karena terendam air rob. Sebagai penggantinya dibangunlah Stasiun Semarang Tawang pada pertengahan tahun 1914.

Pada akibatnya, SCS memutuskan untuk merancang jalur baru. Jalur kereta api tersebut adalah shortcut Kalibodri–Kaliwungu tanpa via Kendal (1 Januari 1914) serta jalur shortcut dari Bedilan menuju Waruduwur untuk mendukung Pabrik Gula Tersana Baru (1 Mei 1915)

Pembangunan lintas ini juga mengharuskan adanya stasiun baru. Pada tanggal 1 November 1914, Stasiun Cirebon SCS yang baru (Prujakan) selesai dan menghubungkan jalurnya dengan Stasiun Cirebon. Stasiun Pendrikan juga dipindah, digantikan dengan stasiun baru di Poncol. Bangunan tersebut merupakan stasiun yang dibangun pada tahun 1914; dirancang oleh arsitek Henri Maclaine Pont, seorang arsitek berkebangsaan Belanda. Tidak seperti karya Pont yang pertama (Kantor SCS Tegal—yang tidak memiliki keistimewaan apa pun dari sisi arsitekturnya), karya Pont yang satu ini pernah ikut ambil bagian dalam forum internasional Paris Exposition di Prancis, 1925. Perlu dicatat bahwa tidak ada pembangunan jalur penghubung antara Stasiun Poncol dengan Stasiun Tawang.

Selain Stasiun Poncol, Pont juga banyak mendesain bangunan-bangunan milik SCS, seperti Stasiun Tegal dan kantor pusat SCS.

Jalur lainnya adalah Pekalongan–Wonopringgo dan Cirebon–Kadipaten, namun saat ini jalurnya sudah nonaktif. Saat ini seluruh jalur SCS yang masih aktif sudah berubah menjadi jalur ganda.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here