Home Merdeka Pedagang Islam dan Sejarah Islamisasi Bangsawan (Bagian 1)

Pedagang Islam dan Sejarah Islamisasi Bangsawan (Bagian 1)

83
0

Oleh Hana Wulansari

Sumber-sumber pustaka sejarah menyebutkan bahwa, daerah-daerah yang paling mantap penyebaran Islamnya adalah daerah-daerah yang paling penting dalam perdagangan Internasional, yakni pesisir pesisir Sumatera di Selat Malaka, Semenanjung Malaya, pesisir utara Jawa, Brunei, Sulu, dan Maluku.

Pada abad ke-13  Islam menguasai perdagangan nusantara.

Berdasarkan Buku “Api Sejarah” karya Ahmad Mansur Suryanegara, alur penyebaran Islam di Indonesia berawal dari bagian utara Sumatera. Kemudian Islam tersebar sampai ke daerah-daerah penghasil rempah-rempah di Indonesia Timur.

Kesultanan Aceh

Awal abad ke-13 telah berdiri suatu kerajaan Islam di ujung Sumatera Utara. Kemudian segera disusul Kesultanan Aceh yang diperkirakan telah berdiri sekitar penghujung abad ke-143 yang memainkan peranan utama dalam sejarah Indonesia. Kemudian sekitar permulaan abad ke-15, Islam telah memperkuat kedudukannya di Malaka, pusat rute perdagangan Asia Tenggara. Pada pertengahan kedua abad ke-165,  suatu dinasti baru yaitu Kesultanan Mataram memerintah Jawa Tengah, dan berhasil menaklukkan kerajaan-kerajaan.

Pendiri kerajaan Mataram dan sekaligus pemimpin pertama adalah Sutawijaya yang bergelar Panembahan Senopati, memerintah pada 1586-1601. Kemudian, pada permulaan abad ke-17 kemenangan agama Islam hampir meliputi sebagian besar wilayah Indonesia. Pemeluk-pemeluk Islam yang pertama antara lain meliputi para pedagang, yang segera disusul oleh orangorang kota baik dari lapisan atas maupun lapisan bawah. Masa-masa kerajaan Islam tersebut menurut Ahmad Mansur Suryanegara dalam Api Sejarah, disebut masa perkembangan agama Islam, yakni masa umat Islam telah membangunkekuasaan politik Islam atau kesultanan.

Pada masa perkembangan ini pula, perlu diketahui adanya perpindahan dinasti-dinasti di Nusantara yang memerintah memeluk agama Islam, yakni adanya raja Hindu melakukan konversi agama menjadi penganut Islam sekaligus terjadi pembentukan kekuasaan politik Islam atau kesultanan. Istilah kerajaan berubah menjadi kesultanan. Tidak lagi disebut raja melainkan sultan.

Raja tersebut tidak kehilangan kekuasaannya dan tetap diakui oleh mayoritas rakyatnya sebagai sultan yang sah, peristiwa ini menurut J.C. van Leur terjadi karena political motive (bermotivasi kekuasaan). Seperti terbentuknya Dinasti baru Mataram, yang menghadapi kenyataan bahwa dia digempur oleh kekuatan gabungan antara pangeran-pangeran Islam yang menuntut kedaulatan terhadap daerah-daerah pesisir yang kaya dan  Kesultanan Banten yang Islam di Jawa Barat.

Akhirnya para penguasa Mataram memeluk agama Islam yang dilakukan oleh kalangan Boepati hingga Raja di Nusantara Indonesia, menurut W.F. Wertheim karena pengaruh rasa tidak aman dari ancaman imperialisme Katolik Portugis ataupun imperialisme Protestan Belanda atau Inggris. Kerajaan Islam ini menjadi kekuatan yang menaklukkan penjajah di nusantara, a dan kelak dilanjutkan dengan melawan VOC.

Dinasti Prabu Siliwangi

Peristiwa lainnya adalah proses Islamisasi Dinasti Prabu Siliwangi dan tumbuhnya kekuasaan politik Islam di Jawa Barat melalui pernikahan yang menjadi sebab awal masuknya Islam di kalangan Istana Pakuan Padjadjaran.Dimulai pada masa Raden Manah Rarasa atau Pamanah Rasa, lebih dikenal sebagai Prabu Siliwangi dari Pakuan Padjadjaran dengan gelar Prabu Dewata Wisesa. Melalui pernikahan Prabu Siliwangi dengan Nyai Subang Larang, santri dari Syekh Hasanudin atau dikenal pula sebagai Syekh Qura, menjadi sebab terjadinya Islamisasi Prabu Siliwangi dan Dinastinya.

Pernikahan tersebut dilaksanakan secara Islami, dan dari pernikahan tersebut melahirkan dua orang putra dan seorang putri. Dari putri Prabu Siliwangi, Nyai Rara Santang, yang menikah dengan Maolana Sultan Mahmud atau Syarif Abdullah melahirkan Syarif Hidayatullah atau Sunan Gunung Jati sebagai salah seorang dari wali sanga adalah cucu Prabu Siliwangi.

Islam bukan saja datang untuk menetap dan menyebarkan pengaruhnya, karena ia telah mempermainkan peranan politik dan ideologis yang luar biasa pentingnya.

Motif politik atau motivasi kekuasaan yang diwujudkan dengan konversi agama masuk ke Islam sebagai bukti atau pengakuan para raja saat itu bahwa Islam telah menjadi arus bawah yang kuat dan berpengaruh besar terhadap proses penyuburan tanah atau lapisan masyarakat bawah. Dampaknya membentuk pandangan para penguasa saat itu untuk menyelamatkan diri dari bencana banjir imperialis barat kecuali dengan berpihak kepada agamanya rakyat, yakni Islam. (bersambung)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here