Home Merdeka Pedagang Islam dan Sejarah Islamisasi Bangsawan (Bagian 2)

Pedagang Islam dan Sejarah Islamisasi Bangsawan (Bagian 2)

99
0

Oleh Hana Wulansari

Pada bagian pertama tulisan ini disebutkan bahwa Islam masuk ke nusantara melalui jalur perdagangan, awalnya menguasai perdagangan nusantara di wilayah-wilayah pesisir. Diantaranya adalah perdagangan rempah-rempah. Pada awalnya Islam menguasai wilayah pesisir , yakni Sumatera di Selat Malaka, Semenanjung Malaya, pesisir utara Jawa, Brunei, Sulu, dan Maluku.

Kemudian, di Pulau Jawa yakni pada masa Dinasti Prabu Siliwangi, Islamisasi berlangsung melalui proses pernikahan Prabu Siliwangi dengan Nyai Subang Larang, santri dari Syekh Hasanudin.

Kesultanan Aceh

Kemudian, pada abad ke-16, Kesultanan Aceh mulai memegang peran penting di bagian utara Pulau Sumatra. Pengaruh Aceh ini meluas dari Barus di sebelah utara hingga sebelah selatan di daerah Indrapura. Di bawah pimpinan Sultan Ali Muqhayat Syah, Aceh mulai melebarkan kekuasaannya ke daerah-daerah sekitarnya.

Kemajuan Aceh pada masa itu sangat terpengaruh oleh kemunduran Kerajaan Malaka yang mengalami pendudukan  orang-orang Portugis. Kesultanan Aceh juga memiliki hubungan politik luar negeri yang telah menampilkan Kesultanan Aceh sebagai suatu kekuatan nyata di daerah Asia Tenggara, baik politik, ekonomi, ataupun militer, yakni pada masa Kesultanan Perlak dan Kesultanan Samudra/Pase sudah terjalin hubungan diplomatik. Kesulatanan Aceh telah melakukan hubungan diplomatik dengan negara-negara lain seperti Gujarat, India, Malaka, Persia, Arab, serta kerajaan-kerajaan di Jawa, Malaya, Cina dan lain-lain.

Aceh dan Kesultanan Turki

Ketika mulai pecah perang antara Aceh-Belanda (1873), sebuah surat kabar yang terbit di Istambul menceritakan, bahwa dalam tahun 1516 Sultan Aceh Firman Syah telah menghubungi Siman Pasya Wazir dari Sultan Selim I Turki untuk mengikat tali persahabatan.

Permintaan Aceh disetujui oleh Turki dan semenjak itu hubungan keduanya telah dimulai. Apalagi setelah Sultan Ali Alauddin Mansur Syah (1838-1870) mengadakan kontak niaga dengan Kerajaan Katolik Perancis, di bawah Napoleon III pada 1852 M. Hal ini diikuti dengan meningkatkan hubungan diplomatik antara Kesultanan Aceh dan Kesultanan Turki pada 1869 M. Dilanjutkan dengan upaya peningkatan hubungan diplomatik pada masa Sultan Mahmud Syah (1870-1874) antara Kesultanan Aceh dengan Turki, Inggris, Amerika Serikat dan Republik Perancis di bawah Presiden Thiers.

Kerajaan Demak

Jika keadaan Aceh pada abad ke-16 merupakan salah satu kerajaan Islam yang berpengaruh, Demak juga merupakan salah satu kerajaan Islam yang berkembang di Pantai Utara Pulau Jawa pada abad ke-15. Islam masuk ke Demak melalui utusan dakwah dari Khilafah Ustmani, yakni melalui Wali Songo. Dapat dikatakan bahwa pada pertengahan abad ke-16 Demak telah menguasai hampir seluruh Pulau Jawa.

Bagian pedalaman dari Kerajaan Majapahit hampir semua telah menjadi daerah taklukan Demak. Sedangkan di bagian Barat sebagian daerah Pajajaran telah menjadi daerah yang ada di bawah pengaruh Demak. Selain itu, Demak juga memiliki hubungan dagang yang baik dengan Malaka.

Portugis Menaklukan Malaka

Pada awalnya Demak memiliki hubungan dagang yang baik dengan Malaka. Akan tetapi hubungan itu mulai terganggu sejak Malaka dikuasai oleh Portugis. Setelah Portugis berhasil menaklukkan Malaka, 1511 M, sebagai pusat niaga Islam dari tangan kekuasaan Sultan Mahmud, timbullah kekacauan sistem niaga secara damai berubah menjadi sistem perampokan.

Kerajaan Katolik Portugis tidak memiliki komoditi yang dapat dibarterkan di Malaka. Maka terjadi perubahan hubungan dagang menjadi perampokan. Umat Islam merasa tertindas sehingga memindahkan pusat niaganya ke Brunei.

Selain itu, imperialis Potugis juga mengharapkan hubungan niaga rempah-rempah antara Nusantara dengan Kesultanan Turki terputus. Dari kondisi itulah, Kesultanan Demak melancarkan perlawanan bersenjata merebut kembali Malaka, 1512 M, demikian juga Kesultanan Aceh. Namun, upaya tersebut mengalami kegagalan.

Perlawanan Kerajaan Islam Terhadap Portugis

Memasuki abad ke-17 M, umat Islam di Indonesia dihadapkan serbuan banyak negara imperialis Barat. Kedua kekuatan imperialis Katolik Portugis dan Spanyol belum berhasil terpatahkan, datang gelombang baru imperialis Protestan Belanda dengan lembaga dagangnya VOC, dan Inggris dengan lembaga dagangnya EIC (The East India Company–Maskapai Hindia Timur Inggris).

Pada tahun-tahun pertama setelah pembentukan VOC hubungan antara mereka dengan penguasa-penguasa kerajaan di Nusantara boleh dikatakan dengan baik karena orang-orang VOC sendiri sedang menghadapi saingan dari orang-orang Portugis. Sebaliknya, beberapa kerajaan Islam waktu itu sedang melakukan reaksi bahkan ada di antaranya telah mengadakan beberapa perlawanan terhadap penetrasi politik Portugis.

Pada tahun-tahun setelah J.P. Coen menjadi Gubernur Jenderal VOC, arah politiknya jelas bukan hanya untuk perdagangan biasa, melainkan untuk melaksanakan monopoli perdagangan. VOC pun berupaya menguasai secara politik, yakni kekuasaan terhadap kerajaan-kerajaan Islam di Indonesia. Sehingga muncullah reaksi-reaksi yang besar bahkan sampai terjadi perang.

Adapun kekuasaan politik Islam atau kesultanan pada abad ke-16 M yang melancarkan perlawanan bersenjata, antara lain adalah: Kesultanan Demak, Kesultanan Cirebon, Kesultanan Banten dan Jayakarta, Kesultanan Aceh, Kesultanan Ternate, Kesultanan Tidore, Kesultanan Ambon, Kesultanan Bacan, Kesultanan Djailolo, Kesultanan Goa, Kesultanan Broenei terhadap imperialis Barat: Kerajaan Katolik Portugis dan Spanyol pada abad ke-16 M.

Kemudian dilanjutkan oleh, Kesultanan Mataram dan Tatar Oekoer, Kesultanan Banten, Kesultanan Goa, Kesultanan Makasar dan Kesultanan Aceh terhadap imperialis Kerajaan Protestan Belanda dan Kerajaan Protestan Anglikan Inggris pada abad ke-17 M.25

Perlawanan atau pemberontakan tersebut pada abad-abad berikutnya di berbagai daerah pada umumnya, merupakan perlawanan terhadap penetrasi politik dan monopoli perdagangan VOC terhadap kerajaan-kerajaan Nusantara./selesai

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here