Home Pahlawan Paklawan-pahlawan Aceh Yang Pantang Menyerah Hadapi Penjajah Belanda

Paklawan-pahlawan Aceh Yang Pantang Menyerah Hadapi Penjajah Belanda

149
0

SEJARAHONE.ID – Julukan Tanah Rencong melekat pada Aceh, yang berasal dari nama senjata tradisional khas Aceh yaitu Rencong. Rakyat Aceh sejak dulu terkenal sangat gagah berani, tidak kalah dengan daerah lainnya di Nusantara yang terus berjuang melawan penjajahan dan berjuang untuk mencapai kemerdekaan hingga titik darah penghabisan. Atas jasa – jasa para pejuang yang tidak ternilai tersebut, gelar pahlawan nasional kemudian disematkan kepada sebagian dari mereka, yang telah dianggap memenuhi beberapa kriteria tertentu yang ditetapkan oleh pemerintah.

Teuku Umar dari Aceh

1. Teuku Umar

Lahir di Meulaboh pada 1854 dan wafat pada 1899 di Meulaboh juga, ia adalah pahlawan nasional dari Aceh yang terkenal, ditetapkan pada 1973. Ia adalah anak seorang Uleebalang bernama Teuku Achmad Mahmud dengan adik perempuan Raja Meulaboh. Teuku Umar berjuang dengan cara pura – pura bekerjasama dengan Belanda dan menerapkan taktik gerilya. Pada usia 19 tahun ia ikut dalam Perang Aceh tahun 1873. Setelah menikah dengan Nyak Sofiah, anak Uleebalang Glumpang, ia lalu menikah lagi dengan Nyak Malighai, putri Panglima Sagi XXV Mukim.

Pada 1880, ia menikahi Cut Nyak Dhien, janda dari Ibrahim Lamnga yang meninggal karena melawan Belanda. Keduanya kemudian berjuang bersama untuk melawan Belanda. Teuku Umar gugur karena peluru musuh pada pertempuran dengan pasukan Jenderal Van Heutsz yang menghadangnya di Meulaboh.

2. Cut Nyak Dhien

Pahlawan nasional wanita ini lahir pada 1850 dan wafat pada 1908. Ia melanjutkan perjuangan Teuku Umar sepeninggalnya untuk melawan pasukan Belanda di pedalaman Meulaboh, Aceh Barat. Cut Nyak Dhien ditangkap Belanda ketika sudah berusia tua dan rabun karena laporan salah seorang pengikutnya bernama Pang Laot. Konon ia melaporkan Cut Nyak Dhien karena merasa iba dengan kondisinya yang telah digerogoti berbagai penyakit. Cut Nyak Dhien yang dibawa ke Banda Aceh kemudian dirawat hingga sembuh. Karena dianggap masih dapat memberikan pengaruh kuat kepada rakyat Aceh, ia kemudian diasingkan ke Sumedang hingga meninggal pada 6 November 1908. Makamnya berada di daerah Gunung Puyuh, Sumedang. Makamnya baru ditemukan pada 1959 setelah dilakukan pencarian atas permintaan Ali Hasan, Gubernur Aceh. Ia diberikan gelar pahlawan nasional pada tahun 1964.

3. Cut Nyak Meutia

Wanita perkasa yang hidup dari tahun 1870 – 1910 ini memimpin perlawanan terhadap penjajah di Aceh Utara. Ia juga melanjutkan perjuangan suaminya, Teuku Cik Tunong yang meninggal dunia. Ia berjuang bersama suami keduanya yang bernama Pang Nanggroe, yang gugur juga pada 16 September 1910. Pada tanggal 24 Oktober 1910, Cut Meutia terlibat bentrok denan pasukan Marsose di Alue Kurieng dan gugur. Gelar pahlawan nasional dari Aceh didapatkannya bersama Cut Nyak Dhien di tahun 1964.

4. Teuku Cik di Tiro

Lahir tahun 1836, Teuku Cik di Tiro adalah seorang ulama sekaligus panglima besar perang Aceh. Pria bernama asli Teuku Muhammad Saman ini muncul menjadi pemimpin perang ketika perlawanan terhadap Belanda mulai menyurut pada 1881. Delapan tahun setelah Belanda menyatakan perang terhadap Aceh, Teuku Cik di Tiro bersama Teuku Chik Pante Kulu mengobarkan semangat untuk melakukan perang Sabil di jalan Allah. Ia hijrah ke Aceh Besar dari Lamlo, Pidie dan menjadikan basis gerilyawan di Desa Meureu, Indrapuri.

Kontur alam Meureu berupa perpaduan antara dataran rendah dan perbukitan dianggap cocok menjadi benteng pertahanan alami. Satu persatu benteng Belanda direbut oleh pasukannya pada 1881, membuat Belanda kewalahan hingga empat kali mengganti gubernur saat masa perlawanan beliau. Ia meninggal karena diracun oleh seorang perempuan Aceh lewat makanan yang disajikan pada 1891 dan dimakamkan di Desa Meureu, Indrapuri. Gelar pahlawan nasional dianugerahkan pada 1973.

5. Nyak Arif

Teuku Nyak Arif lahir di Ulee Lhee, Banda Aceh pada 1899 dan merupakan residen atau gubernur pertama Aceh. Ia adalah keturunan dari Uleebalang Panglima Sagi 26 Mukim, Aceh Besar. Ia adalah orator ulung yang banyak terlibat pada organisasi pergerakan kemerdekaan. Pernah menjadi Ketua Nasional Indische Partij Kutaraja dan menjadi anggota Volksraad pada 1927 – 1931. Mulai tahun 1932 ia memimpin gerakan bawah tanah menentang Belanda, aktif dalam bidang pendidikan dan politik. Ketika terjadi perang antara sebagian kelompok uleebalang dan ulama, Teuku Nyak Arif yang ingin kedua pihal bersatu malah dituduh berkhianat oleh kaum muda PUSA. Ia ditangkap TKR yang mendukung ulama pada Januari 1946 dan ditawan di Takengon, hingga wafat pada 4 Mei 1946. Ia dimakamkan di Lamreueng, Aceh Besar dan digelari pahlawan nasional pada 1974.

6. Sultan Iskandar Muda

7. Teuku Muhammad Hasan

Lahir di Sigli pada 4 April1906, ia seorang aktivis kemerdekaan dan Gubernur pertama Sumatera. Kalangan pergerakan menyebutnya Mr Muhammad Hasan. Ketika bersekolah di Universitas Leiden, Belanda pada usia 25 tahun, ia bergabung dengan sejumlah tokoh pergerakan nasional seperti Muhammad Hatta dan Ali Sastroamidjojo. Pernah juga menjadi salah satu anggota PPKI yang merumuskan dasar – dasar negara Indonesia dengan dipimpin Ir. Soekarno. Ia bersama Syafruddin Prawiranegara membentuk Pemerintah Darurat Republik Indonesia di Bukittinggi, Sumbar ketika terjadi Agresi Militer Belanda II. Ia juga mendirikan Universitas Serambi Mekah yang masih ada hingga sekarang. Teuku Muhammad Hasan meninggal pada 21 September 1997 di usia 91 tahun dan dianugerahi gelar pahlawan nasional pada 2006.

8.Laksamana Malayahati

Salah seorang pejuang perempuan yang berasal dari Kesultanan Aceh, putri dari Laksamana Mahmud Syah. Kakeknya dari ayah adalah Laksamana Muhammad Said Syah, putra Sultan Salahuddin Syah yang memegang kekuasaan sekitar 1530 – 1539 M dan merupakan putra dari Sultan Ibrahim Ali Mughayat Syah (1513 – 1530 M), pendiri Kerajaan Aceh Darussalam. Malahayati pernah menjadi Kepala Barisan Pengawal Istana Panglima Rahasia dan Panglima Protokol Pemerintah dari Sultan Saidil Mukammil Alauddin Riayat Syah IV. Pada 11 September 1599, malahayati memimpin 2000 orang pasukan Inong Balee (janda pahlawan yang gugur) untuk berperang melawan kapal serta benteng Belanda.

Dalam perlawanannya tersebut ia membunuh Cornelis de Houtman dalam pertempuran satu lawan satu di geladak kapal. Gelar Laksamana kemudian disematkan karena keberaniannya ini. Makamnya berada di bukit Krueng Raya, Lamreh, Aceh Besar. Namanya diabadikan dalam banyak hal, antara lain pelabuhan laut di Teluk Krueng Raya, kapal perang jenis Fregat kelas Fatahillah milik TNI AL (KRI Malahayati), Universitas Malahayati di Bandar Lampung, diceritakan kembali dalam film pada 2007, dan dipakai untuk divisi wanita ormas Nasional Demokrat bernama Garda Wanita Malahayati. Gelar pahlawan nasional diberikan pemerintah pada 6 November 2017.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here