Home Opini Nyai Khoiriyah Hasyim: Ulama Perempuan yang Terlupakan

Nyai Khoiriyah Hasyim: Ulama Perempuan yang Terlupakan [2-selesai]

66
0

Oleh: Beggy R (Pegiat Jejak Islam untuk Bangsa)

SejarahOne.id – Lahir tahun 1906, sebagai putri kedua dari ulama besar, KH Hasyim Asy’ari, Khoiriyah Hasyim hidup dalam naungan tuntunan Islam. Beliau dididik langsung oleh KH Hasyim Asy’ari tanpa membaur dengan santri-santri KH Hasyim Asy’ari.

Terkadang dari balik tabir Nyai Khoiriyah mendengar penjelasan dari KH Hasyim Asy’ari mengenai agama Islam.[Srimulyani, Eka. 2012. Women from Islamic Education Institutions in Indonesia: Negotiating Public Spaces. Amsterdam: Amsterdam University Press]

Pada usia 13 tahun ia menikah dengan santri KH Hasyim Asy’ari, yaitu Maksum Ali dari keluarga pesantren Maskunambang, Gresik. Tahun 1921, Seperti lazimnya dalam dunia pesantren, maka KH Maksum Ali kemudian membuka Pesantren Seblak, sekitar 200 m dari Tebuireng, di atas tanah yang pernah dibeli oleh KH Haysim Asy’ari. KH Maksum Ali kemudian memimpin sendiri pesantren tersebut.

Ketika tahun 1933, KH Maksum Ali wafat. Maka diusia yang masih muda, 27 tahun, Nyai Khoiriyah Hasyim mengambil alih kepemimpinan pesantren tersebut. Selama lima tahun ia memimpin Pesantren Seblak (1933-1938).

Di tahun 1938, ia menikah dengan Kiai Muhaimin. Mengikuti sang suami, ia pun pindah ke Makkah. Selain untuk menunaikan ibadah haji, kepergian sang suami ke Makkah adalah untuk menuntut ilmu dari para ulama di Tanah Suci.

Di Tanah Suci, Nyai Khoiriyah tak bisa lepas dari dunia pendidikan. Saat sang suami menjadi kepala Madrasah Darul Ulum di Makkah, menggantikan ulama besar Nusantara, Syeikh Yasin Al-Fadany, tercetuslah ide untuk membentuk madrasah putri pertama di Tanah Suci.

Pada tahun 1942 rencana tersebut akhirnya terwujud. Sebuah madrasah khusus perempuan pertama di Tanah Suci akhirnya dibuka. Madrasah tersebut bernama Madrasah Banat, yang menjadi bagian dari Madrasah Darul Ulum. Hal ini tentu menjadi prestasi tersendiri bagi umat Islam asal Indonesia yang mampu membuka madrasah perempuan pertama di Makkah.

Kiprah Nyai Khoiriyah tak selamanya di Mekkah. Tahun 1956, suaminya, Kiai Muhamin wafat. Ia pun akhirnya kembali ke tanah air setelah hampir 20 tahun di Makkah. Kepulangannya ke Indonesia juga untuk memenuhi ajakan Presiden Soekarno saat itu, untuk mengembangkan pesantren di Indonesia. Ia memang bukan perempuan biasa.

Kedalaman ilmunya diakui banyak pihak. Mantan pemimpin Pesantren Tebuireng, KH Yusuf Hasyim, menyebutnya Kiai Putri. Dan karena keluasan dan kedalaman ilmu beliau pula, Nyai Khoiriyah menjadi satu-satunya perempuan yang mampu duduk di jajaran Bahtsul Masail Nadhlatul Ulama.

Bersama-sama dengan Kiai sepuh lain di NU, Bashul Mashail menjadi otoritas di NU yang bertugas membahas masalah-masalah maudlu’iyah (tematik) dan waqi’iyah (aktual) yang akan menjadi Keputusan Pengurus Besar Nahdlatul Ulama. Di katakan oleh KH. Yusuf Hasyim, Nyai Khoiriyah mampu untuk berargumen dengan Kiai-Kiai lain di Ba’htsul Masail NU.

Kapasitas ilmunya memang tak diragukan lagi. Di Pesantren Salafiyah Seblak, Nyai Khoiriyah-lah yang menguji kemampuan para calon Imam shalat Jumat di sana. Ia menguji bacaan surat Al-Fatihah para calon imam tersebut. Dan tidak semuanya bisa lolos dari ujian tersebut. Ia pun aktif menulis mengenai Islam ke media massa.

Salah satunya adalah tulisannya yang berjudul “Pokok Tjeramah dan Pengertian Antar Mazahib dan Toleransinya” yang dimuat di majalah Gema Islam tahun 1962. Dari tahun 1957 hingga tahun 1968, figurnya tak bisa dilepaskan dari dunia pesantren. Di pesantren Seblak sendiri berdiri Pesantren khusus putri. Lahirnya Pesantren Seblak khusus putri ini tak lepas dari dukungan KH Haysim Asy’ari.

Adalah putri Nyai Khoiriyah Hasyim, Nyai Abidah dan suaminya Kiai Machfudz Anwar, yang memelopori berdirinya pesantren putri tersebut, saat Nyai Khoiriyah berada di Makkah. Tak heran jika jiwa pendidik menurun kepada putrinya, Nyai Abidah. Dengan tangan dingin Nyai Khoiriyah, Nyai Abidah digembleng dengan pendidikan agama.

Kiprahnya di Nadhlatul Ulama pun amat berpengaruh, terutama di Muslimat NU. Muslimat NU didirikan bertujuan untuk melaksanakan tujuan NU dikalangan wanita, untuk melaksanakan syariat Islam menurut haluan Ahlus Sunnah wal Jamaah.

Di Nadhlatul Ulama ia menjadi salah satu anggota Badan Syuriah PBNU. Sebuah posisi yang hanya diiisi oleh Kiai-Kiai senior.[ Baidlowi, Asiyah Hamid. Profil Organisasi Wanita Islam: Studi Kasus Muslimat NU (Makalah Utama) dalam Wanita Islam Indonesia dalam Kajian Tekstual dan Kontekstual, Kumpulan Makalah Seminar. Jakarta: INIS]

Hingga akhir hayatnya, hidupnya selalu dipenuhi panggilan berdakwah. Ia mengisi berbagai majelis taklim. Di pesantren, ia menekankan pada santriwati untuk menuntut aurat. Ia sendiri yang menjadi contoh para santriwati dalam menutup aurat, dengan mengenalkan Kerudung Rubu.’ Sebuah model kerudung yang menutup aurat, dan menyerupai jilbab. Namun sayang, Kiprah dan perjuangan Nyai Khoiriyah sebagai ulama perempuan kini seperti terlupakan.

Kiprahnya sebagai ulama perempuan membuktikan bahwa kehadiran perempuan tetap bermakna besar bagi pesantren dan pendidikan di Indonesia. Benih ilmu yang ditaburnya merentang dari Jombang hingga Mekkah. Nyai Khoiriyah hanyalah salah satu dari banyak Muslimah pembawa perubahan di Indonesia.

Berbagai partisipasi dan prestasi Muslimah di Indonesia bertitik tolak bukan dari argumen kesetaraan gender yang berhawa fenismee. Kiprah mereka, justru bertolak dari kecintaan pada Islam dan tetap berjalan di jalan Islam.

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here