Home Pahlawan Nyai Ahmad Dahlan dan Peranannya dalam Pendirian Sekolah Masyarakat

Nyai Ahmad Dahlan dan Peranannya dalam Pendirian Sekolah Masyarakat

24
0

SEJARAHONE.ID – Siti Walidah atau lebih dikenal Nyai Ahmad Dahlan merupakan salah satu pahlawan perempuan yang dimiliki Indonesia. Siti Walidah merupakan tokoh emansipasi perempuan dengan memberikan pendidikan bagi perempuan. Ia juga mendirikan sekolah-sekolah untuk masyarakat.

Siti Walidah diangkat sebagai Pahlawan Nasional berdasarkan Surat Keputusan Presiden Republik Indonesia Nomor 042/TK/1971, 22 September 1971. Siti Walidah telah berperan aktif dalam pembebasan kaum perempuan dari kebodohan ke dunia ilmu pengetahuan.

PP Muhammadiyah Sambut Baik Film Nyai Ahmad Dahlan | Republika Online

Siti Walidah merasakan keterbelakangan kaum perempuan dalam dunia pendidikan.

Sehingga harus disikapi dengan mencarikan solusi agar masa depan kaum perempuan maju di masa yang akan datang.

Dalam buku Meneladani Kepahlawanan Kaum Wanita (2007) karya Edi Warsidi, Siti Walidah lahir di Desa Pesantren Kauman, Yogyakarat pada 3 Januari 1872. Ia merupakan anak Kiai Penghulu Haji Muhammad Fadhil bin Kiai Penghulu Haji Ibrahim ulama besar disegani masyarakat. Ayahnya juga memangku jabatan Penghulu Keraton Yogyakarta Hadiningrat.

Sejak kecil, Siti Walidah sudah mengenal dan belajar ilmu agama. Sampai usia remaja, ia belum pernah menikmati pendidikan umum. Karena pada waktu itu berkembang pemikiran bahwa sekolah formal untuk laki-laki bukan untuk perempuan.

Pada 1903, Siti Walidah menikah dengan Ahmad Dahlan. Awalnya suami Siti Walidah bernama Muhammad Darwis, kemudian setelah menuaikan haji dan belajar agama dikenal dengan nama Ahmad Dahlan. Bersama suaminya, Siti Walidah ikut berjuang untuk mencerdaskan masyarakat dengan memberikan pendidikan, baik pendidikan agama atau pendidikan umum. Apalagi setelah Ahmad Dahlan mendirikan organisasi Islam bernama Muhamamdiyah pada 1912.

Belanda Mendirikan Sopo Tresno dan Aisyiyah Setelah Muhammadiyah berdiri, Ahmad Dahlan juga memberikan perhatian khusus pada kemajuan perempuan.

Sehingga pada 1914, didirikan Sopo Tresno (siapa cinta) dan Wal’Ashri, Maghribi School. Itu merupakan wadah bagi perempuan.

Dikutip situs Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (kemendikbud), dinamakan Wal’Ashri Maghribi School, karena untuk proses pengajarannya dilakukan waktu sesudah salat asar, dan Maghribi School dilakukan setelah salat magrib. Siti Walidah, ingin mengantarkan kaum ibu-ibu tidak hanya cerdas dalam agama. Tapi cerdas berhubungan dengan manusia dan lingkungan sekitar.

Perkembangan Sopo Tresno semakin pesat, kemudian diusulkan menjadi organisasi yang lebih bagus dan berkembang. Pada 21 April 1917, Sopo Tresno menjadi organisasi bernama Aisyiyah. Penamaan Aisyiah merujuk kepada istri Nabi Muhammad SAW, yakni Aisyiah bin Abu Bakar. Di mana Aisyiyah sebagai simbol perempuan cerdas, intelek, dan dianggaop cocok mewakili napas perjuangan bagi kaum perempuan dalam bidang pendidikan.

Aisyiyah memperjuangkan kesetaraan bagi setiap kelompok manusia tanpa pandang kasta atau status sosialnya. Lama kelamaan, pengajian ini menyebar sampai ke pelosok Indonesia.

Dengan Aisyiyah, Siti Walidah berharap semakin banyak kaum perempuan bisa mendapatkan berbagai nilai manfaat. Aisyiah sebagai bentuk kepedulian Siti Walidah bagi sesama khususnya perempuan. Karena perempuan harus memberikan keteladanan kepada masyarakat.

Mendirikan sekolah Keberadaan Aisyiyah semakin mendapatkan tanggapan positif dari masyarakat. Aisyiah pun semakin menyempurnakan amal usaha untuk melayani dan mendidik masyarakat. Pada 1919, Aisyiyah mendirikan sekolah taman anak-anak pertama di Indonesia dengan nama Frobel.

Pada 1923, membuat program memberantas buta huruf pertama di Indonesia, baik huruf arab maupau latin. Pada 1928, memelopori Kongres Wanita Pertama. Mendirikan sekolah dasar untuk perempuan dengan nama Volk School (sekolah dasar tiga tahun). Meningkatkan pengetahuan dan mendorong partisipasi perempuan dalam dunia publik.

Dilansir situs www.aisyiyah.or.id, semasa aktif di ‘Aisyiyah, Siti Walidah dikenal sebagai tokoh perempuan yang memiliki pergaulan luas dan terlibat di ranah publik. Baca juga: Lahirkan Banyak Pahlawan Nasional, Gowa Jadi Suri Teladan Daerah Lain Ia pernah diundang dalam sidang Ulama Solo yang bertempat di Serambi Masjid Besar Keraton Surakarta yang notabene pesertanya adalah kaum laki-laki. Ia juga berpidato dihadapan kongres pada kongres ‘Aisyiyah ke-15 yang berlangsung di Surabaya pada 1926.

Pada kongres tersebut diwartakan di beberapa harian Surabaya seperti Pewarta Surabaya dan Sin Tit Po yang memprovokasi kaum isteri Tionghoa agar berkemajuan seperti yang dipraktekkan warga ‘Aisyiyah. Siti Walidah meninggal pada 31 Mei 1946 dan dimakamkan di belakang Masjid Gedhe Kauman, Yogyakarta Nyai Ahmad Dahlan dinyatakan sebagai Pahlawan Nasional Indonesia oleh Presiden Suharto sesuai dengan Surat Keputusan Presiden Republik Indonesia Nomor 042/TK/1971.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here