Home Merdeka Nagasaki Pasca Bom tahun 1945

Nagasaki Pasca Bom tahun 1945

123
0

Sejarahone.id – Pada 9 Agustus 1945, bom atom menewaskan 70 ribu orang dan mencederai puluhan ribu warga Nagasaki, Jepang. Sebuah pukulan telak bagi Jepang, setelah pada 6 Agustus 1945, bom atom juga menewaskan puluhan ribu orang di Hiroshima.

Dua kota bersebut jadi target sekutu karena merupakan pusat industri di Negeri Matahari Terbit. Peristiwa itu sekaligus mengakhiri Perang Dunia II. Jepang menyerah kepada sekutu pada 16 Agustus 1945. Indonesia menjadi negara pertama yang langsung memanfaatkan kekalahan Jepang dengan memproklamasikan kemerdekaan pada 17 Agustus 1945.

Pada saat Hiroshima dibom atom, dua tokoh pergerakan Indonesia, Sukarno dan Muhammad Hatta, sedang sibuk dalam sidang Badan Persiapan Usaha Penyidik Kemerdekaan Indonesia (BPUPKI) yang kemudian diubah menjadi Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia (PPKI).

Sementara, pada saat Nagasaki dibom atom, pada 9 Agustus 1945 dua tokoh pergerakan Indonesia itu bersama mantan Ketua BPUPKI Radjiman Wedyodiningrat sedang melakukan perjalanan rahasia ke Dalat, Saigon, Vietnam. Mereka akan menemui Panglima Angkatan Darat Jepang wilayah Asia Tenggara, Jenderal Terauchi.

Sukarno, Bung Hatta dan Radjiman harus menempuh perjalanan berbahaya untuk menemui Jenderal Terauchi. Mereka diantar Letnan Kolonel Nomura dan Miyosi sebagai penerjemah dengan 20-an perwira Jepang yang lain.

Penerbangan ini harus dirahasiakan bahkan kepada keluarga terdekat sekalipun. Pesawat terbang yang mereka tumpangi sewaktu-waktu bisa disergap dan ditembak oleh pesawat pemburu Sekutu yang pada saat itu sudah menguasai wilayah Burma dan sebagian dari Semenanjung Malaya.

Jenderal Terauchi mengundang Sukarno, Hatta dan Radjiman ke Vietnam karena Jepang ingin meyakinkan mendukung penuh keinginan bangsa Indonesia untuk merdeka. Pertemuan itu, untuk membahas rencana penyerahan kemerdekaan. Di situ pemerintah Jepang menjanjikan memberi kemerdekaan Indonesia pada 24 Agustus 1945.

“Kapan pun bangsa Indonesia siap, kemerdekaan boleh dinyatakan.” Itulah yang diucapkan Jenderal Terauchi pada pertemuan tersebut. Meskipun demikian, Jepang menginginkan kemerdekaan Indonesia pada 24 Agustus.

Jenderal Terauchi juga mengatakan pelaksanaan kemerdekaan dapat dilakukan secara berangsur-angsur dari Pulau Jawa, baru disusul pulau lainnya.

Selain itu, Jenderal Terauchi menyerahkan wilayah Indonesia yang akan meliputi seluruh bekas wilayah Hindia-Belanda. Bung Karno sempat menanyakan, “Apakah sudah boleh bekerja sekitar 25 Agustus 1945?” Dengan santai, Jenderal Terauchi menjawab, “Silakan saja, terserah tuan-tuan.” Pada akhir pertemuan itu, Terauchi mengucapkan selamat kepada tiga tokoh pergerakan Indonesia itu. Pertemuan itu diakhiri jamuan minum teh.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here