Home Opini Mohammad Natsir Dan Persatuan Islam (1)

Mohammad Natsir Dan Persatuan Islam (1)

246
0

Oleh: KH Shiddiq Amien (alm)

SEJARAHONE.ID – Mohammad Natsir atau M Natsir adalah seorang Dzu Wujuh, mempunyai banyak wajah dalam arti positif. Beliau adalah seorang guru bangsa, pendidik umat, mujahid dakwah, politikus terdepan, dan seorang negarawan terkemuka dan dihormati baik di dalam maupun di luar negeri. Dalam berbagai perannya tersebut, beliau banyak meninggalkan atsar perjuangan yang sangat bernilai untuk dikaji dan diteladani.

M. Natsir yang bergelar Datuk Sinaro Panjang, terlahir di Jembatan Berukir Alahan Panjang, Kabupaten Solok, Sumatera Barat pada hari Jumat tanggal 17 Jumadil Akhir 1326 H, bertepatan dengan 17 Juli 1908 dari seorang ibu bernama Khadijah dan seorang ayah bernama Mohammad Idris Sutan Saripado.

Riwayat Pendidikan M Natsir dimulai dari Sekolah Rakyat (SR) di Maninjau Sumatera Barat hingga kelas dua. Setelah itu pindah ke HIS Adabiyah di Padang Panjang, kemudian beliau dipinhkan ke HIS Pemerintah di Solok. Di Solok inilah beliau belajar Al-Qur’an, Bahasa Arab dan Fikih kepada Tuanku Mudo Amin setiap sore dan malam hari.

Setelah lulus dari HIS beliau melanjutkan pendidikannya di MULO di Padang dan mulai aktif berorganisasi dengan masuk Jong Sumatera Bond yang diketuai Sanusi Pane. M Natsir kemudian melanjutkan pendidikan formalnya ke AMS Afdelling A di Bandung. Di Bandung inilah beliau bertemu dan banyak belajar kepada tokoh Persis Al-Ustadz Ahmad Hassan yang diakuinya sangat mempengaruhi alam fikirannya.

Tentang hubungan M. Natsir dengan Persis dijelaskan DR Thohir Luth, dalam bukunya “M. Natsir, Dakwah dan Pemikirannya” sebagai berikut: Dikemukakan dalam riwayat hidupnya bahwa M Natsir benar-benar mempunyai hubungan secara organisatoris dengan Persatuan Islam (Persis) di Bandung. Bahkan melalui Persis ini, M Natsir dapat bergaul dan mendapat didikan dari tokoh utama Persis, yaitu Ahmad Hassan.

Disebutkan juga bahwa dari Persis inilah M Natsir mulai meniti kariernya sebagai pejuang, negarawan dan agamawan. Ini berarti bagi M Natsir, Persis merupakan dapur pertama yang menggodoknya menjadi seorang pemimpin terkemuka di Negara Republik Indonesia ini; dengan pengertian lain, Persis sangat berjasa mengantarkan M Natsir sebagai tokoh dan pemimpin besar dunia.

Pada bulan Oktober 1932, bersama A Hassan, M Natsir turut dalam perdebatan tentang Islam dan kebangsaan antara H Mochtar Luthfi (Ketua Persatuan Muslimin Indonesia (Permi) di sumatera Barat) dan pemuka-pemuka Islam di Bandung. Seperti diketahui, Permi menjadikan Islam dan kebangsaan sebagai azas Organisasinya. Bagi Allahu yarham (M Natsir), itu aneh baginya, Islam sudah mencakup kebangsaan Jadi, tidak perlu “Islam dan….” 28.

Terhadap hal yang sama pula, M Natsir memperlakukan pada GPII, yaitu menolak usul Karim Halim mengenai Islam dan kebangsaan sebagai dasar GPII. Kehadiran M Natsir dalam tubuh Persis bukan merupakan suatu kebetulan, tetapi ada tuntutan dari intelektualitasnya untuk menjatuhkan pilihannya pada Persis sebagai wadah meniti karier yang lebih jauh lagi.

Apalagi, tantangan yang dihadapi oleh umat Islam pada abad ke-20 itu sangat memotivasinya untuk merespons tantangan-tantangan tersebut dengan kemampuan yang dapat dipertanggung jawabkan.

Howard M Federspiel menyatakan bahwa paling tidak ada tiga hal yang menuntut perhatian umat Islam pada abad ke -20, yaitu: pertama, menjawab tantangan kebudayaan lokal non muslim; kedua, memegang teguh keyakinan dan amalan Islamiyah; ketiga, menyesuaikan diri dengan fikiran dan teknologi modern.

Melihat langkah permainan M Natsir dalam dunia pendidikan, politik dan keagamaan, tampaknya ketiga hal tersebut menjadi obsesinya pada waktu itu. Artinya M Natsir telah memposisikan dirinya melalui organisasi yang dianutnya (Persis) untuk menjawab tantangan-tantangan tersebut. Ini terlihat pada perdebatan, kegigihan dan perhatiannya yang begitu serius dalam menjaga Islam dari berbagai tantangan yang menghadangnya.

Ummat Islam di Indonesia, sebagaimana umat Islam di negeri lain, memberikan jawaban dengan cara yang berbeda atas ketiga tantangan tersebut. Pertama, kelompok yang menjawab tantangan dengan mencontoh kelompok sekuler Barat. Dan berusaha mendudukan agama pada batasan kawasan keyakinan dan peribadahan yang sifatnya individual; agama sekedar memberikan pengaruh moral dan etis pada masyarakat danpemerintah.

Kedua, kelompok yang mengidentifikasi diri mereka dengan nilai-nilai religius Asia Tenggara; dengan hukum adat kebiasaan setempat membentuk keyakinan dan peribadahan Islami sesuai dengan pendirian itu. Ketiga, kelompok yang mengidentifikasikan diri dengan keyakinan dan peribadatan serta yurispudensi Timur Tengah tradisional.

Kelompok ini berusaha agar budaya lokal dalam pemikiran modern disesuaikan dengan pendirian mereka. Pendirian-pendirian itu terlihat dalam organisasi-organisasi Islam di Indonesia pada periode modern yang dimulai pada awal abad 20. Sebagai contoh, Nahdlatul Ulama, Sarekat Islam, Muhammadiyah dan Persatuan Islam (Persis).

Organisasi-Organisasi ini mempunyai kesamaan pendapat tentang keutamaan hukum Islam sehingga Negara harus bertanggungjawab atas kepastian penerapannya dalam masyarakat Indonesia sehingga nilai-nilai Islam tradisional dan modern dapat terintegrasi.

Perbedaannya adalah pada perbedaan sikap organisasi-organisasi Islam dalam menginterpretasi informasi-informasi yang datang dari sumber-sumber religius, yaitu sebagai berikut: Pertama, kaum tua (tradisional) diwakili Nahdlatul Ulama; mereka percaya bahwa kebenaran agama terkandung juga dalam tulisan-tulisan ulama terdahulu terutama para fuqaha dan mutakallimin.

Kedua, kaum muda (modernis) diwakili oleh Muhammadiyah. Mereka berpendapat bahwa ijtihad mengenai pokok-pokok agama lebih penting daripada bersandar pada tradisi ulama-ulama masa lalu. Ketiga, variasi kaum muda diwakili Persatuan Islam (Persis). Mereka menekankan pada pentingnya Al-Qur’an dan As-sunnah sebagai sumber penelitian.

Persis ini terbilang terlambat bila dibandingkan dengan gerakan-gerakan modern Islam lainnya seperti Jami’at Khair (1905), Persyarikatan Ulama (1911), Muhammadiyah (1912), dan Al-Irsyad (1913). Memang,pada tahun 1913, di Bandung telah didirikan Sarekat Islam, namun usaha pengikutnya dalam aktivitas keagamaan tidak tampak jelas, karena pada umumnya mereka para saudagar. Dengan demikian kesadaran atas keterlambatan ini merupakan salah satu pendorong untuk mendirikan organisasi ini.

Awal mula ide yang menjadi cikal bakal berdirinya Persis ini adalah dari diskusi-diskusi tidak resmi yang dilakukan oleh Haji Zam Zam yang belakangan nanti menjadi tokoh pendiri Persis. Diskusi-diskusi tidak resmi tersebut membahas bagaimana jawaban Islam terhadap masalah masalah yang sedang berkembang. Dengan menggunakan kesempatan berkenduri, para jamaah yang dimotori oleh Haji Zam Zam itu mencoba menjawab masalah-masalah khurafat, tahayul, bid’ah dan taqlid, yang menurut pengamatannya sedang merasuk jiwa dan alam pandangan masyarakat pada waktu itu.

Akan tetapi, diskusi tersebut belum mendapat bentuk dan arah yang jelas sebagai suatu organisasi dakwah yang bisa digerakkan untuk kepentingan dakwah Islam. Organisasi ini mendapat bentuk yang jelas setelah bergabungnya Ahmad Hassan (1887-1958) dan M Natsir di dalamnya pada tahun 1927.

Keterikatan M. Natsir dan Ahmad Hassan pada Persis tak lepas dari jasa atau ajakan temannya, Fahruddin Al-Khaeri, untuk menghadiri pengajian dan pengajaran yang dilakukan oleh organisasi ini. Kini, bentuk organisasi Persis ini menjadi jelas, yaitu sebagai organisasi sosial keagamaan dan pendidikan. Organisasi mempunyai anggaran dasar yang memuat prinsip prinsip pokok alur pergerakan organisasi sebagaimana organisasi sosial-keagamaan yang lain.

Persis sebagai organisasi sosial-keagamaan dan pendidikan, bertujuan sebagaimana tertulis dalam anggaran dasar pasal IV, “Untuk memperjuangkan berlakunya hukum-hukum Islam dan ajaran Islam berdasarkan Al-Qur’an dan As-Sunnah dalam Masyarakat”. Usaha ini dikelaskan dalam pasal V Anggaran Dasarnya.

“Berusaha mengembalikan kaum muslimin kepada Al-Qur’an dan As Sunnah, menghidupkan roh jihad dan Ijtihad dalam kalangan umat, memperluas tersiarnya tabligh dan dakwah Islam kepada segenap lapisan masyarakat, mendirikan madrasah dan pesantren untuk mendidik generasi Islam dengan Al-Qur’an dan As Sunnah”.

Sebagai upaya untuk mewujudkan tujuan tersebut maka timbul kiat-kiat para tokoh dan pimpinan mengadakan kegiatan kegiatan berikut.

Bidang Publikasi dan Jurnalistik

Dalam berbagai kesempatan, Persis selalu menggunakan publikasi dan jurnalistik untuk menyebarkan pemikiran-pemikirannya. Upaya ini dimaksudkan agar masyarakat luas dapat memahami secara tepat kedudukan Persis sebagai organisasi sosial keagamaan dengan tugas mendidik masyarakat Islam sesuai dengan dasar-dasar Al-Qur’an dan As Sunnah. Untuk kepentingan ini, Persis membuat majalah yang bernama Pembela Islam. Adapun latar belakang terbitnya majalah ini dimuat dalam edisi perdananya sebagaimana ditulis oleh Ajip Rosyidi.

Maksud kami ialah akan membela Islam secara sabar dan sopan, tetapi kalau perlu dengan secara apa saja, kita akan mengatakan hak dengan beralasan Al-Qur’an dan al-Hadits. Saudara-saudara kami yang Islam, harap memperingatkan kami jika kami keluar dari garis Al-Qur’an dan As Sunnah, sebagaimana kami mengatakan begitu jikalau perbuatan-perbuatan saudara-saudara kita itu bersalahan dengan Islam sejati. Terhadap kaum-kaum yang tidak seagama dengan kami, kami suka sekali bertukar pikiran dengan cara yang bijaksana; kami menjawab sekalian pertanyaan yang bersangkutan dengan agama islam, yaitu: tidak saja mereka yang hendak merobohkan Islam, tetapi mereka yang mencaci, menghina agama junjungan kita Muhammad SAW, kita mengambil sikap lelaki dengan artian yang seluas-luasnya. Selama nyawa ada di badan, kita tidak akan berhenti bekerja memerangi dan memusnahkan mereka itu. Ketahuilah bahwa musuh yang berbahaya sekali ialah mereka yang menamakan dirinya Islam, tetapi bukan sebenarnya Islam”.

M. Natsir memanfaatkan kesempatan emas untuk memberikan konstribusi pemikirannya melalui majalah Pembela Islam Di dalam majalah ini, M Natsir mencurahkan pemikirannya dan mendapat tanggapan dari rohaniawan selain Islam. Dengan pemikirannya yang dituangkan dalam Pembela Islam, ternyata mengundang pro dan kontra, baik yang datang dari dalam tubuh umat Islam sendiri maupun dari kalangan masyarakat luas.

Hal ini adalah lumrah dan wajar-wajar saja, mengingat misi agama yang dikembangkan oleh Persis itu memang radikal. Sehingga kesiapan masyarakat termasuk para intelektualnya tentunya masih perlu penyesuaian dengan apa yang dikembangkan oleh Persis tersebut. Syafiq A. Mughni menulis bukunya, Hassan Bandung Pemikiran Islam Radikal yang menguraikan itu. Pemikiran yang tertuang di dalam buku tersebut, termasuk tulisan M Natsir, memang sepintas telihat radikal dalam arti yang positif, karenanya, bisa dipahami mengapa Pembela Islam dengan pemikiran M Natsir di dalamnya, dikenal radikal pula.

Disamping Pembela Islam Persis dengan Ahmad Hassan sebagai penyandang dana, juga menerbitkan majalah Al-Fatwa (1933-1935) yang mebicarakan masalah-masalah agama semata tanpa ada tendensi politik menentang pihak-pihak bukan Islam. Al Lisan (1935-1942) At Taqwa (1937-1941), Soal Jawab (1931-1940) yang membicarakan dan melaporkan masalah agama dan perdebatan yang diadakan oleh Persis dengan pihak lain serta jawaban terhadap pertanyaan yang diajukan oleh para pembaca. Melalui publikasi inilah menurut Howard Federspiel, Persis menjadi dikenal oleh masyarakat Islam Indonesia. (bersambung)

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here