Home Pahlawan Mohammad Husni Thamrin, Pejuang dari Tanah Betawi

Mohammad Husni Thamrin, Pejuang dari Tanah Betawi

204
0

Oleh Hamzah Afifi

SejarahOne.id – Mohammad Husni Thamrin adalah tokoh Betawi, seorang politisi dan aktivis kemerdekaan yang diberi gelar Pahlawan Nasional. Husni Thamrin lahir di Batavia, 16 Februari 1894. Sidang Gemeenteraad pertama dihadiri oleh Husni Thamrin pada 17 Oktober 1919.

Husni Thamrin termasuk sosok yang ikut berjuang dalam program perbaikan perkampungan orang-orang pribumi di Jakarta. Husni Thamrin dilantik menjadi Volksraad (dewan perwakilan rakyat Hindia Belanda) pada 16 Mei 1927. Prestasi terbesar Husni Thamrin adalah menghapus Poenale Sanctie (pidana sanksi).

Mohammad Husni Thamrin lahir di Sawah Besar, Jakarta pada 16 Februari 1894. Sang ayah bernama Wedana Tabri Thamrin dan sang ibu bernama Nurhana. Sang ayah meninggal sejak Husni Thamrin kecil, sehingga ia dirawat oleh paman dari pihak ibu.

Mohammad Husni Thamrin mempunyai saudara sekandung 6 orang, 5 orang laki-laki dan seorang perempuan. Husni Thamrin memiliki darah Belanda dari kakeknya. Husni Thamrin dikenal sebagai anak yang cerdas dan suka bergaul dengan masyarakat dari berbagai kalangan.

Husni Thamrin mengenyam pendidikan kolonial sambil belajar mengaji sehingga wawasannya bertambah tanpa melupakan adat-adat betawi. Begitu lulus sekolah, Husni Thamrin bekerja di kantor kepatihan, lalu di kantor Residen, dan kemudian di perusahaan pelayaran Koninklijke Paketvaart Maatschappij (KPM).

Beranjak dewasa, Husni Thamrin menyaksikan perkembangan kota kelahirannya dan membuatnya ingin berjuang untuk rakyat Jakarta. Masalah kota Jakarta yang sering terknea banjir juga Husni Thamrin tuntaskan melalui diskusinya dengan Daan van der Zee (sekretaris Dewan Kota).

Solusi mereka adalah pembangunan kanal banjir agar dapat meredam air bah pada musim hujan. Pada 1919, Husni Thamrin terpilih menjadi Dewan Kota Jakarta berkat pengaruh van der Zee. Sidang pertama Husni Thamrin adalah pada 17 Oktober 1919 saat masih berusia 25 tahun.

Sebagai anggota termuda Dewan Kota Jakarta, Husni Thamrin memprakarsai program perbaikan perkampungan orang-orang pribumi di Jakarta. Husni Thamrin mengusulkan penganggaran dana 100.000 Gulden yang ditolak oleh Walikota Jakarta A. Meyroos.

Pada 16 Mei 1927, Husni Thamrin akhirnya dilantik menjadi anggota Dewan Rakyat. Perjuangannya sebagai anggota Dewan Rakyat makin besar. Salah satu pencapaian terbesar Husni Thamrin aalah penghapusan Poenale Sanctie, undang-undang mengenai kuli yang muncul pada 1880. Dalam undang-undang tersebut, pemerintah memberi wewenang pada perusahaan perkebunan untuk menghukum kuli yang melanggar kontrak tanpa proses peradilan.

Selain itu Husni Thamrin juga berhasil membatalkan Ordonansi Sekolah Liar yang dikeluarkan pada 27 September 1933. Husni Thamrin dianggap sosok yang sangat anti-Belanda. Pernah dicurigai sebagai mata-mata Jepang, Husni Thamrin menjadi tahanan rumah oleh polisi Belanda.

Pada 11 Januari 1941 di usianya ke-46 tahun, Mohammad Husni Thamrin meninggal dan dimakamkan di Karet. Masyarakat Jakarta mengenang jasa-jasa Mohammad Husni Thamrin dengan menjulukinya sebagai abang Betawi atau sekarang disebut Abang Jakarta.

Namanya juga diabadikan sebagai salah satu jalan protokol di Jakarta dan proyek perbaikan perkampungan Jakarta untuk kepentingan rakyat. Berdasarkan SK Presiden R.I. No. 175 tahun I960 tertanggal 28 Juli 1960 Mohamad Husni Thamrin dianugerahi gelar Pahlawan Kemerdekaan Nasional.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here