Home Khasanah Timah Panas dan Syahidnya Ulama Besar Pendiri FPI

Timah Panas dan Syahidnya Ulama Besar Pendiri FPI

413
0

SEJARAHONE.ID-Ulama dan Panglima Front Hizbullah KH Cecep Bustomi Pandeglang adalah Deklarator Pendiri Front Pembela Islam (FPI). FPI dideklàrasikan pertama di halaman pesantren Al-Um Tangerang Banten pada tgl 17 Agustus 1998.

Almarhum syuhada KH. Cecep Bustomi,  deklarator pendiri FPI dan panglima Hizbullah Banten syahid pads 24 September 2000

Tragedi Serang 24 September 2000, Kyai Cecep Bustomi diberondong Timah Panas Hingga Gugur Sebagai Syahid

Seorang Kyai Di Banten Menjadi Korban Kebrutalan Geng bermotor Berambut Cepak, demikian media menuliskan beritanya ketika itu.

Seorang Kyai pemimpin sebuah Front Islam bernama Front Hizbullah, dalam masa kejayaannya Front Hizbullah adalah Front yang ditakuti.

Pemimpin Hisbullah Kyai Cecep Bustomi adalah Kyai yang BERANI dan TEGAS, siapapun dan dari kelompok manapun yang melakukan kemaksiatan di babat habis, bahkan seorang kepala desa yang membiarkan tempat prostitusi di kawasan MERAK tak sungkan dimarahi karena membiarkan kemaksiatan tumbuh subur di wilayahnya.

Dan sebuah kisah yang kemudian menjadikan Front Hizbullah kehilangan pemimpinnya, Seorang Kyai Kharismatik dan Pemberani, jam 9 malam Markas Front Hizbullah ( FH ) di Kampung Peuni, Desa Ciputri, Kecamatan Banjar, Pandeglang, nampak ekstra sibuk.

Malam itu ratusan anggota FH tengah bersiap- siap melakukan razia ke Serang. Tepatnya di Desa Petir, setelah sebelumnya mereka menerima info dari anggota mereka di sana, salah seorang warga desa itu, Mamat, akan menggelar acara maksiat.

Malam itu juga dengan mengendarai delapan belas mobil angkot sewaan, 250 anggota Front Hizbullah berangkat. Mereka tiba di lokasi acara sekitar pukul sepuluh malam.

“Di lokasi acara dangdut dan jaipongan sedang berlangsung. Lapak judi koprok digelar dan botol-botol minuman keras berjejer di panggung, malam itu. pasukan front meminta baik-baik kepada tuan rumah, agar acara itu dihentikan. Di samping mengganggu ketertiban warga sekitarnya, lokasinya juga dekat dengan masjid. Tapi tuan rumah rupanya telah menyiapkan Pratu (Prajurit Satu) Enjat Supriatna, seorang anggota Kopassus, menghadapi laskar Front Hizbullah.

Negosiasi berlangsung tegang. Enjat tetap menginginkan acara hiburan berlangsung. Sementara Front Hizbullah meminta acara itu dihentikan. Ketegangan kian memuncak ketika Enjat melepaskan dua kali tembakan ke udara, dan sekali diarahkan ke anggota Front. Enjat nembak dari jarak satu setengah meter, dan mengenai salah seorang anggota Front yang ada di barisan. Tembakan Enjat ternyata tidak membuat keder nyali pasukan Front Hizbullah . Dodi, korban tembakan Enjat, di luar dugaan ternyata tetap bugar. Darahnya mendidih, dan langsung melabrak Enjat. Pergumulan seru terjadi. Pada satu kesempatan, bacokan golok Dodi berhasil bersarang di punggung Enjat. Merasa keteter, Enjat lari. Tapi Dodi terus mengejar. Akhirnya dua buah bacokan berikutnya berhasil disarangkan Dodi ke perut Enjat. Tubuh anggota Kopasus itu akhirnya roboh bersimbah darah. Melihat kejadian itu, para tamu lari belingsatan. Tapi insiden malam itu tak menghentikan pasukan front. Mereka bukan hanya menghancurkan botol-botol minuman keras, lapak-lapak judi, panggung hiburan, namun jug seluruh alat-alat musik.

Usai mengobrak-abrik panggung hiburan di rumah Mamat, anak-anak front masih sempat melakukan razia di dua tempat lainnya. Masih di sekitar desa Petir. Sekitar pukul sebelas malam operasi selesai, dan mereka kembali pulang ke markas.

Bengkel Mobil dan Hotel Srimaju Diobrak-abrik ternyata kejadian malam itu berbuntut panjang, Bengkel mobil Srimaju yang berlokasi di Serang, diobrak-abrik beberapa orang lelaki bertubuh kekar. Mereka mencari ustadz Husein pemilik bengkel yang diduga sebagai salah seorang pengurus FH. Tapi yang dicari tidak ketemu. Sasaran kemarahan akhirnya diarahkan kepada 3 orang karyawan bengkel.

Para pria yang kalap itu menyiksa korban hingga babak belur.Seorang karyawannya, Suheni, diberitakan tewas setelah disiksa secara brutal oleh komplotan penyerang, dan dua orang lainnya luka parah. Pada saat hampir bersamaan, hotel Srimaju yang terletak di jalan raya Cilegon juga menjadi sasaran penghancuran komplotan lelaki bertubuh kekar. Berita penghancuran bengkel dan hotel Srimaju disesalkan pihak Front Hizbullah. Pasalnya si pemilik tidak ada kaitannya sama sekali dengan FH.

Hari Senen dini hari (24/7) dalam perjalanan pulang dari acara ceramah di Sukabumi, K.H. Cecep Bustomi menerima telepon dari Markas Kopassus Grup I di Serang. Dalam nada ancaman si penelpon meminta Kyai Cecep datang ke markas pasukan elit itu dengan menyerahkan anak buahnya, si pembunuh Enjat. Dalam pembicaraan telepon Kyai Cecep menyatakan setuju memenuhi permintaan itu. Ia berjanji akan datang ke markas mereka hari itu juga.

Pukul enam pagi Kyai Cecep tiba di rumah. Setelah istirahat, kira-kira pukul sebelas ia kumpulkan beberapa komandan yang ikut dalam aksi malam Senen. Ia minta konfirmasi tentang insiden berdarah di desa Petir. Setelah jelas duduk persoalannya, panglima Front Hizbullah itu memutuskan akan berangkat ke Markas Kopasus Serang selesai sholat dzuhur.

Sekitar setengah dua siang, disopiri Mardiyanto, salah seorang santrinya, Kyai Bustomi berangkat dengan mobil sedan Toyota Twincam. Sekitar pukul dua, tokoh yang dikenal gigih memerangi kemaksiatan itu, tiba di Markas Kopasus Serang.

Perundingan berakhir kira-kira pukul empat sore, setelah kedua belah pihak berjanji akan menyelesaikan persoalan secara damai. Setelah itu tanpa curiga, Kyai Cecep pulang.

Secarik kertas berisi kesepakatan damai yang ditandatangani kedua pihak sudah dipegang kyai ‘garis keras’ itu. Tapi baru berjalan 300 meter dari gerbang markas pasukan elit itu, kendaraan Kyai Cecep dihadang seorang pengendara sepeda berbadan kekar. Mobil direm, dan mundur. Mardiyanto baru akan tancap gas, ketika sekonyong-konyong segerombolan pria bertubuh kekar -entah dari mana datangnya– menyerbu mobil Kyai Cecep.

Bersenjatakan golok, besi, dan balok, gerombolan menghancurkan kaca depan dan belakang mobil. Salah seorang gerombolan memecah kaca kanan depan. Lalu dengan cepat menembakkan pistol ke arah Mardiyanto.

Dor! Naluri Mardiyanto bereaksi cepat. Yayan -panggilan akrab Mardiyanto-menarik tungkai di bawah kanan jok. Ia dengan reflek membuang dirinya ke belakang. Peluru luput dari dirinya. Tapi nahas, peluru bersarang ke perut Kyai Cecep yang duduk di samping kirinya. “Ah saya kena. Jangan panik Yan, tancap gas!” teriak Kyai Cecep Yayan langsung tancap gas. Tapi di belakang dua buah motor segera mengejar. Keduanya berboncengan berjumlah 4 orang, adegan kejar-kejaran terjadi.

Kyai Cecep masih tetap tegar dan memberi pengarahan pada Yayan. “Langsung ke arah kota, Yan,” perintah Kyai. Memasuki kota, mobil yang telah babak belur itu terus dikejar. Di perempatan Ciceri, mobil Yayan lolos dari lampu merah. Kyai Cecep memerintahkan Yayan terus tancap gas. Sampai di perempatan Sumur Picung lampu pas merah. Panglima Front Hizbullah itu memerintahkan Yayan membelokkan mobil ke kanan. Mobil melaju dalam kecepatan tinggi. ke arah pasar Rau. Tapi sore itu di beberapa perempatan terjadi kemacetan. Mendekati pasar tak ada jalan alternatif untuk menghindar dari kejaran. Mobil Yayan tetap berusaha menerobos kemacetan.

Nahas! Yayan menabrak sebuah truk sayur. Mobil berhenti. Di situlah para pengejar menghabisi nyawa Kyai Cecep dengan berondongan timah panas. Sebanyak enam peluru bersarang di tubuh kyai kelahiran 7 Juli 1959 itu. Hingga Kemudian kasus yang menggegerkan masyarakat banten itu hilang hingga sekarang.

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here