Home Merdeka Mengenang Sejarah Revolusi Kemerdekaan RI

Mengenang Sejarah Revolusi Kemerdekaan RI

32
0

Sejarahone.id – Revolusi adalah suatu perubahan sosial dan kebudayaan yang terjadi dalam waktu yang cepat. Revolusi bisa terjadi dengan atau tanpa adanya perencanaan, terus juga dapat dilakukan dengan atau tanpa kekerasan.

Sejarah revolusi Indonesia berkorelasi dengan peristiwa bom atom di Hirosima, pada tanggal 6 Agustus 1945, kota Hiroshima seketika lumpuh akibat bom atom. Sebanyak 90.000-146.000 orang tewas saat itu. Selang tiga hari kemudian, bom atom pun kembali jatuh di kota Nagasaki, Jepang, dan menewaskan 39.000-80.000 orang.

Akibat serangan yang dilakukan oleh Sekutu, akhirnya Jepang menyerah tanpa syarat. Pada tanggal 15 Agustus 1945, Indonesia mengalami kekosongan kekuasaan setelah Sekutu yang berhasil mengalahkan Jepang, tidak melakukan penaklukan terhadap Indonesia.

Melihat hal itu, golongan pemuda Indonesia tidak mau menyia-nyiakan kesempatan. Mereka kemudian menculik Soekarno dan Moh. Hatta dan membawanya ke Rengasdengklok, Jawa Barat. Soekarno-Hatta didesak untuk segera menyatakan kemerdekaan Indonesia.

Peristiwa Rengasdengklok, Sejarah Revolusi Indonesia

Golongan pemuda mendesak Soekarno dan Hatta agar segera memproklamasikan kemerdekaan Indonesia, di Rengasdengklok.

Selang sehari setelah penculikan, pada tanggal 17 Agustus 1945, Soekarno membacakan teks proklamasi yang dirancangnya bersama beberapa tokoh, di rumah Soekarno. Setelah proklamasi selesai dibacakan, dikibarkanlah bendera merah putih yang telah dijahit oleh ibu Fatmawati, istri dari Soekarno. Rakyat pun bersorak-sorai gembira.

Namun, kebahagiaan itu tidak bertahan lama. Belanda kembali datang. Mereka berusaha menegakkan kembali kekuasaan di Indonesia. Rakyat Indonesia pun tidak terima dan mulai melakukan perlawanan. Saat itulah perjuangan revolusi Indonesia dimulai.

Sekutu (termasuk Belanda di dalamnya) membentuk suatu badan komando militer di Indonesia bernama Allied Forces for Netherland Indies (AFNEI). Tentara AFNEI mendarat di beberapa wilayah strategis Indonesia, seperti Surabaya dan Jakarta pada bulan September, Oktober, dan November tahun 1945.

Mengetahui adanya ancaman tersebut, rakyat Indonesia tidak tinggal diam. Masyarakat di berbagai daerah mulai bergerak dan terjadilah perlawanan. Perjuangan revolusi Indonesia ini terbagi menjadi 2 karakteristik. Pertama itu perlawanan dengan menggunakan cara fisik, kemudian satu lagi perlawanan menggunakan jalur diplomasi.

Surabaya, menjadi lokasi pertama perlawanan rakyat Indonesia setelah Sekutu kembali menginjakkan kaki di Indonesia. Arek-arek Suroboyo bersama salah satu tokohnya yaitu Bung Tomo, dengan heroik melakukan perlawanan terhadap Sekutu. Bung Tomo dikenal dengan orasinya yang sangat bergelora, sehingga dapat membangkitkan semangat para pejuang.

Pertempuran Surabaya mencapai puncaknya pada 10 November 1945. Atas semangat, keberanian, dan jiwa patriotik dari para ulama, santri, dan arek Suroboyo lainnya. Pada tanggal 10 November kemudian dijadikan sebagai Hari Pahlawan. Setelah Surabaya, berbagai daerah pun ikut angkat senjata melawan tentara-tentara Sekutu.

Jalur diplomasi untuk mendapat pengakuan kemerdekaan dilakukan melalui Konferensi Meja Bundar. Belanda baru mengakui kedaulatan Indonesia setelah dilaksanakannya Konferensi Meja Bundar pada tanggal 2 November 1949. Sebelum-sebelumnya, yaitu pada beberapa perjanjian seperti Renville, Roem Royen, dan Linggarjati, Belanda dan Sekutu terus berkhianat.

Perjuangan Diplomasi Indoneisa dalam revolusi Indonesia

Proses perlawanan rakyat Indonesia terhadap upaya pendudukan kembali yang dilakukan oleh Sekutu, kurang lebih selama 5 tahun. Proses perubahannya yang cukup singkat. Revolusi Indonesia terjadi mulai dari tahun 1945, yaitu saat Soekarno membacakan teks proklamasi, sampai Belanda dan para Sekutu mengakui kedaulatan Indonesia pada akhir tahun 1949. Revolusi Indonesia dampaknya cukup besar bagi sejarah bangsa Indonesia kedepannya.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here