Home Merdeka Mengenal Sultan Iskandar Muda, Raja Kerajaan Aceh

Mengenal Sultan Iskandar Muda, Raja Kerajaan Aceh

449
0

Oleh Hamzah Afifi

SejarahOne – Sultan Iskandar Muda lahir dengan nama kecil Perkasa Alam, di Aceh, tahun 1593. Ada pendapat juga yang mengatakan bahwa ia dilahirkan tahun 1590. Ia lahir dengan nama kecil Perkasa Alam. Dari pihak ibu, Sultan Iskandar Muda merupakan keturunan Raja Darul-Kamal.

Sang ibu bernama Putri Raja Indra Bangsa atau Paduka Syah Alam, putri dari Sultan Alauddin Riayat Syah, Sultan Aceh ke-10. Sementara, sang ayah merupakan keturunan keluarga Raja Mahkota Alam bernama Sultan Mansur Syah, putra Sultan Abdul Jalil. Sultan Abdul Jalil sendiri merupakan putra dari Sultan Alauddin Riayat Syah al-Kahhar, Sultan Aceh ke-3.

Darul-Kalam dan Mahkota Alam dulunya merupakan dua kerajaan yang bertetangga, hanya terpisah oleh sungai. Gabungan dari keduanya di kemudian hari dikenal dengan Aceh Darussalam. Sultan Iskandar Muda menikahi seorang putri Kesultanan Pahang, Putroe Phang.

Konon, sang istri sering bersedih karena merindukan kampung halamannya. Hal ini membuat Sultan Iskandar Muda membangun Gunongan di tengah Taman Istana. Hal ini karena kampung asal sang istri terdiri dari daerah yang berbukit-bukit, sehingga bisa mengobati kerinduan sang istri.

Hingga kini, Gunongan ini masih bisa disaksikan. Selama memerintah, Kerajaan Aceh memiliki hubungan bilateral yang baik dengan beberapa kerajaan lain. Beberapa kerajaan tersebut, antara lain Kerajaan Inggris, Belanda (Dinasti Oranje), Khilafah Utsmaniyah Turki dan Prancis.

Sultan Iskandar Muda menduduki tahta kerajaan Aceh pada usia yang masih sangat muda. Total, ia berkuasa mulai 1607 hingga 1636. Ia melakukan beberapa langkah strategis untuk memperkokoh posisi dan kekuatannya. Di antaranya dengan membangun angkatan perang yang diisi oleh tenaga-tenaga yang masih muda.

Selain itu, Sultan Iskandar Muda juga melakukan pembagian wilayah yang disebut dengan mukim. Peraturan perekonomian negara juga dibuat untuk mencapai langkah-langkah strategis sebagai seorang raja. Kerajaan Islam yang ia pimpin berhasil melakukan pembangunan perekonomian yang sangat besar.

Sultan Iskandar Muda membangun Masjid Baitur Rahim. Dan selama menjadi raja, ia menunjukkan sikap anti penjajah. Sultan Iskandar Muda selalu menghadapi bangsa asing yang datang ke Aceh. Hal ini merupakan sebuah sikap yang mendukung bahwa kerajaan Aceh merupakan kerajaan yang merdeka.

Pada 1615, Sultan Iskandar Muda memimpin serangan besar terhadap Portugis yang berkududukan di maluku. Kala itu, ia mengalami kegagalan dan banyak jatuh korban. Untuk memperkuat kerajaan, Sultan Iskandar Muda menaklukan kerajaan-kerajaan kecil di semenanjung Malaya. Pada 1629 pasukannya telah sampai di perairan Malaka.

Pada waktu yang sama, pasukan Portugis telah bersiap untuk menghadapi mereka. Sultan Iskandar Muda mengalami kekalahan. Hal ini disebabkan pasukan portugis dibantu oleh Armada Johor, Pawang, Palani, Goa, dan India. Selanjutnya, Sultan Iskandar Muda menyerang Penang. Penyerangan ini dilakukan karena Penang telah membantu Portugis.

Sultan Iskandar Muda meninggal pada 27 Desember 1636 dan dimakamkan di Aceh Besar. Berdasarkan Surat Keputusan Presiden RI No. 077/TK/Tahun 1993 tanggal 14 September 1993, Pemerintah Indonesia menganugerahi Sultan Iskandar Muda gelar Pahlawan Nasional dan Tanda Kehormatan Bintang Mahaputra Adipradana (Kelas II)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here