Home Pahlawan Mengenal Perjuangan Tokoh Pahlawan Tuanku Imam Bonjol

Mengenal Perjuangan Tokoh Pahlawan Tuanku Imam Bonjol

879
0

Oleh Hamzah Afifi

Sejarahone.id – Muhammad Shahab atau yang lebih dikenal dengan nama Tuanku Imam Bonjol adalah seorang ulama, pemimpin, sekaligus pejuang yang tercatat dalam sejarah kebangsaan Indonesia. Ia memiliki peran penting dalam melawan Belanda ketika Perang Padri yang terjadi pada 1803 hingga 1838.

Imam Bonjol lahir di Bonjol, Pasaman, Sumatra Barat, pada 1 Januari 1772. Ia merupakan anak dari pasangan Khatib Bayanuddin dan Hamatun. Ayahnya adalah seorang alim ulama dari Sungai Rimbang, Suliki, Lima Puluh Kota. Sebagai anak seorang anak alim ulama, Imam Bonjol tentu dididik dan dibesarkan dengan napas Islami.

Sebagai ulama dan pemimpin masyarakat setempat, Muhammad Shahab memperoleh beberapa gelar yaitu Peto Syarif, Malin Basa dan Tuanku Imam. Tuanku nan Renceh dari Kamang, Agam sebagai salah seorang pemimpin dari Harimau nan Salapan adalah yang menunjuknya sebagai Imam (pemimpin) bagi kaum Padri di Bonjol. Ia akhirnya lebih dikenal dengan sebutan Tuanku Imam Bonjol.

Tak dapat dimungkiri, Perang Padri meninggalkan kenangan heroik sekaligus traumatis dalam memori bangsa. Selama sekitar 18 tahun pertama perang (1803-1821) praktis yang berperang adalah sesama orang Minang dan Mandailing atau Batak umumnya.

Awal timbulnya peperangan ini didasari keinginan dikalangan pemimpin ulama di kerajaan Pagaruyung untuk menerapkan dan menjalankan syariat Islam sesuai dengan Ahlus Sunnah wal Jamaah (Sunni) yang berpegang teguh pada Alquran dan sunnah Rasullullah shalallahu ‘alaihi wasallam. Kemudian pemimpin ulama yang tergabung dalam Harimau nan Salapan meminta Tuanku Lintau untuk mengajak Yang Dipertuan Pagaruyung beserta Kaum Adat untuk meninggalkan beberapa kebiasaan yang tidak sesuai dengan Islam (bid’ah).

Dalam beberapa perundingan tidak ada kata sepakat antara Kaum Padri (penamaan bagi kaum ulama) dengan Kaum Adat. Seiring itu di beberapa nagari dalam kerajaan Pagaruyung bergejolak dan sampai akhirnya Kaum Padri dibawah pimpinan Tuanku Pasaman menyerang Pagaruyung pada tahun 1815 dan pecah pertempuran di Koto Tangah dekat Batu Sangkar. Sultan Arifin Muningsyah terpaksa melarikan diri dari ibukota kerajaan ke Lubukjambi.

Pada 21 Februari 1821, kaum Adat secara resmi bekerja sama dengan pemerintah Hindia Belanda berperang melawan kaum Padri dalam perjanjian yang ditandatangani di Padang sebagai kompensasi Belanda mendapat hak akses dan penguasaan atas wilayah darek (pedalaman Minangkabau). Perjanjian itu dihadiri juga oleh sisa keluarga dinasti kerajaan Pagaruyung di bawah pimpinan Sultan Tangkal Alam Bagagar yang sudah berada di Padang waktu itu.

Campur tangan Belanda dalam perang itu ditandai dengan penyerangan Simawang dan Sulit Air oleh pasukan Kapten Goffinet dan Kapten Dienema awal April 1821 atas perintah Residen James du Puy di Padang, dalam hal ini Belanda melibatkan diri dalam perang karena “diundang” oleh kaum Adat.

Perlawanan yang dilakukan oleh pasukan Padri cukup tangguh sehingga menyulitkan Belanda untuk menundukkannya. Karena itu melalui Gubernur Jendral Johannes van den Bosch, Belanda mengajak pemimpin Kaum Padri yang waktu itu telah dipimpin oleh Tuanku Imam Bonjol untuk berdamai dengan maklumat Perjanjian Masang pada tahun 1824.

Di saat yang bersamaan Batavia juga kehabisan dana dalam menghadapi peperangan lain di Eropa dan Jawa seperti Perang Diponegoro. Tetapi kemudian perjanjian ini dilanggar sendiri oleh Belanda dengan menyerang nagari Pandai Sikek. Sejak awal 1833 perang di Sumatera Barat berubah menjadi perang antara kaum Adat dan kaum Agama melawan Belanda.

Menurut Sjafnir Aboe Nain dalam bukunya “Memorie Tuanku Imam Bonjol” sebuah sumber pribumi yang penting tentang Perang Paderi yang mencatat bagaimana kedua pihak saling bahu membahu melawan Belanda. Pihak-pihak yang semula bertentangan akhirnya bersatu padu melawan Belanda.

Tuanku Imam Bonjol merasa menyesal, yang akhirnya muncul kesadaran dan mengundang Belanda dalam konflik justru menyengsarakan masyarakat Minangkabau sendiri. Refleksi rasa penyesalan Tuanku Imam Bonjol terhadap tindakan kaum Paderi atas sesama orang Minang dan Mandailing dan suku Batak lainnya. Tuanku Imam Bonjol sadar bahwa perjuangannya sudah melenceng dari ajaran agama.

Penyerangan dan pengepungan benteng kaum Padri di Bonjol oleh Belanda dari segala arah selama sekitar enam bulan (16 Maret-17 Agustus 1837) dipimpin langsung oleh jenderal dan para perwira Belanda, tetapi dengan tentara yang sebagian besar adalah pribumi yang terdiri dari berbagai suku seperti Jawa, Madura, Bugis, dan Ambon.

Para perwira pasukan Belanda, terdapat Mayor Jendral Cochius, Letnan Kolonel Bauer, Mayor Sous, Kapten MacLean, Letnan Satu Van der Tak, Pembantu Letnan Satu Steinmetz. dan seterusnya, tetapi juga terdapat nama-nama pribumi seperti Kapitein Noto Prawiro, Luitenant Prawiro di Logo, Karto Wongso Wiro Redjo, Prawiro Sentiko, Prawiro Brotto, dan Merto Poero.

Terdapat 148 perwira Eropa, 36 perwira pribumi, 1.103 tentara Eropa, 4.130 tentara pribumi dan pasukan pembantu Sumenep, Madura. Serangan terhadap benteng Bonjol dimulai orang-orang Bugis yang berada di bagian depan dalam penyerangan pertahanan Padri.

Dari Batavia didatangkan terus tambahan kekuatan tentara Belanda, dimana pada tanggal 20 Juli 1837 tiba dengan Kapal Perle di Padang, Kapitein Sinninghe, sejumlah orang Eropa dan Afrika, 1 sergeant, 4 korporaals dan 112 flankeurs. Yang belakangan ini menunjuk kepada serdadu Afrika yang direkrut oleh Belanda di benua itu, kini negara Ghana dan Mali. Mereka juga disebut Sepoys dan berdinas dalam tentara Belanda.

Setelah datang bantuan dari Batavia, maka Belanda mulai melanjutkan kembali pengepungan dan pada masa-masa selanjutnya, kedudukan Tuanku Imam Bonjol bertambah sulit, namun ia masih tak sudi untuk menyerah kepada Belanda. Sehingga sampai untuk ketiga kali Belanda mengganti komandan perangnya untuk merebut Bonjol, yaitu sebuah negeri kecil dengan benteng dari tanah liat yang di sekitarnya dikelilingi oleh parit-parit. Akhirnya setelah sekian lama dikepung, pada tanggal 16 Agustus 1837 Benteng Bonjol dapat dikuasai.

Pada bulan Oktober 1837, Tuanku Imam Bonjol diundang ke Palupuh untuk berunding. Tiba di tempat itu langsung ditangkap dan dibuang ke Cianjur, Jawa Barat. Kemudian dipindahkan ke Ambon dan akhirnya ke Lotak, Minahasa dekat Manado. Di tempat terakhir itulah Tuanku Imam Bonjol meninggal dunia pada tanggal 6 November 1864 pada usia 92 tahun. Tuanku Imam Bonjol dimakamkan di tempat pengasingannya tersebut.

Perjuangan gigih yang telah dilakukan Tuanku Imam Bonjol dapat menjadi apresiasi akan kepahlawanannya dalam menentang penjajahan. Sebagai penghargaan dari pemerintah Indonesia mewakili rakyat Indonesia, Tuanku Imam Bonjol diangkat sebagai Pahlawan Nasional Indonesia sejak tanggal 6 November 1973.

:: diolah dari berbagai sumber

TULISKAN PENDAPAT KAMU?

Please enter your comment!
Please enter your name here