Home Pahlawan Mengenal Panglima Besar Jenderal Soedirman

Mengenal Panglima Besar Jenderal Soedirman

195
0

Oleh Hamzah Afifi

Sejarahone.id – Panglima Besar (Pangsar) Jenderal Soedirman merupakan salah satu tokoh pahlawan nasional yang sangat berjasa bagi bangsa Indonesia, sehingga dapat dikatagorikan sebagai tokoh yang memiliki nama besar. Tetapi, bukan berarti berasal dari keturunan orang besar, justru ia berasal dari rakyat kecil.

Orang tuanya adalah seorang Mandor Tebu di Kalibagor Banyumas bernama Karsid, sedang Ibunya bernama Siyem. Sejak bayi ia dijadikan anak angkat oleh keluarga R. Cokrosunaryo yang menjabat sebagai Asisten Wedana (Camat) di Rembang, Purbalingga.

Berdasarkan keputusan Pengadilan Negeri Purbalingga No. 50 tanggal 4 Desember 1976, menetapkan bahwa kelahiran Jenderal Soedirman itu pada tanggal 24 Januari 1916 bertepatan dengan tanggal 18 Maulud tahun 1336 Hijriah. Adapun tempat kelahirannya di Desa Bantarbarang, Kecamatan Rembang, Kabupaten Purbalingga, Jawa Tengah.

Soedirman kecil tidak lama tinggal di Rembang Purbalingga, karena Ayah angkatnya pensiun dari jabatan sebagai Asisten Wedana di Rembang. Selanjutnya berpindah ke Cilacap untuk melaksanakan tugas barunya sebagai Penasehat Pengadilan Negeri Cilacap. Saat kecil, Jenderal Soedirman di Cilacap hidup di lingkungan keluarga priyayi karena ayah angkatnya adalah seorang keturunan priyayi. Disamping itu juga hidup dilingkungan wong cilik karena bapak-ibunya sendiri berasal dari rakyat kecil.

Lingkungan masyarakat yang ditempati Jendral Soedirman adalah masyarakat agamis dan juga karena ia tinggal di rumah yang dekat Masjid. Hal inilah yang mewarnai hidup dan perilaku Jenderal Soedirman yang sejak kecil sudah terbiasa prihatin, suka bekerja keras, sangat patuh, sopan santun dan taat beribadah.

Saat memasuki sekolah, Jenderal Soedirman di daftarkan masuk sekolah yang diselenggarakan oleh pemerintah Kolonial Belanda yaitu Hollandsch Inlandsche School (HIS) atau Sekolah Dasar Belanda. Hal ini berkat ayah angkatnya yang keturunan priyayi, karena anak-anak bumi putra yang dapat sekolah di HIS syaratnya adalah orang tuanya priyayi. Di sekolah, Jenderal Soedirman termasuk murid yang tidak menonjol, kecerdasannya biasa saja, ia bukan murid yang terpadai tetapi juga tidak bodoh.

Dari kelas 1 sampai dengan kelas 5 dijalani dengan lancar tidak ada hambatan. Tetapi saat kenaikan kelas 6 ia merasa kurang cocok bersekolah di HIS karena faktor lingkungan, sehingga Soedirman kecil ingin pindah sekolah lain. Hasrat itu disampaikan kepada orang tuanya. Namun, nasehat orang tua tidak diperbolehkan pindah sekolah supaya tetap duduk di kelas VI HIS. Ketika naik kelas VII keinginan pindah ke sekolah lain muncul kembali, akhirnya Jenderal Soedirman pindah ke sekolah HIS Taman Siswa.

Namun, belum genap setahun sekolah tersebut ditutup karena kekurangan dana untuk operasinal sekolah. Selanjutnya ia masuk ke sekolah HIS Wiworotomo hingga menamatkan pendidikan dasarnya. Selanjutnya ia meneruskan pendidikan pada Meer Uitgereid Lage Onderwijs (MULO) Wiworotomo. Lembaga pendidikan Wiworotomo merupakan salah satu lembaga pendidikan yang dianggap oleh pemerintah kolonial Belanda sebagai pejoratif wilde scholen atau sekolah liar.

Selama mengikuti pendidikan di MULO Wiworotomo Jenderal Soedirman banyak memperoleh berbagai pengetahuan tidak hanya dari segi keilmuan tetapi juga segi patriotisme dan nasionalisme serta militansi sebagai sikap keagamaan yang kuat. Hal ini berkat pengaruh para pengasuh atau pendidik di Wiworotomo yang memiliki jiwa nasionalisme dan militan terhadap pemerintah kolonial yang selalu menolak untuk bekerja pada dinas kolonial.

Walaupun sewaktu belajar di MULO Wiworotomo Jenderal Soedirman pendiam tetapi ia cepat beradaptasi dengan teman-teman, cepat akrab, bahkan berkat kedisiplinan, rajin bekerja dan sikap hormat yang telah tertanam dari kebiasaan di rumah sangat mendukung dalam pergaulan di sekolah. Dalam diri Jenderal Soedirman tercermin sikap keteladanan dalam pergaulan di Sekolah, sehingga tidak mengherankan bila dirinya sering menjadi perhatian kawan-kawannya di MULO Wiworotomo.

Di mata teman-temannya, Jenderal Soedirman dikenal sebagai anak priyayi karena ayahnya seorang pensiunan Asisten Wedana. Tetapi ia tidak sombong dan juga tidak mau dipanggil Ndoro seperti layaknya masyarakat memanggil anak yang memiliki keturunan priyayi. Bahkan ia lebih suka dipanggil namanya saja dan suka merendah bersikap santun serta sederhana.

Selain itu Jenderal Soedirman juga dikenal sebagai siswa MULO yang cukup menonjol dalam kepandaiannya sehingga sering dipercaya untuk memimpin berbagai kegiatan organisasi siswa, diantaranya adalah Ikatan Pelajar Wiworotomo. Berkat mengikuti organisasi ikatan pelajar banyak kegiatan yang dapat dilaksanakan seperti olahraga dan kesenian. Dalam olahraga Jenderal Soedirman sangat menyukai sepak bola dan baris-berbaris, sedangkan pada bidang kesenian yang digemari adalah seni sandiwara yang mementaskan kisah-kisah keteladanan dan kepahlawanan.

Keaktifan Jenderal Soedirman tak hanya terbatas di sekolah saja, melainkan di masyarakat ia juga aktif mengikuti berbagai kegiatan kemasyarakatan seperti gotong-royong dan mengkoordinir para pemuda di lingkungannya dengan membentuk kesebelasan sepak bola yang diberi nama “Banteng Muda”. Karena sering melakukan pertandingan sepak bola di berbagai daerah, ia menjadi terkenal di daerah Banyumas. Hal inilah yang membawa Jenderal Soedirman dipercaya sebagai Ketua Persatuan Sepak Bola Banyumas.

Jenderal Soedirman juga terkenal aktif dalam organisasi kepanduan milik gerakan Muhammadiyah yang terkenal dengan Hizboel Wathan (HW). Kelahiran Pandu Muhammadiyah (HW) diprakarsai oleh pendiri Muhammadiyah yaitu KH Ahmad Dahlan pada tahun 1920 dengan nama Hisboel Wathan yang artinya “Pembela Tanah Air atau Cinta Tanah Air”. Tujuan didirikan HW untuk membantu orang-orang tua dan guru-guru dalam mendidik anak-anak supaya memiliki perilaku berbudi pekerti yang baik, berbadan sehat dan bertakwa kepada Allah SWT.

Lahirnya HW di Yogyakarta ternyata tumbuh dengan pesat, cabang di berbagai daerah di Jawa seperti HW di Cilacap. Bergabungnya Jenderal Soedirman di HW tidak hanya sekedar kebetulan melainkan ingin mengembangkan bakat, minat dan hasrat untuk mendalami ajaran dan amalan Islam. Disamping itu lingkungan masyarakat tempat tinggal Jenderal Soedirman juga mendorong untuk memasuki kepanduan HW.

Karena lingkungan masyarakat telah mendidik Jenderal Soedirman akan nilai-nilai dan sikap disiplin, sederhana, kerja keras, sopan santun dan hormat kepada sesama. Sebagai anggota HW Jenderal Soedirman selalu mengikuti berbagai program dan kegiatan, karena merupakan wadah yang dianggap tepat untuk mengembangkan dan membina diri.

Hal inilah yang membawa Jenderal Soedirman semakin terkenal dikalangan anggota kepanduan HW Muhammadiyah. Bahkan, ia juga dipercaya oleh seluruh kawannya dengan suara bulat sebagai ketua HW Muhammadiyah Wilayah Banyumas. Saat jadi ketua HW Wilayah Banyumas perkembangannya cukup pesat, karena banyak para pemuda Banyumas yang ingin masuk dan bergabung menjadi anggota HW. Kegiatan-kegiatan HW juga semakin menonjol dengan menyelenggarakan pendidikan rohani yaitu pendalaman dan pengamalan Islam melalui pengajian dan rapat-rapat akbar.

Dalam bidang jasmani Jenderal Soedirman melakukan kegiatan berupa latihan rutin baris-berbaris dan juga menyelenggarakan perkemahan dan Jambore. Selain itu, dalam kesempatan pembinaan kepada anggota HW, ia sering menasehati kepada anggota untuk menjadi manusia yang jujur, penuh keimanan dan berahlak mulia. Ia juga mengajarkan tentang bela negara kepada seluruh anggota HW sekaligus menghimbau agar supaya HW ikut berjuang untuk melawan penjajah, dengan cara berjihad dalam rangka dapat memperoleh kemerdekaan.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here