Home Pahlawan Mengenal KH Hasyim Asy’ari, Pendiri Nahdhatul Ulama

Mengenal KH Hasyim Asy’ari, Pendiri Nahdhatul Ulama

757
0

Oleh Hamzah Afifi

SejarahOne.id – Nama lengkap pendiri Nahdatul Ulama (NU) Hadratussyaikh KH Hasyim Asy’ari adalah Muhammad Hasyim Asy’ari bin ‘Abd Al Wahid. Lahir di Gedang, sebuah desa di daerah Jombang, Jawa Timur, pada Selasa Kliwon 24 Dzulqa’dah 1287 Hijriyah, bertepatan dengan tanggal 14 Februari 1871.

Asal usul dan keturunan KH M Hasyim Asy’ari tidak dapat dipisahkan dari riwayat kerajaan Majapahit dan kerajaan Islam Demak. Silsilah keturunannya, sebagaimana diterangkan oleh KH A Wahab Hasbullah menunjukkan bahawa leluhurnya yang tertinggi ialah neneknya yang kedua yaitu Brawijaya VI. Ada yang mengatakan bahwa Brawijaya VI adalah Kartawijaya atau Damarwulan dari pernikahannya dengan Puteri Champa lahirlah Lembu Peteng (Brawijaya VII).

Semasa hidup, beliau mendapat pendidikan dari ayahnya sendiri, terutama pendidikan ilmu-ilmu Al-Qur’an dan literatur agama lainnya. Setelah itu, ia menuntut ilmu ke berbagai pondok pesantren, terutama di Jawa seperti Shone, Siwilan Buduran, Langitan Tuban, Demangan Bangkalan dan Sidoarjo. Dan KH Hasyim Asy’ari merasa terkesan untuk terus melanjutkan studinya.

Lalu, beliau berguru kepada KH Ya’kub yang merupakan kiai di pesantren tersebut. Kiai Ya’kub lambat laun merasakan kebaikan, ketulusan serta akhlak KH Hasyim Asy’ari dalam sehari hari, sehingga dirinya menjodohkan Hasyim Asy’ari dengan putrinya, Khadijah. Tahun 1892, saat berusia 21 tahun, Hasyim Asy’ari melangsungkan pernikahan dengan putri KH Ya’kub tersebut.

Setelah menikah, KH Hasyim Asy’ari bersama istrinya segera menunaikan ibadah haji. Sekembalinya dari tanah suci, sang mertua menganjurkan menuntut ilmu di Mekkah. Hal ini didorong karena tradisi saat itu bahwa seorang ulama belumlah dikatakan cukup ilmu jika belum belajar dan mengaji di Mekkah selama bertahun-tahun. Di Mekkah, KH Hasyim Asy’ari mempelajari berbagai macam disiplin ilmu, seperti ilmu fiqh Syafi’iyah dan ilmu Hadits, terutama literatur Shahih Bukhari dan Muslim.

Saat KH Hasyim Asy’ari semangat menuntut ilmu dan telah menetap 7 bulan di Mekkah, Khadijah sang istri meninggal dunia saat melahirkan anak pertamanya sehingga bayinya tidak terselamatkan. Namun, hal ini tidak mematahkan semangat belajarnya untuk menuntut ilmu.

Semasa tinggal di Mekkah, KH Hasyim Asy’ari berguru kepada Syekh Ahmad Amin Al-Athar, Sayyid Sultan ibn Hasyim, Sayyid Ahmad ibn Hasan Al-Athar, Syekh Sayyid Yamani, Sayyid Alawi ibn Ahmad As-Saqqaf, Sayyid Abbas Maliki, Sayid ‘Abd Allah Al-Zawawi. Syekh Shaleh Bafadhal, Syekh Sultan Hasyim Dagastani dan para ulama lainnya di Mekkah.

Selama tujuh tahun KH Hasyim Asy’ari menuntut ilmu dan tinggal di Mekkah. Pada tahun 1900 Masehi atau 1314 Hijriyah, KH Hasyim Asy’ari pulang ke kampung halamannya. Beliau langsung membuka pengajian keagamaan, yang dalam waktu relatif singkat menjadi terkenal di wilayah Jawa.

Banyak karya KH Hasyim Asy’ari merupakan jawaban berbagai problematika masyarakat. Misalnya, ketika umat Islam banyak yang belum faham persoalan tauhid atau aqidah, lalu KH Hasyim Asy’ari menyusun kitab tentang aqidah, seperti Al-Qalaid fi Bayani ma Yajib min al-Aqaid, Ar-Risalah al-Tauhidiyah, Risalah Ahli Sunnah Wa al-Jama’ah, Al-Risalah fi al-Tasawwuf, dan lainnya.

Beliau juga sering menulis di majalah-majalah, seperti Majalah Nahdhatul Ulama’, Panji Masyarakat dan Swara Nahdhotoel Oelama’. Tulisan beliau berisi jawaban-jawaban atas masalah-masalah fiqhiyyah yang ditanyakan banyak masyarakat, seperti hukum memakai dasi, hukum mengajari tulisan kepada kaum wanita, hukum rokok, dan sebagainya.

Selain tentang masalah fiqhiyah, beliau juga mengeluarkan fatwa dan nasehat kepada kaum muslimin, seperti al-Mawaidz, doa-doa untuk kalangan Nahdhiyyin, keutamaan bercocok tanam, anjuran menegakkan keadilan, dan lain sebagainya.

Sebagai seorang intelektual, KH Hasyim Asy’ari telah menuliskan banyak hal berharga bagi pengembangan peradaban dan sejumlah literatur yang berhasil ditulisnya. Karya kitab-kitab beliau yang terkenal sebagai berikut:

1. Adab al Alim wa al Mutaalim (Kitab ini menjelaskan tentang berbagai hal berkaitan dengan etika orang yang menuntut ilmu dan seorang guru).
2. Ziyadat Ta’liqat (Sebuah tanggapan atas pendapat Syekh Abdulllah bin Yasin Pasuruan yang berbeda pendapat dengan NU).
3. At Tanbihat al Wajibat Liman Yasna’u al Maulid bi al Munkarat (Kitab ini menjelaskan tentang orang-orang yang mengadakan perayaan maulid Nabi dengan kemungkaran).
4. Ar Risalah al Jami’ah (Kitab ini menjelaskan tentang keadaan orang-orang yang meninggal dunia, tanda-tanda kiamat, serta ulasan tentang sunnah dan bidah).
5. Annur al Mubin fi Mahabatti Sayyid al Mursalin (Kitab ini menjelaskan tentang cinta kepada Rasul dan hal-hal yang berhubungan dengan nya, menjadi pengikutny dan menghidupkan tradisinya).
6. Hasyiyat ‘ala fathi ar Rahman bi Syarhi risalat al Wali Risalani li Syaikhi al Islam Zakariya al Anshari
7. Ad Durar al Muntasirah fi al masail at Tis’a Asyarata (Kitab ini menjelaskan tentang persoalan tarekat, wali, dan hal-hal penting lainnya yang terkait dengan keduanya atau pengikut tarikat).
8. At Tibyan fi Nahyi an Muqotha at al Arham wa al Aqrab wa al Akhwan (Kitab ini menjelaskan tentang pentingnya memperkuat ikatan silaturahim dan bahaya memutuskan ikatan tersebut).
9. Ar Risalah at Tauhid
10. Al Qawaid fi Bayani Yasibu min al ‘Aqaid

Kitab Adab Al-‘Alim wa Al-Muta’allimin adalah kitab yang berisi tentang konsep pendidikan. Kitab tersebut selesai disusun pada Ahad 22 Jumadi Tsani (Jumadil Akhir) tahun 1343 Hijriyah. KH Hasyim Asy’ari menulis kitab ini didasari kesadaran akan perlunya literatur yang membahas tentang etika (adab) dalam mencari ilmu pengetahuan. Menuntut ilmu merupakan pekerjaan agama yang sangat luhur sehingga orang yang mencarinya harus memperlihatkan etika-etika yang luhur pula

KH Hasyim Asy’ari sangat menganjurkan kepada para kyai dan guru-guru agama agar memiliki perhatian serius kepada masalah ekonomi untuk kemaslahatan; “Kenapa tidak kalian dirikan saja satu badan usaha, yang setiap wilayah ada satu badan usaha yang mandiri”. Demikian pernyataan KH Hasyim Asy’ari ketika mendeklarasikan berdirinya Nahdlah at-Tujjar (Gerakan Kaum Saudagar).

Berangkat dari kesadaran itulah Nahdlah at-Tujjar didirikan, dengan satu badan usaha yang ketika itu disebut Syirkah al-Inan, yang kemudian hari ketika NU berdiri wadah ekonomi tersebut berganti nama dengan Syirkah al-Mu’awanah.

Ketika Masyumi dijadikan partai politik pada 1945, KH Hasyim Asy’ari terpilih sebagai ketua umum. Setahun kemudian, 7 September 1947 (1367 H), KH Hasyim Asy’ari, yang bergelar Hadratussyaikh wafat. Berdasarkan keputusan Presiden No. 29/1964, ia diakui sebagai seorang pahlawan kemerdekaan nasional, suatu bukti bahwa beliau bukan saja tokoh agama dan cendikiawan Islam, tapi juga sebagai tokoh nasional.

Pada tahun 1930 dalam muktamar NU ke-3 kiai Hasyim selaku Rais Akbar menyampaikan pokok-pokok pikiran mengenai organisasi NU. Pokok-pokok pikiran inilah yang kemudian dikenal sebagai al-Qanun al-Asasy Li Jam’iyyah Nahdhatul Ulama (undang-undang dasar atau landasan pokok organisasi Nahdhatul Ulama).

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here