Home Merdeka Menelusuri Peran Divisi Siliwangi dalam Revolusi Nasional Indonesia

Menelusuri Peran Divisi Siliwangi dalam Revolusi Nasional Indonesia

56
0

Sejarahone.id – Masa revolusi nasional Indonesia pun merupakan salah satu rentangan sejarah bangsa Indonesia yang memiliki peran sentral dalam pembentukan negara Indonesia. Pada masa revolusi, dinamika perkembangan Indonesia sangat terlihat. Hal itu disebabkan pada masa revolusi perkembangan sejarah mengalami perubahan yang sangat cepat. Tercatat berbagai peristiwa penting yang menentukan jalannya Indonesia ke depan terjadi pada masa revolusi ini.

Berbagai penyerangan dan peperangan mempertahankan kemerdekaan, perjuangan Revolusi merupakan istilah yang dikembangkan oleh Charles Tilly yang merupakan bagian yang dijelaskan dalam teori collective action yang berfaham strukturis yang muncul pada abad ke-20 M.

Revolusi  merupakan peristiwa yang mampu merubah aspek tersebut, revolusi merupakan istilah yang diartikan sebagai peristiwa besar yang menyangkut semua aspek kehidupan manusia. Dimana dalam menjelaskan berbagai peristiwa harus mengungkap semua aspek yang terlibat di dalamnya baik aspek sosil, ekonomi, politik, budaya maupun agama.

Jadi, masa revolusi Indonesia merupakan masa dimana baru dibentuknya negara Indonesia sebagai negara merdeka. Sehingga untuk menjalankannya diwarnai dengan intrik politik yang tidak luput dari berbagai perjuangan dan aksi pertempuran. Secara sosiologis revolusi Indonesia muncul dari keinginan rakyat Indonesia untuk memperoleh kemerdekaan.

Keinginan itu muncul sebagai bentuk perlawanan membebaskan diri dari belenggu penjajahan dengan cara berjuang merebut kemerdekaan dan kebebasan. Akhirnya keinginan tersebut berhasil dilaksanakan melalui proklamasi kemerdekaan pada tanggal 17 Agustus 1945 oleh Soekarno-Hatta.

Menurut Djenderal T.B Simatupang proklamasi merupakan tindakan yang sangat revolusioner. Dimana dengan satu kalimat saja Indonesia menyatakan berdirinya satu negara nasional yang menghapus hak-hak penjajah atas negara Indonesia.

Dengan kalimat proklamasi tersebut, maka berakhirlah masa pendudukan Jepang dan terbentuklah sebuah bangsa yang merdeka. Selain itu, masa revolusi merupakan perjuangan mempertahankan kemerdekaan kendati banyak korban yang mungkin berjatuhan.

Pernyataan tersebut memberikan pengertian bahwa kemerdekaan harus dipertahankan secara masa itupun menurut Bung Karno dilihat dari tingkatan revolusi, Indonesia berada pada masa revolusi fisik/physical revolution. Dalam tingkatan ini Indonesia berada dalam fase merebut dan mempertahanan proklamasi kemerdekaan dari tangan imperialisme dengan mengorbankan darah. Sehingga setelah proklamasi Indonesia berada pada masa perjuangan mempertahankan, menengakan dan mengisi kemerdekaan dengan berbagai pertempuran dan perjuangan secara fisik yang seringkali disebut dengan revolusi fisik Indonesia yang berjalan dalam kurun waktu 1945-1949.

Salah satu penggerak terjadinya revolusi yang telah terjadi di dunia adalah karena adanya kekuatan militer. Begitu halnya dengan Indonesia, berlangsungnya revolusi untuk mempertahankan, mengisi serta menegakan kemerdekaan dan menjaga seutuhnya maka peran sentral tokoh politik dan aksi militer pun tidak bisa dilupakan.

Dimana kekuatan militer menjadi elemen mendasar terbentuknya perjuangan pada masa revolusi, karena kekuatan militer merupakan tentara patriot revolusioner Indonesia salah satunya adalah Divisi Siliwangi.

Divisi Siliwangi merupakan satuan militer yang menaungi seluruh wilayah Jawa Barat. Yang mana Divisi Siliwangi ini merupakan divisi rakyat Jawa Barat.

Divisi Siliwangi ini diresmikan menjadi satuan militer Jawa Barat pada tanggal 20 Mei 1946. Awalnya, satuan militer ini bernama Komandemen I-TKR Jawa Barat yang mulai dibentuk seiring dengan pembentukan TKR (Tentara Keamanan Rakyat) di tiap daerah Indonesia sesuai dengan maklumat Presiden tanggal 5 Oktober 1945.

TKR sendiri merupakan transformasi dari satuan sebelumnya yaitu BKR (Badan Keamanan Rakyat) yang dibentuk pada tanggal 22 Agustus 1945 diperuntukan hanya sebagai Badan Penolong Keluarga Korban Perang.

Pada perkembangan selanjutnya, terjadi reorganisasi di bidang pertahanan. Maka TKR disempurnakan dengan TRI (Tentara Rakyat Indonesia). Dengan adanya penyempurnaan semacam itu akhirnya kekuatan Komandemen I-TKR Jawa Barat dilebur dalam satu divisi yaitu Divisi Siliwangi.Setelah berhasil dibentuk barulah kiranya Divisi Siliwangi mulai melakukan berbagai aksi perjuangan untuk mempertahankan kemerdekaan bangsa Indonesia di wilayah Jawa Barat.

Peran Divisi Siliwangi

Pada awal pembentukannya, Divisi Siliwangi terbagi ke dalam 5 Brigade yaitu Brigade/I Tirtayasa, berkedudukan di Serang dan meliputi wilayah Keresidenan Banten, Brigade/II Suryakancana, berkedudukan di Sukabumi Bogor dan Cianjur Brigade/III Kian Santang, berkedudukan di Purwakarta dan meliputi daerah Purwakarta dan Karawang dan Brigade/IV Guntur, berkedudukan di Kerasidenan Priangan dan Brigade V/Sunan Gunung Djati untuk berkedudukan di Dinas Sejarah Angkatan Darat, Komandemen I-TKR Jawa Barat yang merupakan Cikal Bakal dan Perjuangan Divisi Siliwangi.

Dengan demikian, perjuangan Divisi Siliwangi tersebar di kantong-kantong pertahanan di wilayah Jawa Barat dibawah komando Panglima Divisi yaitu Mayor Jenderal A.H Nasution.Setelah berhasil dibentuk sebagai satuan pertahanan Jawa Barat, barulah kiranya Divisi Siliwangi tidak henti berjuang menghadapi berbagai serangan musuh menegakan dan mempertahankan kemerdekaan terutama serangan Belanda yang ingin menanamkan hegemoninya di wilayah Republik Indonesia. Untuk mempercepat penguasaannya atas Indonesia, Belanda melakukan konsolidasi dengan mengakui kedaulatan Indonesia secara de facto melalui perundingan Linggarjati pada 10 November 1946 bertepat di Cirebon.

Namun perundingan itu berjalan sangat alot dan Belanda mengurung-ngurung waktu dan pada akhirnya melanggar hasil perundingan tersebut. Selain itu, timbul perbedaan dalam menafsirkan isi dari perundingan tersebut membuka celah bagi Belanda untuk melakukan aksi genjatan senjata terhadap Indonesia.

Belanda menilai bahwa perjanjian Linggarjati menyempitkan aksi politik mereka. Sehingga pada tanggal 21 Juli 1947 Belanda mengadakan general repotition yang dikenal dengan Agresi Militer Belanda I.

Agresi Militer Belanda I bertujuan menduduki daerah yang secara politis dan ekonomis dianggap sangat penting, sehingga pendudukan tersebut dilakukan untuk meruntuhkan Republik Indonesia dengan cara melakukan blokade ekonomi, militer dan politik. Wilayah yang dijadikan sasaran utama adalah daerah Jawa, yang dianggap sebagai daerah “hintherland” (penyangga). Dengan menguasai wilayah Jawa Barat, maka membuka peluang bagi Belanda untuk dapat melakukan pendudukan ke Jawa Tengah dan akhirnya dapat menguasai pusat pertahanan dan pemerintahan Indonesia di Yogyakarta.

Dibawah kekuatan Mayor Jenderal Durst Britt dan Jenderal de Waal, akhirnya wilayah yang dipandang secara politis dan ekonomis di Jawa Barat berhasil diduduki. Diantaranya seperti Bandung dan Cirebon (4 Agustus 1947), Garut-Tasikmalaya (10-11 Agustus 1947) dan kota-kota distrik pantai Selatan.

Dari hasil pendudukan tersebut, maka hampir seluruh wilayah Jawa Barat dapat dikuasai oleh Belanda, kecuali wilayah Banten yang masih dikuasai sepenuhnya oleh Republik Indonesia. Aksi genjatan senjata yang dilakukan Belanda terhadap Indonesia menimbulkan reaksi yang keras dari pihak internasional. Maka Dewan Keamanan PBB merasa bertanggung jawab untuk menengahi aksi genjatan senjata dengan berhasil merundingkan pihak Indonesia dan Belanda di meja perundingan yang pada akhirnya disepakatilah Persetujuan Renville.

Berdasarkan peraturan genjatan senjata yang berhasil disepakati lewat persetujuan Renville, maka menetapkan wilayah kekuasaan Indonesia dan Belanda berdasarkan status quo. Dari adanya penetapan tersebut daerah yang telah diduduki Belanda ketika agresi militer berlangsung harus dikosongkan dari pasukan Republik dikarenakan wilayah tersebut menjadi wilayah pendudukan Belanda. Maka dengan adanya penetapan wilayah tersebut mengintruksikan pemindahan pasukan yang dikenal dengan perintah hijrah.

Dari hasil kesepakatan politik tersebut kemudian mengakibatkan ribuan prajurit yang tergabung dalam Divisi Siliwangi harus rela dihijrahkan ke wilayah Republik Indonesia meninggalkan kantong-kantong gerilya yang dari dulu diperjuangkan. Meski memundak beban moril yang sangat besar namun sebagai pasukan yang menjungjung disiplin dan kepatuhan terhadap negara maka Divisi Siliwangi bersedia dihijrahkan ke wilayah Republik Indonesia. Pelaksanaan hijrah dimulai pada 1 Februari 1948 hingga 22 Februari 1948. Ketika sesampainya di tempat hijrah pasukan Divisi pun tidak berhenti berjuang menumpas pergolakan PKI Madiun di Jawa Tengah yang dikenal dengan Gerakan Operasi Militer (GOM) I.

Memasuki bulan Desember 1948 Belanda kembali melakukan agresi militer untuk yang kedua kalinya yang mana agresi tersebut mengharuskan pasukan Divisi Siliwangi kembali berjuang pulang ke kantong-kantong gerilyanya ke wilayah Jawa Barat yang dikenal dengan istilah Long march. Perjuangan pasukan Divisi Siliwangi yang terangkum dalam memori revolusi dimana bukan hanya bertugas mempertahankan kemerdekaan Indonesia dari pihak luar yang di bawa oleh Belanda juga mempertahankan kemerdekaan Indonesia dari pihak dalam yang di bawa oleh pergolakan PKI Muso. Dalam waktu bersamaan pasukan Siliwangi berhasil melaksanakan tugasnya sebagai   satuan militer yang tangguh dari berbagai rintangan.

Itulah alasan mengapa hal itu dipotret dan dijadikan objek penelitian. Perjuangan Divisi Siliwangi terjadi pada masa revolusi merupakan masa penting dalam pembentukan Indonesia ke depan. Mungkin itulah kiranya mengapa perjuangan Divisi Siliwangi masa revolusi perlu di angkat dan di tuliskan, selain kurangnya tema ini diangkat juga dalam berbagai peristiwa yang dijalaninya memuat berbagai perjuangan yang di dalam nya terdapat ibrah dan hikmah yang besar untuk kemajuan Indonesia saat ini dan yang akan datang. Selain itu, juga masa revolusi merupakan masa awal yang berhasil membentuk Divisi Siliwangi menjadi satuan militer yang tangguh manakala pada periode selanjutnya di hadapkan dalam berbagai perjuangan.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here