Home Khasanah Melacak Jejak Sejarah Penerjemahan Al Quran di Indonesia

Melacak Jejak Sejarah Penerjemahan Al Quran di Indonesia

123
0

Oleh. Hana Wulansari

SejarahOne.id – Indonesia sebagai negara berpenduduk mayoritas Muslim terbesar di dunia telah melahirkan sejumlah terjemah Alquran yang terus bertambah selama masa kolonial dan setelah kemerdekaan pada tahun 1945. Indonesia dengan beragam suku, adalah rumah bagi sejumlah besar bahasa daerah dan beragam adat daerah. Dan, hingga tahun 2020, sejumlah besar terjemah Alquran yang diproduksi dalam bahasa-bahasa daerah di Indonesia.

Tulisan ini akan membahas, bagaimana jejak sejarah Al Quran terjemahan di Indonesia. Ini diawali dengan penerjemahan Alquran  ke dalam bahasa  Melayu, yang telah dilakukan sejak pertengahan abad ke-17 M. Penerjemahnya  Adalah  Abdul Ra’uf Fansuri, seorang ulama dari Singkel (sekarang masuk wilayah Aceh) yang pertama kali menerjemahkan Al Quran secara lengkap di bumi Nusantara.

Meski terjemahannya boleh disebut kurang sempurna dari ditinjauan ilmu bahasa Indonesia modern, Abdul Ra’uf Fansuri bisa dikatakan sebagai tokoh perintis penerjemahan Alquran berbahasa Indonesia. Setelah munculnya terjemahan Alquran karya Abdul Ra’uf Fansuri, hampir tak ditemukan lagi terjemahan Alquran dalam bahasa Indonesia hingga abad ke-19 M.

Abdul Ra’uf Kembali ke Tanah Air

Abdur Ra’uf  menimba di Arab Saudi sejak 1640. Ia kembali ke Tanah Air pada 1661. Ulama terkemuka itu lalu menerjemahkan Alquran ke dalam bahasa Melayu dalam tafsir Tarjuman al-Mustafid.  Tafsir Alquran pertama di Nusantara itu disambut umat Islam yang bersemangat mempelajari dan memahami isi ajaran Alquran.

Selain di Indonesia, tafsir tersebut juga digunakan oleh umat Islam di  Singapura dan Malaysia. Tafsir itu pernah diterbitkan di Singapura, Penang, Bombay, Istanbul (Matba’ah al-usmaniah, 1302 H/ 1884 M dan 1324 H/ 1906 M), Kairo (Sulaiman al-Maragi), serta  Makkah (al-Amiriah).

Sedikitnya ada dua pendapat besar mengenai tafsir yang ditulis Abdul Ra’uf itu. Pertama, orientalis asal Belanda, Snouck Hurgronje menganggap bahwa terjemah tersebut lebih mirip sebagai terjemahan tafsir al-Baidaiwi. Rinkes, murid Hurgronje, menambahkan bahwa selain sebagai terjemahan tafsir al-Baidawi,  karya ulama asal Aceh itu juga mencakup terjemahan tafsir Jalalain.

Kedua,  Riddel dan Harun memastikan bahwa Tarjuman Al-Mustafid adalah terjemahan tafsir Jalalain, hanya pada bagian tertentu saja tafsir tersebut memanfaatkan tafsir al-Baidaiwi dan tafsir al-Khanzin.  Abdul Ra’uf, menurut kedua ahli itu, cenderung memilih tafsir Jalalain. Secara emosional, Singkel memiliki runtutan sanad itu dapat ditelusuri melalui gurunya, baik al-Qusyasyi maupun atau al-Kurani.

Menurut Azyumardi Azra, Abdul Ra’uf menulis terjemahan Alquran ke dalam bahasa Melayu dalam perlindungan dan fasilitas penguasaan Aceh, ketika itu. Ia sangat yakin, karya besar itu ditulis di Aceh. Tarjuman Mustafid  karya Abdul Ra’uf merupakan salah satu petunjuk besar dalam sejarah keilmuan Islam, khususnya tafsir di tanah Melayu.

Penerjemahan Generasi Kedua

Penerjemahan generasi kedua  di Indonesia muncul pada pertengahan tahun 60-an. Baru di awal abad ke-20 M, sejumlah karya-karya terjemahan Alquran lengkap dengan tafsirnya dibuat. Di antara karya-karya tersebut adalah Al-Furqan oleh A Hassan dari Bandung (1928), Tafsir Hidayatur Rahman oleh KH Munawar Chalil, Tafsir Qur’an Indonesia oleh Mahmud Yunus (1935), Tafsir Al-Qur’an oleh H Zainuddin Hamid cs (1959), Tafsir Al-Qur’anil Hakim oleh HM Kasim Bakry cs (1960).

Munculnya terjemah atau tafsir lengkap, menandai lahirnya generasi ketiga pada tahun 70-an. tafsir generasi ini biasanya memberi pengantar metodologis serta indeks yang akan lebih memperluas wacana masing-masing. tafsir An-Nur/Al-Bayan (Hasbi Ash-Shiddieqi, 1966), Tafsir Al-Azhar (Hamka, 1973), Tafsir Al-Quranul Karim (Halim Hasan cs, 1955) dianggap mewakili generasi ketiga.

Kendati karya-karya terjemahan Alquran berbahasa Indonesia masih terbilang sedikit, namun pemerintah Republik Indonesia menaruh perhatian besar terhadap terjemahan Alquran ini. Hal ini terbukti bahwa penerjemahan Alquran  masuk dalam Pola I Pembangunan Semesta Berencana, sesuai dengan keputusan MPR.

Untuk melaksanakan program ini Kementerian Agama pada masa itu telah membentuk sebuah lembaga Yayasan Penyelenggara Penterjemah / Penafsir Alquran yang diketuai oleh Prof RHA Soenarjo SH, mantan Rektor IAIN Sunan Kalijaga Yogyakarta, waktu itu. Tim ini beranggotakan para ulama dan para sarjana Islam yang mempunyai keahlian dalam bidangnya masing-masing.

Pada masa Orde Baru, dari Repelita ke Repelita, pemerintah selalu mencetak kitab suci Alquran. Pada Repelita V (1984-1989), misalnya, telah dicetak 3.729.250 buah Alquran, terdiri dari Mushaf Alquran, Juz ‘Amma, Alquran dan Terjemahannya, serta Alquran dan Tafsirnya. Atas masukan dan saran masyarakat serta pendapat Musyawarah Kerja Ulama Alquran ke XV (23-25 Maret 1989), terjemah dan tafsir Alquran tersebut disempurnakan oleh Pusat Penelitian dan Pengembangan Lektur Agama bersama Lajnah Pentashih Mushaf Alquran.

Penerjemahan Era Modern

Pada tahun 1971 Terjemahan Al-Qur’an edisi tahun 1965 mengalami penyempurnaan kecil pada beberapa bagian. Untuk kemudian dicetak menjadi satu jilid sehingga terlihat cukup tebal, sekitar 1294 halaman. Cetakan edisi ini diberi judul “Al-Qur’an dan Terjemahnya”.

Pada tahun 1989 Kementerian Agama melalui Lajnah Pentashih Mushaf Al-Qur’an melakukan kajian penyempurnaan Al-Qur’an dan Terjemahnya. Penyempurnaan pertama kali ini tidak menyeluruh, hanya fokus pada penyempurnaan redaksional yang dianggap tidak sesuai dengan bahasa indonesia ketika itu. Tim ini dipimpin oleh ketua Lajnah saat itu, Drs. Hafidz A Dasuki, MA. Pada tahun 1990 hasil penyempurnaan ini juga diterbitkan oleh pemerintah Arab Saudi. Mereka membagikan secara gratis Al-Qur’an dan Terjemahnya kepada jamaah haji indonesia, sebelum kembali ke tanah air.

Penyempurnaan kedua dilakukan oleh Kementerian Agama pada tahun 1998 hingga tahun 2002. Penyempurnaan kali ini lebih menyeluruh, sehingga memakan waktu sekitar 4 tahun. Perbaikan yang dilakukan meliputi empat aspek pokok, antara lain aspek bahasa, aspek konsistensi, aspek substansi, dan aspek transliterasi yang mengacu pada SKB Dua Menteri tahun 1987.

Beberapa ulama yang menjadi anggota tim penyempuna antara lain, Prof. Dr. M. Quraish Shihab, MA, Prof. Dr. Said Agil Husin al-Munawwar, MA dan Prof. Dr. H. A. Baiquni. Ketika itu Lajnah masih dipimpin oleh Drs. H. A. Dasuki, MA. Finalisasi kajian tersebut dilakukan pada masa Lajnah dipimpin oleh Drs. H. Fadhal Bafadal, M.Sc dengan anggota tim antara lain: Dr. KH. Ahsin Sakho Muhammad, MA, (alm) Prof. Dr. KH. Ali Mustafa Yaqub, MA dan lainnya.

Al-Qur’an dan Terjemahnya edisi tahun 2002 terlihat lebih tipis dibandingkan edisi tahun 1990, yaitu dari 1294 halaman menjadi 924 halaman, berkurang 370 halaman. Selain karena sistem terjemahan edisi 2002 lebih singkat, juga ada beberapa bagian yang dihilangkan, seperti bagian pembukaan dan footnote. []

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here