Home Merdeka Mayor Sambas Atmadinata, Pejuang Bekasi yang Jadi Menteri

Mayor Sambas Atmadinata, Pejuang Bekasi yang Jadi Menteri

598
2

Oleh: Endra Kusnawan

SEJARAHONE.ID – Bisa jadi hanya Mayor Sambas Atmadinata yang merupakan pejuang di Bekasi yang pernah menjabat sebagai menteri. Mulai dari Kabinet Kerja I (1959-1960), Kabinet Kerja II (1960-1962), Kabinet Kerja III (1962-1963), dan Kabinet Kerja IV (1963-1964) pada era orde lama.

Meski bergonta-ganti perdana menteri, Sambas selalu dipercaya sebagai Menteri Muda Urusan Veteran. Hanya pada Kabinet Kerja III saja menjadi Menteri Jaksa Agung. Menjelang akhir pemerintahan Soekarno, Sambas menjabat sebagai Duta Besar Indonesia bagi Rumania (1965-1968).

Sebagai seorang pejuang kelahiran 1925, dirinya sudah terbiasa ditempatkan dalam berbagai posisi dan jabatan. Dalam konteks Bekasi, Sambas merupakan sosok yang paling lama memimpin para pejuang dalam wadah BKR/TKR/TNI di Bekasi dalam melawan Inggris dan Belanda.

Mulai dari awal kemerdekaan hingga perang revolusi berakhir. Anak buahnya yang bertebaran di Bekasi dan sekitarnya pun menjadi saksi tentang kelihaiannya dalam memimpin perang.

Karir kemiliteran dimulai saat bergabung dengan kesatuan PETA pada jaman pendudukan Jepang. Tidak lama setelah proklamasi dibacakan, Sambas ditunjuk sebagai Komandan Batalyon V BKR untuk wilayah Bekasi.

Meskipun ada perubahan nama dan struktur dari BKR menjadi TKR pada Oktober 1945, lalu berganti menjadi TRI pada Januari 1946, dan berubah lagi jadi TNI pada Juni 1947, Sambas tetap memegang tampuk pimpinan untuk daerah Bekasi. Termasuk ketika kembali hijrah dari Yogya ke Bekasi atas perintah Jenderal Soedirman untuk melakukan perang gerilya setelah agresi militer oleh Belanda.

Sebagai tentara resmi republik yang berada diperbatasan, dirinya kerap menghadapi dilema antara mengikuti perintah dari pimpinan pusat untuk mundur dari setiap tapal batas yang terus merugikan Republik, atau tetap menggempur pertahanan musuh bersama sejumlah laskar yang tidak setuju terhadap tapal batas baru yang ditetapkan sepihak. Meskipun pada akhirnya, sebagai seorang prajurit, dia tetap mengikuti perintah atasannya.

Menyadari bahwa perlawanan terhadap penjajah tidak bisa dilakukan sendiri, sedangkan dilain pihak terdapat sejumlah elemen masyarakat yang ingin ikut berjuang, membuat dirinya bersikap fleksibel terhadap keberadaan laskar. Tidak melarang, bahkan cenderung saling dukung terhadap sesama pejuang. Sehingga dirinya dihormati oleh laskar yang perang di Bekasi meski terdapat perbedaan dalam melakukan strategi perang.

Pertempuran yang cukup melegenda di Bekasi, yaitu pertempuran di daerah Rawa Pasung pada 29 November 1945, pasukan BKR dibawah pimpinanannya bersama sejumlah laskar dan warga Kranji, Rawa Pasung, Rawa Bambu, dan sekitarnya bahu membahu melakukan sergapan terhadap pasukan Inggris. Perang jarak dekat pun tak terelakkan. Hasilnya, pasukan pejuang berhasil memukul mundur pasukan Inggris yang hendak merangsek ke Bekasi dengan kekuatan besar.

Selepas perang di Rawa Pasung, pasukannya hampir tidak pernah absen dalam melakukan perlawanan. Sebagai pimpinan di daerah perbatasan antara wilayah penjajah dan Republik, perlu konsentrasi tingkat tinggi dan cermat dalam membuat strategi perang dan membuat keputusan. Bagaimana mengarahkan anak buahnya yang mencapai ratusan, kordinasi dengan sejumlah laskar, melakukan perlindungan terhadap warga, dan tetap menaati perintah pimpinan.

Termasuk ketika semua pasukan Siliwangi diperintahkan untuk hijrah ke Yogya dan sekitarnya yang menjadi wilayah republik pada awal tahun 1948, tidak ketinggalan juga dengan pasukan Sambas yang di Bekasi. Dengan penempatan di Surakarta, mereka turut mendapat perintah dari Jenderal Sudirman untuk memadamkan pemberontakan PKI di Madiun dan sekitarnya.

Diantara prestasi yang berhasil ditoreh adalah saat Batalyon Sambas begerak pada 28 September 1948 menuju Pabrik Gula Rejosari (Magetan) yang telah dijadikan markas oleh PKI. Tidak butuh waktu lama, mereka berhasil membebaskan tawanan dan menemukan puluhan orang yang telah dibunuh oleh PKI ditempat tersebut.

Tidak hanya menghadapi penghiatan dalam negeri, Belanda pun ternyata melakukan penghianatan atas perjanjian yang pernah disepakati. Dengan melakukan agresi militernya yang kedua pada Desember 1948, Belanda mengobrak-abrik wilayah kekuasaan Republik. Jenderal Sudirman pun mengeluarkan strategi perang gerilya. Sang jenderal meminta kepada semua pasukannya untuk kembali ke daerahnya masing-masing. Termasuk juga pasukan Sambas.

Untuk menghadapi musuh bersama, Siliwangi yang telah kembali pun bersama-sama sejumlah laskar membentuk kesatuan. Meskipun cara mereka berbeda, namun agar tidak mudah dipatahkan oleh Belanda, mereka bersatu padu. Secara resmi, pada 6 April 1949 dibentuk Staf Gabungan Gerilya Jakarta Timur yang merupakan gabungan antara Bambu Runcing (Pimpinan Chaerul Saleh), SP88 (Satuan Pemberontak 88, pimpinan Usman Sumantri) dan Kesatuan Siliwangi dibawah pimpinan Mayor Sambas Atmadinata. Mereka bersama-sama melakukan perang gerilya melawan Belanda.

Akan tetapi, kerja sama tersebut akhirnya bubar setelah perjanjian Roem-Royen yang ditandatangani 7 Mei 1949 di Jakarta. Isinya bahwa untuk menyelesaikan konflik antara kedua negara ditempuh jalan perundingan.

Untuk menunjang persetujuan, diadakan gencatan senjata dan gencatan senjata tersebut ternyata menjadi sumber perpecahan antara laskar dan tentara. Bagi Chaerul Saleh dan kelompoknya dari Bambu Runcing (BR), persetujuan itu merupakan bentuk pengkhianatan Republik terhadap prinsip-prinsip Revolusi Nasional.

Pertemuan pada 6 Agustus 1949 di Purwakarta disepakati bahwa Mayor Sambas sebagai pimpinan Kesatuan Siliwangi menyatakan bahwa TNI tetap bersikap loyal, tunduk pada putusan gencatan senjata. Sikap yang sama dinyatakan juga oleh SP88. Namun BR menyatakan sebaliknya. Mereka tetap bertekad melanjutkan perjuangan melawan Belanda. Pertentangan tersebut mengakibatkan bubarnya staf gabungan.

Selepas perang revolusi, Sambas Atmadinata tetap berkarir dalam dunia militer. Karirnya terus menanjak. Pangkat Mayor Jenderal pun diraihnya. Pada Mei 1959, para veteran mempercayakan Sambas sebagai Pimpinan Umum BPP Legiun Veteran Republik Indonesia (LVRI) periode 1959-1965. Tidak berapa lama kemudian, dalam Kebinet Kerja I memasukkan Sambas sebagai Menteri Muda Urusan Veteran.

Kalau dilihat perjalanan karir, sepertinya Sambas tidak berkembang saat perang revolusi. Berbeda halnya dengan rekan-rekannya yang seangkatan lainnya. Hanya dalam hitungan bulan saja, cepat sekali naik pangkat dan jabatan. Tapi itu tidak membuat dia menjadi minder, iri, dan dengki.

Menjadi malas dalam berjuang, apalagi berkhianat. Baginya, berjuang bagi tanah air itu tidak perlu perhitungan. Namun begitu, buah dari dedikasi yang kuat terhadap ibu pertiwi, pangkat dan jabatannya terus menanjak. Hingga jabatan menteri pun disandangnya hingga beberapa kali. Suatu prestasi yang belum disamai oleh yang lain dari Bekasi.

Perjuangan dalam mengusir penjajah dari Bekasi, sudah selayaknya pemerintah atau masyarakat Bekasi memberikan penghargaan bagi Sambas Atmadinata. Miris memang. Salah satu tokoh sentral dalam perjuangan di Bekasi ini banyak masyarakat yang tidak mengenal siapa dirinya.

Tidak ada nama jalan, gedung, apalagi monumen yang mengabadikan tentang pahlawan Bekasi ini. Padahal jejak perjuangannya berserakan dimana-mana. Dalam memori rekan, pimpinan, apalagi anak buahnya. Sejumlah arsip dan dokumen juga ada. Tapi entahlah. Museum Bekasi saja tidak ada.

 

2 COMMENTS

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here