Home Ekonomi May Day Sejak Abad 19, Berbuntut Penyerangan Oleh Negara

May Day Sejak Abad 19, Berbuntut Penyerangan Oleh Negara

21
0
1902, Philadelphia, Pennsylvania, USA --- Child labor strike in Philadelphia, Pennsylvania. Photograph 1902 --- Image by © Bettmann/CORBIS

Oleh. Hana Wulansari

SejarahOne.id – May day yang diperingati setiap tanggal 1 Mei adalah hari peringatan buruh. Sejarah May Day tidak terlepas dari perjuangan klas buruh dalam menuntut 8 jam kerja. Abad ke-19 adalah periode di mana klas buruh diperhadapkan pada kenyataan bahwa dari 24 jam sehari, mereka rata-rata bekerja 18 sampai 20 jam. Tak pelak lagi bahwa tuntutan yang diajukan adalah memperpendek jam kerja.

Perjuangan menuntut 8 jam kerja ini diawali oleh kaum buruh di Amerika Serikat  pada tahun 1884, yang berbuntut pada penyerangan yang dilakukan oleh negara dan alat kekerasannya.

Pada tanggal 1 Mei 1886, 80.000 buruh di Amerika Serikat melakukan demontrasi menuntut 8 jam kerja. Dalam beberapa hari demontrasi ini segera direspon dengan pemogokan umum, yang membuat 70.000 pabrik terpaksa ditutup.

Demonstrasi ini berlanjut sampai 4 Mei 1886. Klas penguasa terusik. Dengan alat kekerasannya, negara menembaki pekerja yang melakukan demontrasi dan menewaskan ratusan buruh. Peristiwa ini telah membawa dampak yang dalam bagi klas buruh di dunia. Karena itu, pada ulang tahun jatuhnya Bastille 4 Juli 1889 (= ulang tahun ke-100 Revolusi Prancis), semua buruh diberbagai negeri berkumpul dan memutuskan resolusi. Isi resolusi tersebut yakni : “Kongres memutuskan untuk mengorganisir sebuah demonstrasi internasional yang besar, sehingga di semua negara dan di semua kota pada satu hari yang telah ditentukan itu rakyat pekerja akan menuntut pihak berwenang negara hukum pengurangan hari kerja menjadi delapan jam, serta melakukan keputusan-keputusan yang laindari Kongres Paris.Sejak demonstrasi serupa telah diputuskan untuk 1 Mei 1890 oleh Federasi Tenaga Kerja Amerika di konvensi di St Louis, Desember, 1888, hari ini diterima untuk demonstrasi internasional.  Para pekerja dari berbagai negara harus mengorganisir demonstrasi ini sesuai dengan kondisi yang berlaku di setiap negara.”

Pada hari-hari selanjutnya, 1 Mei telah menanamkan dalam benak kaum buruh bahwa mereka tidak sendiri. Jutaan kaum buruh dari seluruh penjuru dunia telah tersatukan menjadi sebuah klas, memotong prasangka ras, suku, etnis kebangsaan, warna kulit, kasta, dan agama. Kaum buruh di berbagai negeri melakukan perlawanan terhadap kekuasaan para boss yang telah mencekik mereka selama bertahun-tahun.

Kekuasaan yang bertumpu pada kepemilikan pribadi dan membiarkan jutaan kaum pekerja menderita, itulah kekuasaan menurut sistem kapitalisme. Sebuah sistem yang menaruh jutaan kepala rakyat pekerja ke tiang gantungan pasar dunia. Sekarang sistem ini sedang dalam krisis, yang dengan jelas memperlihatkan bahwa kapitalisme tidak dapat memberikan kemajuan dan kemakmuran rakyat pekerja. Sebaliknya, sebagian terbesar umat manusia di seluruh dunia dihantui momok kemiskinan, semakin intensnya eksploitasi, dan hancurnya masa depan.

Menghadapi situasi seperti ini, rakyat pekerja di dunia diperhadapkan pada pemotongan standar hidup. Ini telah memicu demonstrasi-demontrasi yang besar-besaran. Revolusi Arab telah membuktikan kegigihan rakyat pekerja menumbangkan kediktaktoran. Di Spanyol, Italia, dan Yunani sekarang diguncang demonstrasi serta pemogokan umum.

Karena itu pesan dari May Day adalah Internasionalisme kaum buruh sebagai penegasan kembali perjuangan klas dalam melawan ekploitasi dan merebut kemenangan. Kemenangan ini tidak akan dicapai dalam batasan kapitalisme. Kaum buruh harus menggulingkan kapitalisme melalui revolusi sosialis yang akan menempatkan kaum buruh ke tampuk kekuasaan.

Benang merah antara May Day dengan hak-hak para pekerja bukan bermula dari negara komunis atau sosialis semacam Rusia atau Kuba, melainkan Amerika Serikat. Kala itu, pada puncak Revolusi Industri, ribuan buruh pria, wanita, dan anak-anak meninggal setiap tahunnya, akibat kondisi kerja yang buruk dan jam kerja yang panjang, rata-rata 10-16 jam per hari.

Dalam upaya menghentikan kondisi tak manusiawi tersebut, Federation of Organized Trades and Labor Unions (FOTLU) menggelar konferensi di Chicago pada 1884. Organisasi tersebut memproklamirkan, jam kerja para buruh harus dibatasi hingga maksimal 8 jam dan wajib diberlakukan pada 1 Mei 1886.

Pada tahun berikutnya, Knights of Labor, yang kala itu adalah organisasi buruh terbesar di Negeri Paman Sam, mendukung tuntutan tersebut. Knights of Labor dan FOTLU kemudian mengerahkan para buruh untuk mogok kerja dan berdemonstrasi.

Pada 1 Mei 1886, lebih dari 300 ribu pekerja, yang berasal dari 13 ribu perusahaan di seluruh negeri, turun ke jalan untuk menuntut haknya. Pemogokan pun terjadi, hampir 100 ribu buruh mogok kerja.

Awalnya, aksi protes berlangsung damai. Namun, situasi berubah pada 3 Mei 1886, ketika aparat Kepolisian Chicago terlibat bentrok dengan para buruh di McCormick Reaper Works. Korban jiwa pun jatuh. Empat buruh tewas.

Keesokan harinya, aksi demo kembali digelar di Haymarket Square, terutama untuk memprotes para pekerja yang tewas dan terluka akibat insiden tersebut.

Orasi August Spies yang berapi-api, mereda ketika sekelompok aparat datang untuk membubarkan demonstrasi. Namun, saat polisi mendekat, seseorang yang tak diketahui identitasnya melempar bom ke arah barisan petugas. Setelahnya, kekacauan pun terjadi. Setidaknya tujuh polisi dan delapan warga sipil tewas.

Pada Agustus 1886, delapan orang yang dicap sebagai anarkis dihukum dalam sidang, yang berlangsung secara sensasional dan kontroversial, meskipun tidak ada bukti kuat yang mengaitkan para terdakwa dengan insiden pengeboman. Para juri dituduh punya kaitan dengan kekuatan bisnis besar.

Tujuh dari mereka yang dinyatakan bersalah dijatuhi hukuman mati, dan satu lainnya divonis 15 tahun bui. Empat terpidana mati tewas di tiang gantung, satu memilih bunuh diri, dan tiga lainnya yang tersisa mendapat pengampunan enam tahun kemudian.

Beberapa tahun setelah Kerusuhan Haymarket (Haymarket Riot) dan persidangannya mengejutkan dunia, koalisi partai sosialis dan buruh yang baru terbentuk di Eropa menyerukan dilakukannya demonstrasi sebagai penghormatan bagi “Haymarket Martyrs” — martir Haymarket.

Pada 1890, lebih dari 300 ribu orang turun ke jalan di demonstrasi May Day di London. Sejarah pekerja 1 Mei akhirnya dianut oleh banyak pemerintahan di seluruh dunia, tidak hanya mereka yang memiliki pengaruh sosialis atau komunis.

Saat ini, May Day menjadi hari libur resmi di sedikitnya 66 negara dan secara tak resmi dirayakan di sejumlah negara lainnya. Ironisnya, 1 Mei justru tak diakui di negara di mana sejarahnya bermula: Amerika Serikat.

Setelah Pemogokan Pullman (Pullman Strike) 1894, Presiden Grover Cleveland memindahkan Hari Buruh ke Senin pertama di Bulan September. Tujuannya, untuk memutuskan kaitannya dengan Hari Pekerja Internasional — yang dikhawatirkan akan membangun dukungan untuk komunisme dan penyebab radikal lainnya.

Presiden Dwight D. Eisenhower mencoba untuk membangkitkan kembali May Day pada 1958 — namun kian menjauhkan dari ingatan soal Kerusuhan Haymarket. Ia menyatakan 1 Mei sebagai “Law Day”, hari perayaan untuk penegakan hukum dan kontribusinya atas kebebasan yang dinikmati warga AS.

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here