Home Merdeka Masuk Islamnya Prabu Siliwangi, Raja Pajajaran

Masuk Islamnya Prabu Siliwangi, Raja Pajajaran

803
0

Oleh: Hamzah Afifi

SEJARAHONE.ID – Pangeran Jaya Dewata atau Raden Pamanah Rasa, yang lebih dikenal dengan sebutan Prabu Siliwangi, berdasarkan buku Carita Purwaka Caruban Nagari (CPCN) karya Pangeran Arya Cirebon yang ditulis pada 1720 atas dasar Negarakerta Bumi, menuturkan bahwa pada Tahun 1409 Ki Gedeng Tapa dan anaknya Nyai Subang Larang, penguasa Syahbandar Muara Jati Cirebon sedang menunggu tamu utusan.

Mereka menyambut kedatangan pasukan angkatan laut Tiongkok pimpinan Laksamana Muslim Cheng Ho yang ditugaskan oleh Kaisar Yung Lo (Dinasti Ming 1363-1644) memimpin misi muhibah ke-36 negara. Antara lain ke Timur Tengah dan Nusantara (1405-1430). Membawa pasukan muslim 27.000 dengan 62 kapal.

Misi muhibah Laksamana Cheng Ho ini tidak melakukan perampokan atau penjajahan. Bahkan memberikan bantuan membangun sesuatu yang diperlukan oleh wilayah yang didatanginya. Seperti Cirebon dengan mercusuarnya. Karena itu, kedatangan Laksamana Cheng Ho disambut gembira oleh Ki Gedeng Tapa sebagai Syahbandar Cirebon. Di Cirebon, Laksmana Cheng Ho membangun mercusuar.

Dalam Armada Angkatan Laut Tiongkok itu, rupanya juga diikutsertakan seorang ulama bernama Syekh Hasanuddin. Ia adalah putra seorang ulama besar Perguruan Islam di Campa yang bernama Syekh Yusuf Siddik yang masih ada garis keturunan dengan Syekh Jamaluddin serta Syekh Jalaluddin, ulama besar Makkah masih keturunan dari Sayyidina Husain Bin Sayyidina Ali Ra dan Siti Fatimah putri Rasulullah SAW.

Syekh Hasanuddin, seorang ulama yang hafidz Al-Qur’an serta ahli Qiro’at yang sangat merdu suaranya untuk mengajar Agama Islam di Kesultanan Malaka. Dikisahkan pula bahwa setelah Syekh Hasanuddin menunaikan tugasnya di Malaka, selanjutnya beliau pulang ke Campa dengan menempuh perjalanan melewati ke daerah Martasinga, Pasambangan dan Jayapura hingga melalui pelabuhan Muara Jati.

Di Muara Jati, Syekh Hasanuddin berkunjung kembali ke Ki Gedeng Tapa, Syahbandar Cirebon yang dulu pernah dikunjunginya bersama Laksamana Cheng Ho. Kedatangan ulama besar yag ahli Qiro’at tersebut, disamping karena perubahan tatanan dunia politik dan ekonomi yang dipengaruhi oleh Islam seperti sangat banyak kapal niaga muslim yang berlabuh di pelabuhan Cirebon, kapal niaga dari India Islam, Timur Tengah Islam dan Cina Islam.

Memungkinkan tumbuhnya rasa simpati Ki Gedeng Tapa sebagai Syahbandar Cirebon terhadap Islam. Karenanya kedatangan Syekh Hasanuddin disambut baik oleh Ki Gedeng Tapa atau Ki Gedeng Jumajan Jati yang memperoleh kekuasaan berasal dari Ki Gedeng Sindangkasih setelah wafat.

Ketika kunjungan yang cukup lama itu berlangsung, Ki Gedeng Tapa dan anaknya Nyai Subang Larang serta masyarakat Syahbandar Muara Jati merasa tertarik dengan Suara lantunan ayat Al-Qur’an serta ajarannya yang dibawa Syekh Hasanuddin, hingga akhirnya banyak warga yang memeluk Islam.

Penyebaran agama Islam yang disampaikan oleh syekh Hasanuddin di Muara Jati Cirebon, yang merupakan bawahan dari Kerajaan Pajajaran, rupanya sangat mencemaskan Raja Pajajaran Prabu Anggalarang, sehingga pada waktu itu, penyebaran agama Islam diperintahkan agar dihentikan. Perintah dari Raja Negeri Pajajaran tersebut dipatuhi oleh Syekh Hasanuddin.

Beberapa saat kemudian, Syekh Hasanuddin mohon diri kepada Ki Gedeng Tapa. Sebagai sahabat, Ki Gedeng Tapa sendiri sangat prihatin atas peristiwa yang menimpa ulama besar itu, Sebab ia pun sebenarnya masih ingin menambah pengetahuannya tentang Agama Islam.

Oleh karena itu, sebagai wujud kesungguhannya terhadap agama Islam, putri Ki Gedeng Tapa yang bernama Nyai Subang Karancang atau Nyai Subang Larang dititipkan ikut bersama ulama besar ini untuk belajar mengaji dan Agama Islam di Campa.

Beberapa waktu lamanya berada di Campa, kemudian Syekh Hasanuddin membulatkan tekadnya untuk kembali ke wilayah negeri Pajajaran. Dan untuk keperluan tersebut, maka telah disiapkan dua perahu dagang yang memuat rombongan para santrinya adalah Syekh Abdul Rahman. Syekh Maulana Madzkur dan Syekh Abdilah Dargom, termasuk Nyai Subang Larang.

Sekitar tahun 1416 Masehi, setelah rombongan ini memasuki Laut Jawa dan Sunda Kelapa lalu memasuki Kali Citarum, yang waktu itu di kali tersebut ramai dipakai keluar masuk para pedagang ke Negeri Pajajaran, akhirnya rombongan perahu singgah di Pura Dalam atau Pelabuhan Karawang, dimana kegiatan Pemerintahan dibawah kewenangan Jabatan Dalem.

Karena rombongan tersebut, sangat menjunjung tinggi peraturan kota Pelabuhan, sehingga aparat setempat sangat menghormati dan memberikan izin untuk mendirikan Mushola (1418 Masehi) sebagai sarana Ibadah sekaligus tempat tinggal mereka.

Setelah beberapa waktu berada di pelabuahan Karawang, Syekh Hasanuddin menyampaikan dakwah-dakwahnya di Mushola yang dibangunnya (sekarang Masjid Agung Karawang) dari uraiannya mudah dipahami dan mudah diamalkan, ia beserta santrinya juga memberikan contoh pengajian Al-Qur’an, yang menjadi daya tarik tersendiri di sekitar Karawang.

Ulama besar ini sering mengumandangkan suara Qorinya yang merdu bersama murid-muridnya, Nyi Subang Larang, Syekh Abdul Rohman, Syekh Maulana Madzkur dan santri lainnya seperti Syekh Abdullah Dargom alias Darugem alias Bentong bin Jabir Modafah alias Syekh Maghribi keturunan dari sahabat nabi (sayyidina Ustman bin Affan) karena ulama besar ini memang seorang Qori yang merdu suaranya.

Oleh karena itu, setiap hari banyak penduduk setempat yang secara sukarela menyatakan masuk Islam. Berita tentang dakwah Syekh Hasanuddin yang kemudian masyarakat Pelabuhan Karawang memanggilnya dengan Syekh Quro, rupanya telah terdengar kembali oleh Prabu Anggalarang, yang dahulu pernah melarang Syekh Quro melakukan kegiatan yang sama tatkala mengunjungi pelabuhan Muara Jati Cirebon.

Sehingga, ia segera mengirim utusan yang dipimpin oleh sang putra mahkota yang bernama Pangeran Jaya Dewata atau Raden Pamanah Rasa untuk menutup Pesantren Syekh Quro tersebut.

Namun, tatkala putra mahkota ini tiba di tempat tujuan, rupanya hatinya tertambat oleh alunan suara merdu ayat-ayat suci Al-Qur’an yang dikumandangkan oleh Nyai Subang Larang. Putra Mahkota (yang setelah dilantik menjadi Raja Pajajaran bergelar Sri Baduga Maharaja atau lebih dikenal Prabu Siliwangi II) itu pun mengurungkan niatnya untuk menutup Pesantren Quro dan tanpa ragu-ragu menyatakan isi hatinya untuk memperistri Nyai Subang Larang yang cantik, pandai membaca Al-Qur’an dan halus budinya.

Pinangan tersebut diterima, tapi dengan syarat mas kawinnya yaitu Lintang Kerti Jejer Seratus yang dimaksud itu adalah simbol dari Tasbeh (Tasbih) yang merupakan alat untuk berwirid yang berada di Mekkah. Permohonan Nyi Subang Larang disanggupi oleh Pangeran Jaya Dewata (Raden Pamanah Rasa). Atas petunjuk Syekh Quro, Prabu Pamanah Rasa segera pergi ke Mekkah.

Di tanah suci Mekkah, Prabu Pamanah Rasa disambut oleh Syekh Maulana Jafar Sidik. Prabu Pamanah Rasa merasa keget, ketika namanya diketahui oleh seorang syekh. Dan Syekh itu, bersedia membantu untuk mencarikan Lintang Kerti Jejer Seratus dengan syarat harus mengucapkan Dua Kalimah Syahadat.

Sang Prabu Pamanah Rasa pun mengucapkan Dua Kalimah Syahadat yang maknanya adalah pengakuan pada Allah SWT, sebagai satu-satunya Tuhan yang harus disembah dan Nabi Muhammad adalah utusannya.

Semenjak itulah, Prabu Pamanah Rasa masuk agama Islam dan menerima Lintang Kerti Jejer Seratus atau Tasbeh. Mulai dari itu, Prabu Pamanah Rasa diberi ajaran tentang agama islam yang sebenarnya.

Prabu Pamanah Rasa segera kembali ke Pajajaran untuk melangsungkan pernikahan keduanya dengan Nyai Subang Larang. Waktu terus berjalan, maka pada tahun 1422 M, pernikahan dilangsungkan di Pesantren Syekh Quro dan dipimpin langsung oleh Syekh Quro. Beberapa lama setelah menikah, Prabu Pamanah Rasa dinobatkan sebagai Raja Pakuan Pajajaran (Raja Pajajaran) dengan gelar Prabu Siliwangi.

Kerajaan Pakuan Pajajaran, biasa disebut kerajaan Pajajaran (1482-1579 M). Pada masa kejayaannya kerajaan Prabu Pamanah Rasa terkenal dengan sebutan Sri Baduga Maharaja dengan gelar Prabu Siliwangi dan dinobatkan sebagai raja pada usia 18 tahun. (**)

 

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here