Home Uncategorized Legenda Singa Padang Pasir

Legenda Singa Padang Pasir

157
0
Betlehem, Kota Kelahiran Nabi Isa

SEJARAHONE.ID-Sosok mujahid tangguh, gagah berani, pantang menyerah, mungkin pernah Anda dengar. Seorang legend di medan tempur asal Libya saat menghadapi penjajah Perancis. Nama legend itu Syaikh Omar Mokhtar. Ia ulama yg juga combaten gagah berani. Amat ditakuti penjajah Perancis.

Kengerian para bedebah kolonial pada seorang Omar Mokhtar, memang bukan tanpa alasan. Sang Legend tak pernah mempan dibujukrayu berdamai dg penjajah. Walau kompensasi yang ditawarkan para bedebah negerinya Macron itu, amat menggiurkan. Tapi sang Legend tetap kukuh bertahan pada posisi sbg pejuang bangsa Libya yg konsisten.

Konsistensi dan keberaniannya yang amat melagenda itu, tak ayal menulari keberanian yang kian meluas di tanah Libya. Rakyat terinspirasi oleh jiwa pejuang sejati sang Legend untuk melawan para bedebah Perancis di seluruh tanah Islam itu. Ini yg membuat para bedebah Macron itu amat susah payah menaklukkan Omar Mokhtar.

Sosok kharismatis itu baru bisa ditangkap, setelah seluruh upaya dikerahkan penjajah, menggelontorkan dana milyaran dolar, mengerahkan ribuan pasukan dan senjata, melibatkan para ahli perang Perancis dan juga segelintir pengkhinat Libya. Tatkala Omar Mokhtar dihadapkan tiang gantungan, sang Legend melangkah gagah tanpa rasa takut. Dengan kepala tegak dia pandangi dg tatapan tajam para Algojo Hukuman Mati.

“Kalian para bedebah pengecut…! Kalian tak akan bisa menaklukkan aku dan tanah airku. Sebab darah pejuang akan tetap mengalir deras di tanah Islam Libya, setelah kematianku…!”*

Oleh para sejarawan, sang Legend dijuluki sbg Lion of the Desert (Singa Padang Pasir).

Diksi “Singa” amat populer disematkan pada sosok2 pejuang pemberani yg istiqomah. Seorang petempur sejati di medan perang, dijuluki Singa Medan Tempur. Seorang orator pemberani biasa disebut Singa Mimbar. Demikian seorang politikus istiqomah kerap disematkan kpdnya dengan julukan Singa Parlemen.

Julukan gagah itu memang merujuk pada sifat dan kehebatan hewan bernama singa. Singa dijuluki Raja Hutan, karena ia hewan berpostur besar, kuat dan amat garang. Taring, cakar, gigi-gigi tajam, serta terkamannya yg kokoh tak terduga, ditambah kecepatan larinya yg tak tertandingi hewan lain. Dapat dipastikan, tak ada satupun buruannya yg bisa lolos dari kejarannya. Aumannya amat berwibawa, kerap memecah keheningan hutan.

Namun kegarangan dan kehebatan Singa bisa diaborsi dg cara penangkaran. Seorang pawang sirkus yang tau bgmn cara menaklukkan singa, misalnya. Ia akan bisa meredusir kegagahan sang Sang Raja Rimba. Dg cara tangkar dan diberi makan secara rutin, dielus2 dan dilatih agar mau mengikuti perintah sang Pawang, maka lama kelamaan hewan buas menakutkan itu niscaya akan tergerus sifat dan karakter aselinya. Bahkan ia cenderung jadi jinak, lucu dan tidak menakutkan lagi.

Si Pawang (user) tentu saja dg leluasa bisa mempertontonkannya di panggung sirkus. Bila perintah sang Pawang dipatuhi, singa akan dapat carrot (makanan hadiah). Namun bila ia agak lemot, sang Pawang biasanya memukulnya dg stick (tongkat). Tongkat dan makanan biasanya jadi senjata sang Pawang untuk mengendalikan singa yg sdh jinak itu.

Pakem *”carrot and stick (wortel dan tongkat)”* juga berlaku dalam dunia politik dan pertarungan ideologi. Wortel dianalogikan dg ruswah/gratifikasi (uang haram) dan tongkat digambarkan sbg alat gebuk.

Musuh2 Islam amat konsisten memainkan pakem itu untuk mengaborsi kekuatan Islam. Caranya dg menjinakkan tokoh2 Islam yg semula garang, singa podium atau kritis thd rezim misalnya. Caranya? Ya.. itu, dg mengumpan carrot terus menerus, baik dg cara halus, sembunyi atau sedikit vulgar bahkan.

Sebaliknya kelompok-kelompok yang “bandel mbalelo” dalam pandangan mereka, akan dihabisi dg kebijakan Iron Policy (tangan besi, fitnah, persekusi dan brangus habis).

Cheryl Bernard dari Rand and Corp (lembaga think tank AS), dlm laporan bertajuk *”Civil Democratic Islam, Partners, Resources and Strategies (2003)”*, merumuskan taktik menghadapi umat Islam pasca Tragedi WTC 11 September 2001.

Islam oleh Cheryl dikategorikan dlm 3 kelompok besar: Islam moderat, tradisionalis dan sekuler. Tiga kelompok ini, menurutnya, harus dirangkul (dielus2 dg carrot). Sedangkan pada kelompok Islam Radikalis (ideologis), Cheryl menyarankan harus dg politik tangan besi (stick).

Cheryl menduplikasi teori Snouck Horgrounye yg terkenal dg politik belah bambunya *(“devide et ampera”)* ketika berhasil memecah belah barisan umat Islam melawan para bedebah kolonialis Belanda. Intinya dia berhasil mengadu domba antar umat Islam. Islam akhir berperang sendiri melawan umat Islam.

Politik licik keji ini, boleh jadi yg saat ini dimainkan musuh2 Islam. Para singa Islam sejati, apa boleh buat harus berhadapan dg umat Islam sendiri, yg notabene dari kalangan Islam tradisionalis, moderat dan sekuler. Kini musuh para pejuang Istiqomah tentu jadi bertambah lagi satu kelompok, yakni kelompok singa2 Islam yg behasil dijinakkan musuh menjadi *”kucing dapur”* Kok bisa begitu? Ya… krn mereka tidak mampu lagi mengaum dg garang, kecuali yg tinggal adalah meongannya yg lucu, sembari menunggu sang Pawang melemparkan carrot (disumpel uang haram) lalu dielus2 dg jabatan.

Kucing2 hasil metamorfosa dari Singa itu, bisa galak tentunya jika diperintahkan pemberi Carrot. Kepada siapa mereka diperintahkan sang Pawang untuk galak? Tentu kpd kelompok Singa Islam yg kritis dan istiqomah melawan ketidakadilan dan kesewenang2an. Karena kelompok ini sangat sulit dijinakkan dg Carrot.

Wallahu a’lam.

TULISKAN PENDAPAT KAMU?

Please enter your comment!
Please enter your name here