Home Pemberontakan Kronologi Operasi Penumpasan dan Pemberontakan PKI Madiun 1948 (Bagian 2)

Kronologi Operasi Penumpasan dan Pemberontakan PKI Madiun 1948 (Bagian 2)

202
0

SEJARAHONE.ID – 20 September, Pasukan PKI dan beberapa tokohnya mulai meninggalkan Madiun menuju ke timur ke arah Dungus (basis).Rencana pelarian ke Dungus rupanya memang telah dipersiapkan sebelumnya, apabila Madiun sudah tidak dapat dipertahankan lagi.

20 September, Gubernur Militer II melakukan tindakan pertama dengan mengeluarkan instruksi kepada semua satuan bersenjata di Solo untuk menghentikan tembak-menembak mulai pukul 12.00 malam dan besok harinya tanggal 21 September 1948 agar semua komandan kesatuan yang saling bermusuhan harus melaporkan diri. Mereka yang tidak melapor dianggap sebagai pemberontak.

20 September, Komandan Brigade 12 Letkol Kusno Utomo mendapat perintah langsung dari Panglima Besar Jenderal Soedirman, merebut dan membebaskan daerah utara Jawa Tengah dari tangan pasukan PKI.

20 September, Tokoh-tokoh FDR/PKI di Blitar ditangkapi.

20 September, Di daerah Surabaya telah dilakukan penangkapan dan pelucutan terhadap PKI oleh Letnan Kolonel Kretarto.

20 September, Bantuan pasukan dari Polri mulai datang melapor kepada Gubemur Militer I di Kediri.Pasukan dari Polri ini berkekuatan satu batalyon (4 kompi).Bantuan ini di maksudkan untuk membantu operasi penumpasan PKI di Madiun dari arah timur.

21 September, Kolonel Soengkono menemui Mayor Sumarsono, Komandan Batalyon Sumarsono yang berasal dari Laskar (BPRI) di Purwosari (Kediri) untuk menanyakan sikapnya.Sumarsono menyatakan kesetiaannya kepada Pemerintah RI.

21 September Brigade XXIX di Kediri telah dapat dilucuti dan dilumpuhkan, yang berakibat larinya Batalyon Maladi Jusuf yang, pada waktu itu didislokasi di Ngadirejo.

21 September, Panglima Besar Jenderal Soedirman dan Komandan Pertahanan Jawa Tengah Kolonel B. Sugeng mengunjungi kedua kesatuan yang bertikai, yaitu Siliwangi dan Panembahan Senopati.Pada kesempatan tersebut Panglima Besar menegaskan bahwa dalam pertikaian itu tidak ada yang salah.Pertikaian itu terjadi karena sengaja dibuat oleh pihak PKI.Pertikaian itu ternyata tidak dapat di selesaikan secara tuntas.

21 September, Hari H Gerakan penumpasan dari arah timur adalah tanggal 21 September 1948.Dari arah selatan mulai di gerakkan dua batalyon, yaitu Batalyon Mudjajin danBatalyon Harsono.

21 September, Batalyon A. Kosasih yang berkedudukan di Magelang, di Yogyakarta melaporkan kedatangan Batalyonnya kepada Komandan Brigade Letkol Kusno Utomo.Komandan Brigade kemudian memerintahkan agar pasukan ini segera bergerak ke Solo dalam rangka operasi menumpas pemberontak PKI.

22 September, Djokosujono mengundang sejumlah Komandan TNI untuk berkonferensi di Madiun.Undangan disampaikan 22 September 1948 malam, melalui siaran “Radio Gelora Pemuda”.Yang diundang ialah Panglima Pertahanan Jawa Timur, Komandan Brigade Mobil J awa Timur dan Komandan¬komandan militer lainnya di seluruh daerah Republik di Jawa Timur.Mereka diharap datang di Balaikota Madiun tanggal 24 September 1948 pukul 11.00 guna merundingkan keadaan.

22 September, Asrama TRIP di jalan Ponorogo, Madiun, digrebek dan diduduki PKI.Senjata pasukan TRIP berusaha dilucuti.Anggota TRIP menolak dan melakukan perlawanan, akibatnya seorang anggota TRIP bernama Moeljadi gugur.

22 September, Pasukan MaladiJusuf sore hari berusaha menyerang dan menduduki kota Trenggalek, tetapi tidak berhasil. Batalyon Mudjajin bertindak lebih cepat menduduki Trenggalek.

23 September, Komunike Brigade Sadikin yang pertama mengatakan bahwa Sarangan dan Walikukun telah direbut kembali oleh TNI dari tangan kaum pemberontak.

23 September, Kapten A. Kosasih dari Yogyakarta berangkat ke Klaten untuk menemui Mayor Sunitieso dengan menggunakan jeep dan dikawal oleh beberapa orang prajurit. Kapten A Kosasih menjelaskan bahwa pasukannya akan bergerak ke Solo, dan menanyakan kepada Mayor Sunitioso dengan alat angkut apa agar pasukannya bisa dibawa dengan aman.

23 September, Pasukan-pasukan TNI mengadakan pemeriksaan dari rumah ke rumah di dalam kota Yogyakarta, untuk mencari tokoh-tokoh PKI yang bersembunyi.

23 September, Pasukan Subandono dari Randublatung berangkat ke Cepu untuk memperkuat pasukan Chris Sudono yang mempertahankan kota Cepu.

23 September, Polit Biro PKI menyerukan melalui Radio Madiun, bahwa “berhubung dengan Serangan Umum yang telah dilakukan oleh pemerintah penjual romusha, Soekarno¬Hatta”, supaya “rakyat dengan aktif memberikan perlawanan terhadap serangan-serangan itu”.

23 September, Untuk membalas undangan Djokosuyono, Panglima Besar Soedirman mengumumkan bahwa Kejaksaan Tentara Republik telah mendakwa sejumlah opsir tinggi yang telah “memberontak”.

Antara lain, Kol. Djokosuyono, Panglima Militer Daerah Madiun, Kol. Ir. Sakirman, Letkol Martono Brotokusumo, Mayor Anas, Mayor Pramuji, Mayor Banumahdi, Mayor Usman dan Kapten Misbach. Orang-orang ini berada di daerah pendudukan komunis. Jika keadaan mengizinkan, mereka akan dituntut di muka Mahkamah Tentara.

24 September, Terjadi pertempuran antara pasukan pemerintah dengan para pemberontak selama beberapa jam di Sawangan, 20 km di sebelah timur laut Magelang.

24 September, PKI menyerbu Kantor Polisi Parakan.

24 September, Malam hari, di Tuban dilakukan penangkapan terhadap semua pemimpin FDR oleh Polisi.

25 September, Pagi hari pukul 08.00, Kantor Kabupaten Sukoharjo berhasil diduduki. Pada hari itu seluruh kota Sukoharjo dapat dikuasai Batalyon A. Kosasih. Pasukan pemberontak TLRI yang bertahan di Sukoharjo mundur dengan meninggalkan banyak korban.

25 September, PKI melancarkan aksi-aksinya di Parakan yaitu dengan melakukan penculikan 60 orang, di antaranya Wedana Parakan, Wedana Kretek dan Asisten Wedana Kretek, seorang pemilik sekolah, penghulu Candiroto, Kapten Sumantri dan Letnan Muda Suwadji.

25 September, Dalam rangka pembebasan kota Madiun dari arah Barat. Batalyon Sambas yang terdiri dari 3 kompi, berangkat dari Tasikmadu menuju Tawangmangu lewat Karangpandan. Pada hari itu juga Batalyon Sambas yang berkekuatan 760 orang bergerak dari Tawangmangu menuju Madiun dengan tugas utama : Menguasai Madiun dalam waktu singkat, menguasai RRI dan melaporkan kembali setelah Madiun direbut.

25 September, Ex Letnan’ Kolonel Suyoto, di Purwodadi di Pendopo Kabupaten, memproklamirkan berdirinya pemerintahan Front Nasional daerah Semarang.Suyoto sendiri yang menjadi pemimpin militer tertinggi pemerintahan PKI itu.

26 September, Batalyon Nasuhi berhasil merebut kota distrik Sidoharjo, suatu tempat yang penting sekali artinya mengingat letaknya antara dua pusat PKI, yaitu Ponorogo dan Wonogiri dan memisahkan kompleks pegunungan utara Pacitan dengan kompleks Lawu.

27 September, Parakan dapat direbut kembali oleh pasukan pemerintah.Mayor Salomon dan Mayor Sakri yang ditawan oleh pemberontak dapat dibebaskan.Pasukan pemberontak tercerai-berai, ada yang melarikan diri ke Candiroto dan ada yang ke Wonosobo yang pada saat itu telah diduduki oleh Brigade Bachrun untuk mengamankan tempat itu.

29 September, Sekitar satu kompi pasukan PKI menyerang asrama TNI di Magelang. Pusat kota Magelang juga mendapat serangan dari arah barat dan timur.

30 September, Pasukan Brimob Polri dipimpin oleh Inspektur Polisi II Imam Bachri berhasil memasuki kota Madiun dari utara.

30 September, Kompi II Batalyon Sambas, pada gerakan selanjutnya bertugas melakukan serangan memasuki kota Madiun dari arah selatan secara melambung.

30 September, Kota Madiun telah berada kembali di tangan pemerintah RI dengan masuknya pasukan Sillwangi dari arah barat serta pasukan Sunarjadi dari arah timur.Pasukan-pasukan lawan secara tergesa-gesa melarikan diri keluar Madiun.

1 Oktober, Keluar peraturan Pemerintah tentang pemberantasan pernyataan setuju dengan perbuatan kaum pemberontak, yang gunanya ialah untuk memudahkan usaha pemerintah dalam menyelamatkan negara.

1 Oktober, Komandan Batalyon, Mayor Sambas, berangkat menuju Plaosan melaporkan situasi kepada Komandan Brigade Letnan Kolonel Sadikin dan Panglima KRU Kolonel Drg. Moestopo.

2 Oktober, Dungus, yang merupakan salah satu pangkalan PKI yang terkuat di lereng gunung Wilis, dapat direbut pula oleh satu-satuan TNI.

2 Oktober, Pagi hari kota Kabupaten Ponorogo dapat direbut oleh TNI.

8 Oktober, Kota Ponorogo diserang dari arah timur oleh kekuatan yang terdiri dari Batalyon Panjang, Batalyon Maladi Jusuf, Batalyon Durachman, Batalyon Mussofa dan Batalyon Sidik Arselan. Komando dipegang oleh Djokosuyono, yang menjabat Gubernur Militer Madiun.Serangan PKI ini mulai dilancarkan pada pukul 03.00 dini hari.

8 Oktober, Kota Cepu berhasil dibebaskan dari tangan pemberontak, dan kilang minyak dapat di selamatkan. Dalam pertempuran pembebasan kota Cepu banyak anggota Laskar Minyak yang tertangkap dan menyerah. Sukiban, Komandan Laskar Minyak mati tertembak dalam pertempuran tersebut.

8 Oktober, Hubungan kereta api dari Yogyakarta ke daerah lain: Yogya – Solo – Madiun, Yogya – Magelang dan Yogya – Kertoarjo dibuka kembali setelah beberapa lama ditutup karena adanya operasi pembersihan terhadap sisa-sisa PKI di Yogya.

11 Oktober, Pasukan pemberontak di bawah pimpinan Kapten Sugomo yang melarikan diri ke daerah Wonosobo berhasil ditawan.Mereka merupakan pasukan pemberontak terakhir di daerah Kedu.

11 Oktober, Randublatung sebagai tempat pemusatan pemberontak dapat direbut kembali oleh Batalyon Kemal Idris.

13 Oktober, Setelah menilai kekuatan lawan, Batalyon Kala Hitam diputuskan untuk segera bergerak ke Pati. Pada hari itu juga kota Pati dapat dibebaskan dari tangan pemberontak. Dua kompi pasukan TLRI yang menduduki kantor karesidenan Pati menyerah.

13 Oktober, Kota Blora dapat dikuasai oleh Batalyon Kala Hitam dan diduduki tanpa perlawanan yang berarti dari pemberontak.

15 Oktober, Batalyon Achmad Wiranatakusumah berhasil merebut kota kota Pacitan.

15 Oktober, Purwodadi yang dipertahankan oleh Batalyon Purnawi dan pasukan Brigade TLRI Soejoto berhasil dibebaskan tanpa perlawanan.

15 Oktober, Brigade 12 Siliwangi berhasil menduduki kotaPurwodadi, ibukota darurat Karesidenan Semarang. Residennya memihak PKI.

18 Oktober, Pukul 06.00 Wirosari dapat direbut kembali dari tangan pemberontak.Pasukan A. Kosasih mendapat perlawanan yang berat dari pemberontak (Batalyon Purnawi).

20 Oktober, Kudus dapatdibebaskan pagihari pukul06.30pasukan pemberontak yang mempertahankan kota Kudus berkekuatan satu batalyon, dari Brigade Sudiarto.

31 Oktober, Musso mati diternbak oleh Letlu Sumadi di tempat mandi blandong milik seorang penduduk Semanding.

5 November, Abdul Muntolib dan sekretarisnya, Sritin anggota Pesindo, tertangkap di Girimarto.

22 November, Djokosuyono menyerah, disusul dengan menyerahnya Abdul Hamid, Komandan Batalyon pasukan pengawal Amir Sjarifuddin beserta pasukannya.Ia menyerah kepada Seksi Priyatno dari Kompi Sukamto di sekitar Godong.

29 November, Kompi Ranuwidjaja dari Yon Kusmanto Brigade 6 yang bermarkas di sekitar Penawangan, melakukan operasi pembersihan di pegunungan sekitar Klambu. Dalam operasi ini Ki Ranuwidjaja berhasil menangkap Amir Sjarifuddin pukul17.00 di Gua Macan desa Penganten Kecamatan Klambu, setelah para pengawalnya meninggalkannya.

4 Desember, Mayor A. Kosasih tiba di Yogyakarta.Amir Sjarifuddin dan tawanan lainnya diserahkan kepada Pemerintah Pusat di Yogyakarta.

17 Desember, Batalyon Kala Hitam tiba di Yogyakarta dari Purwodadi setelah selesai melaksanakan tugasnya menumpas pemberontak PKI Madiun.

19 Desember, Agresi Militer II Belanda meletus. Bertepatan dengan itu sebelas orang pemimpin PKI yang tertawan, dijatuhi hukuman mati.

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here