Home Opini Komunisme, Bangkrut atau Bangkit?

Komunisme, Bangkrut atau Bangkit?

57
0

Oleh: Dr Anwar Budiman SH MH

Entah darimana datangnya, isu komumisme dan Partai Komunis Indonesia (PKI) selalu berembus di bulan Mei, dan akan mencapai puncaknya pada September-Oktober. Mungkin karena 23 Mei adalah hari ulang tahun PKI yang lahir pada 23 Mei 1920 atau saat ini sudah berusia seabad atau seratus tahun.

Mungkin pula karena 30 September nanti merupakan peringatan puncak pemberontakan PKI terhadap pemerintahan yang sah di republik ini. Terukir dalam sejarah, pada 30 September 1965 PKI melakukan pemberontakan dengan menculik dan membunuh tujuh jenderal yang kemudian dikenal sebagai Pahlawan Revolusi, yang monumennya, Monumen Pancasila Sakti, berdiri kokoh di Lubang Buaya, Jakarta Timur. Adapun tujuan pemberontakan ialah mengganti Pancasila dengan ideologi komunisme.

Tapi yang jelas, tak mungkin ada asap bila tak ada api. Apakah saat ini memang ada gerakan laten, bawah tanah atau klandestein dari kaum komunis atau PKI di Indonesia? Namanya juga gerakan bawah tanah, maka sulit untuk diidentifikasi. Yang jelas, kita yang masih setia kepada ideologi Pancasila harus tetap waspada.

Sekadar ilustrasi yang penulis kutip dari sebuah sumber, PKI didirikan pada 23 Mei 1920 sebagai perubahan atas ISDV (Indische Sociaal Democratische Vereeniging). ISDV didirikan oleh Henk Sneevliet, pembawa komunisme ke Indonesia dari Belanda, bersama sekitar 60 orang sosialis demokrat di Hindia Belanda.

Perubahan ISDV menjadi PKI karena Sneevliet menganjurkan agar ISDV menjadi anggota Komintern (Komunis Internasional). Untuk itu, harus dipenuhi 21 syarat antara lain memakai nama terang partai komunis dan menyebut nama negaranya.

Awalnya bernama Perserikatan Komunis Hindia. Ia menjadi partai komunis pertama di Asia dan organisasi komunis terbesar di luar blok China-Uni Soviet. Kongres II pada Juni 1924 memutuskan mengubah namanya menjadi Partai Komunis Indonesia, sehingga menjadi partai pertama yang menggunakan nama “Indonesia”.

PKI berkembang pesat. Pada 1924 sudah memiliki seribu anggota. Namun, PKI memberontak terhadap pemerintah kolonial Belanda pada 1926-1927. Pemerintah kolonial pun melarang PKI dan mengasingkan ribuan orang komunis ke Boven Digul, Papua. Sejak itu, PKI bergerak di bawah tanah sehingga disebut PKI-ilegal, sampai masa pendudukan Jepang.

Pada masa revolusi kemerdekaan, kaum komunis terpecah: PKI-ilegal, Partai Sosialis, Partai Buruh Indonesia (PBI), PKI Mohammad Joesoeph, dan Pesindo. Setelah Musso tiba di Indonesia dari luar negeri pada 1948 dengan gagasan “jalan baru”, dilakukanlah fusi tiga partai bermazab Marxsisme-Leninisme: PKI-ilegal, PBI, dan Partai Sosialis.

Setelah melakukan pemberontakan di Madiun, Jawa Timur, tahun 1948, PKI tiarap dan baru muncul lagi awal 1951 di tangan anak-anak muda seperti Dipa Nusantara Aidit, Njoto, dan MH Lukman. Mereka berhasil membesarkan PKI, sehingga pada pemilu pertama tahun 1955, PKI menempati ranking keempat dengan meraih 16,4% suara.

Riwayat PKI berakhir setelah peristiwa Gerakan 30 September 1965 atau G 30 S/PKI 1965. PKI dituding melakukan kudeta dan dalang pembunuhan para jenderal. Pemimpin, anggota, simpatisan, bahkan orang-orang yang tak tahu-menahu soal PKI, menjadi korban pembantaian sepanjang 1965-1966.

PKI telah diputuskan sebagai partai terlarang. Namun PKI terus ditakuti dan diyakini masih hidup hingga kini. Benarkah? Ada yang berpendapat, menganggap PKI masih hidup ibarat mimpi di siang bolong. PKI menurut mereka sudah bangkrut, seiring bangkrutnya ideologi komunisme di seluruh dunia, dengan tumbangnya Uni Sovyet dan Yugoslavia.

Saat ini praktis hanya Rusia, Kuba, China dan Korea Utara yang menganut komunisme sebagai ideologi negara. Tapi sistem perekonomian negara-negara itu, terutama Rusia, China dan Kuba merupakan kombinasi antara komunisme dan kapitalisme.

Benarkah komunisme telah bangkrut di Indonesia? Negara memang telah membubarkan dan melarang keberadaan PKI melalui Ketetapan Majelis Permusyawaratan Rakyat Sementara (MPRS), yakni TAP MPRS Nomor XXV Tahun 1966 tentang “Pembubaran Partai Komunis Indonesia, Pernyataan Sebagai Organisasi Terlarang di Seluruh Wilayah Negara Republik Indonesia Bagi Partai Komunis Indonesia dan Larangan Setiap Kegiatan untuk Menyebarkan atau Mengembangkan Paham atau Ajaran Komunisme/Marxisme/Leninisme”.

Tapi bila melihat fenomena yang terjadi di masyarakat serta dalam kehidupan berbangsa dan bernegara, anggapan bahwa PKI dan komumisme sedang bangkit tak bisa sepenuhnya diabaikan. Lihat saja, ada anak bangsa ini yang melalui bukunya mengaku bangga sebagai anak PKI.

Negara juga sangat sensitif terhadap ektrem kanan, tapi kurang sensitif terhadap ekstrem kiri. Padahal mestinya keduanya diperlakukan sama, melarang ekstrem kanan sekaligus melarang ekstrem kiri. Kita berada di tengah-tengah ekstrem kanan dan ektrem kiri dengan ideologi Pancasila yang sudah terbukti sakti.

Mengapa pula DPR RI yang kini sedang membahas Rancangan Undang-Undang (RUU) Haluan Ideologi Pancasila (HIP) tidak memasukkan TAP MPRS Nomor XXV/1966 sebagai salah satu landasannya?

Atribut dan simbol-simbol yang terasosiasi dengan PKI, seperti palu-arit juga masih suka bermunculan di tengah masyarakat, yang bisa memancing situasi panas atau minimal mengurangi kenyamanan, sehingga sudah seharusnya ditertibkan.

Plus, PKI tidak pernah kapok untuk memberontak terhadap pemerintahan yang sah, yakni tahun 1948 dan 1965. Ketika pemberontakan gagal, mereka secara laten bergerak di bawah tanah atau klandestein.

Alhasil, bila ada yang berasumsi PKI sedang bangkit maka tak bisa sepenuhnya diabaikan. Sebab, sudah ada presedennya. Minimal sebagai peringatan bahwa jangan hanya ekstrem kanan yang harus diwaspadai, melainkan juga ekstrem kiri yang harus lebih diwaspadai.

:: Dr Anwar Budiman SH MH (Advokat/Dosen Pascasarjana Ilmu Hukum Fakultas Hukum Universitas Krisnadwipayana, Jakarta)

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here