Kisah Sutami, Mentri Termiskin Era Soekarno Hingga Soeharto

    22
    0

    SEJARAHONE.ID – Sutami salah satu sosok mentri yang paling dikagumi. Dia merupakan Menteri Pekerjaan Umum dan Tenaga Listrik era Presiden Soekarno dan Presiden Soeharto. Sutami begitu sederhana hingga dijuluki sebagai ‘Menteri Termiskin’.

    Arsitek Friedrich Silaban (kiri) bersama Menteri Pekerjaan Umum dan Tenaga Listrik Ir Sutami, sedang mengamati bangunan Masjid Istiqlal.

    Perangainya yang mengagumkan tersebut membuatnya dihormati banyak orang. Bahkan Sutami sangat disayang oleh Presiden Soekarno dan Soeharto kala itu. Sutami menjabat sebagai menteri selama 14 tahun, sejak 1965 hingga 1978. Berbagai proyek berhasil dibangun seperti Gedung DPR, Jembatan Semanggi dan Waduk Jatiluhur. Dia pula yang memimpin proyek pembangunan Bandara Ngurah Rai.

    Meski sudah belasan tahun menjabat sebagai menteri, nyatanya Sutami memilih untuk menikmati hidup sederhana. Berikut kisah inspiratif Menteri Sutami yang patut diteladani.

    Mencicil Rumah

    Banyak orang yang telah bekerja dengan Sutami, mereka menilai kesan pendiam dan sederhana terhadap sang menteri tersebut. Menteri ini sama sekali tidak pernah bermewah-mewahan.

    Bahkan rumahnya di Jl Imam Bonjol, Jakarta Pusat dibeli dengan mencicil. Baru saat akan pensiun rumah itu lunas.

    Rumah yang Bocor dan Menolak Halus Tawaran Mobil

    Suatu hal yang unik, menteri pekerjaan umum sejak Kabinet Dwikora ini tidak merenovasi rumahnya sendiri. Pada suatu ketika, tradisi lebaran rumah para pejabat selalu ramai dikunjungi tamu. Demikian pula rumah Menteri Pekerjaan Umum dan Tenaga Listrik, Sutami.

    Tak disangka, tamu yang datang malah terkaget-kaget melihat rumah bapak menteri yang satu ini. Mereka melihat ke atap dan banyak bekas bocor di langit-langit rumah.

    Rupanya sudah lama rumah Sutami bocor. Demikian ditulis oleh Staf Ahli Menteri PU, Hendropranoto Suselo, dalam Edisi Khusus 20 tahun Majalah Prisma yang diterbitkan LP3ES tahun 1991 di Jakarta.

    Tidak Berlebihan Memanfaatkan Fasilitas Negara

    Sutami juga tak pernah mau memanfaatkan fasilitas jabatan secara berlebihan. Saat lengser tahun 1978, dia mengembalikan semua fasilitas negara.

    Kemudian pernah seorang pengusaha berniat memberinya mobil. Pengusaha itu tahu bahwa mobil dinas Sutami ikut dikembalikan usai pensiun. Tapi dengan halus Sutami menolak. Dia hanya minta diberi sedikit diskon saja dari pengusaha itu.

    Sutami tidak suka mengumbar janji belaka. Hal itu salah satu yang menuai pujian. Sebagai insinyur sipil lulusan Institut Teknologi Bandung, dia sangat menyukai pekerjaan lapangan.

    Hingga menerima julukan sebagai ‘menteri yang tak punya udel’. Panggilan yang disematkan oleh para wartawan yang selalu diajak meninjau ke daerah-daerah terpencil.

    Sutami kuat jalan kaki puluhan kilometer selama berjam-jam. Kalau ada ojek, dia naik ojek. Kalau tidak ada, maka dia akan jalan kaki untuk langsung bertemu masyarakat kecil.

    Menteri Kesayangan Soekarno dan Soeharto

    Presiden Soekarno sering mengundang Sutami sarapan di istana. Keduanya sarapan ketela yang mengepul. Di masa Orde Baru, Presiden Soeharto kerap menjenguk Sutami saat sakit. Soeharto pula yang meminta Sutami untuk berobat ke luar negeri.

    Sudah 14 tahun Sutami mengabdi pada negara sebagai menteri era Soekarno dan Soeharto. Bentuk kasih dan sayang Presiden, menunjukkan bahwa Sutami bekerja bukan hanya untuk golongan tertentu. Serta tidak untuk satu rezim atau satu presiden saja. Melainkan demi bangsa dan rakyat Indonesia.

    Menteri Sutami meninggal pada 13 November 1980 pada usia 52 tahun. Almarhum menderita sakit lever diduga karena terlalu sibuk bekerja.

    Sebuah kehormatan disematkan pada mendiang Sutami oleh Presiden Soeharto pada 16 Desember 1981. Saat meresmikan bendungan Karangkates, Soeharto membacakan pidato penghormatan untuk Sutami. Serta memberi nama bendungan Karangkates sebagai ‘Bendungan Sutami’. Berikut yang disampaikan dalam pidato Soeharto.

    “Jika berbicara mengenai proyek-proyek besar di zaman pembangunan ini, maka kita tidak dapat melupakan salah seorang tokoh yang saat ini sudah tidak bersama kita lagi. Yang saya maksudkan adalah Almarhum Sutami. Kita semua tahu, beliau itu, kita semua merasakan rintisan pembangunan proyek-proyek besar yang diilhami pikiran karya-karya Sutami. Beliau telah mematrikan namanya sebagai pejuang pembangunan yang besar.

    Bagi kita yang masih tinggal, tentunya ingin mengabadikan nama beliau itu. Salah satu proyek beliau pimpin pembangunannya adalah bendungan dan PLTA Karangkates. Beliau yang sejak semula selalu aktif memimpinnya ke lapangan dan aktif memimpinnya, bahkan langsung terjun ke lapangan dan mengamati kemajuan pelaksanaan pembangunan bendungan yang besar itu.

    Sebab itu, untuk menjadikan nama beliau, untuk menyatakan rasa terima kasih Bangsa Indonesia kepada salah satu putranya yang berjasa, maka pada kesempatan ini saya umumkan dan saya resmikan nama bagi bendungan dan PLTA Karangkates dengan nama bendungan dan PLTA Prof. Dr. Ir Sutami.”

    LEAVE A REPLY

    Please enter your comment!
    Please enter your name here