Kisah Sejarah Sultan Ageng Tirtayasa Ketika Gagal Selamatkan Batavia dari Belanda

    151
    0

    SEJARAHONE.ID – Oleh Jemmy Ibnu Suardi (Peneliti Mercusuar Institute)

    Pada periode (1677-1683), Sultan Ageng Tirtayasa gagal menyelamatkan Batavia dari kungkungan kekuasaan Belanda. Amangkurat I lari meninggalkan istana Mataram, setelah Trunojoyo berhasil merangsek masuk ke dalam istana. Seluruh punggawa kocar-kacir tunggang langgang, sepilah istana tiada berorang satupun jua.

    Tahun 1677 Trunojoyo berhasil menggulingkan Amangkurat I, penguasa dinasti Mataram, kerajaan besar ditanah Jawa. Keberhasilan Trunojoyo tak lepas dari dukungan penuh Sultan Ageng Tirtayasa, seteru Mataram di ujung Barat pulau Jawa, Kesultanan Banten. (M.C.Ricklefs, 2008:166)

    Semua harta pusaka Mataram dibawa Trunojoyo ke Kediri, basis utama pasukan Trunojoyo. Putra Mahkota Mataram, Amangkurat II yang sejak lama ingin menggulingkan kekuasaan ayahnya, kini justru khawatir dengan sekutunya, Trunojoyo. Pasukan laut Makassar dan dukungan penuh Kesultanan Banten membuatnya was-was. Boleh jadi Trunojoyo yang akan jadi Raja daulat Mataram selanjutnya. (M.C.Ricklefs, 2008:167)

    Hanya ada satu cara untuk menghilangkan rasa curiga pada sekutunya ini. Bermain dua kaki, menjalin kerja sama dengan VOC Belanda yang memiliki tentara bayaran siap pakai.

    Alih-alih menjalin kerja sama yang setara, Amangkurat II justru tersubordinasi oleh kuasa VOC Belanda. Sejumlah syarat mesti dipenuhi, jika ingin mendapatkan bantuan militer.

    VOC sebenarnya sudah ketar-ketir, pusat pemerintahannya di Batavia sudah di kepung oleh Sultan Ageng Tirtayasa, dari barat, timur, utara, selatan dan Armada laut Kesultanan Banten sudah siaga, tinggal menunggu komando siap tempur. Sultan Ageng Tirtayasa sudah geram dengan tindakan VOC yang memonopoli perdagangan di perairan utara Jawa. Ditambah lagi, sejumlah saudagar Banten ditangkap dan dianiaya di Batavia. (M.C.Ricklefs, 2008:174)

    Sultan sudah bersiap dengan segala perhitungan cerdas dan matangnya. Tapi segala rencana tersebut menjadi buyar seketika. VOC Belanda mengumumkan Kediri sudah kalah, dan Trunojoyo sekutu Sultan Ageng Tirtayasa menjadi tawanan, dibawa kehadapan Amangkurat II. Berita mengejutkan ini membuat Sultan Ageng menjadi gamang. Ditariknya sejumlah pasukan besar yang sudah siaga ke batas terdalam. VOC Belanda bernafas lega, siasatnya mengumumkan dengan segera kejatuhan Kediri membuat Batavia aman untuk sementara. (M.C.Ricklefs, 2008:175)

    Baca Juga :   Unsera : 111 Tahun Buya Hamka, Menapaktilasi Perjalanan Hidupnya

    Januari 1680, Trunojoyo dieksekusi Amangkurat II. Kematian Trunojoyo ditangan Amangkurat II yang di dukung VOC Belanda membuat Sultan Ageng benar-benar geram. Amangkurat II dianggap oleh Sultan Ageng sebagai pengkhianat agama, karena bersekutu dengan orang-orang zalim dan kafir VOC Belanda. Tiada pilihan lain Batavia mesti dibumi-hanguskan. Sultan Ageng Tirtayasa kembali menyusun kekuatan untuk menyerang Batavia. (M.C.Ricklefs, 2008:168)

    Meskipun Sultan Ageng Tirtayasa memiliki tentara profesional dan senjata modern. Sultan Ageng tak mampu menaklukkan Batavia, Sultan telah kehilangan momentumnya. Batavia sudah mendapatkan kembali kekuatan penuh, seluruh tentara yang mengalahkan Kediri telah kembali. Ditambah lagi, hasutan VOC kepada Sultan Anom, putera mahkota untuk memberontak dan menggulingkan kuasa Kesultanan Banten berhasil melemahkan Sultan Ageng Tirtayasa. Rencana membumi-hanguskan Batavia gagal, Sultan Ageng Tirtayasa ditangkap, Maret 1683.(M.C.Ricklefs, 2008:176)

    LEAVE A REPLY

    Please enter your comment!
    Please enter your name here