Home Khasanah Kisah Sultan Sulaiman Al Qanuni, Sultan di Jaman Keemasan Dinasti Turki Utsmani

Kisah Sultan Sulaiman Al Qanuni, Sultan di Jaman Keemasan Dinasti Turki Utsmani

95
0

SEJARAHONE.ID – Sultan Sulaiman Al-Qanuni berkuasa menjadi khilafah Turki Utsmani sejak 1520-1566 M. Sultan Sulaiman Al-Qanuni lahir pada tanggal 6 November 1469 M di Trabzon, sebuah kota yang terletak di Turki bagian Timur Laut di kawasan pantai Laut Hitam.

Sultan Salim I dikenal sebagai seorang Sultan yang alim dan memiliki sifat utama dan cerdik.

Sulaiman Al-Qanuni: Negarawan Muslim Penguasa Tiga Benua | Bincang Syariah

 

Dalam hidupnya ia mempunyai rencana visi dan misi, serta tekad yang keras. Di awal pemerintahan Sultan Sulaiman Al-Qanuni sudah menghadapi cobaan berat. Ia harus berhadapan dengan empat gerakan pembangkangan sekaligus. Pembangkangan tersebut dilakukan oleh Janbarad, Ahmad Syah, Baba Dzunnun, dan Qalandar Jalabi. Sultan Salimm berhasil menumpas para pemberontak dalam pemerintahannya

Nama ibunya adalah Ayse Hafsa Valide Sultan atau sering disingkat Hafsa Sultan.13 Sedangkan ayahnya bernama Sultan Selim I.14 Awal pemerintahan Sultan Salim I membuat Kesultanan Turki Utsmaniyah semakin maju dan berkembang dengan baik.

Di antara usahanya yaitu dengan melakukan penaklukan-penaklukan wilayah bagian Timur, yaitu meliputi Persia, Syiria, dan Mamluk Mesir. Setelah Sultan Salim I meninggal dunia.

Sultan menjadi salah satu tokoh yang paling berpengaruh di Kesultanan Turki Utsmaniyah saat putranya naik tahta pada tahun 1520 M, karena ia merupakan wali de facto putranya selama empat belas tahun sampai akhirnya ia meninggal pada tahun 1534 M.

Sultan Salim Han atau yang biasa disebut Sultan Salim I, ia adalah ayah dari Sultan Sulaiman Al-Qanuni, ia memerintah Kesultanan Turki Utsmaniyah dari tahun 1512-1520 M setelah menggantikan Sultan Beyazid II. Sultan Salim I merupakan seorang ahli penyair pada masanya. Ia meninggal pada 9 Syawal 926 H / 22 September 1520 M karena infeksi kulit, akan tetapi beberapa ahli sejarah menyakini penyebab kematiannya karena diracuni oleh tabib yang merawatnya.

 Kesultanan Turki Utsmaniyah digantikan oleh Sultan Sulaiman Al-Qanuni dengan membawa banyak kemajuan bagi Turki Utsmaniyah, bahkan pencapaiannya melebihi apa yang sudah diraih Sultan Salim I dan para sultan pendahulunya. Sebagian sejarawan mengklaim pada masa remaja Sultan Sulaiman AlQanuni mengagumi Alexsander Agung. Oleh sebab itulah Sultan Sulaiman Al-Qanuni sangat mengagumi sosok Alexander Agung, karena telah memberikan pengaruh dalam pola pemikirannya untuk membangun kesultanan dengan wilayah yang luas, sehingga dapat memperluas kekuasaannya hingga ke wilayah Asia, Afrika, dan Eropa.

Kehebatan serta kepiawaiannya Sultan Sulaiman dalam berperang dan menaklukan banyak daerah merupakan hasil didikan orang tuanya sejak ia masih kecil. Sejak Usia 7 tahun.

Alexander Agung adalah seorang raja dari Kekaisaran Makedonia, sebuah negara di daerah timur Laut Yunani, yang pada usia tiga puluh tahun memimpin sebuah kekaisaran terbesar pada masa sejarah kuno, membentang mulai dari Laut Lonia sampai pegunungan Himalaya, Alexander Agung tidak pernah terkalahkan dalam pertempuran dan dianggap sebagai komandan perang terhebat sepanjang masa.

PENDIDIKAN SULTAN SULAIMAN

Sulaiman sudah mempelajari banyak bidang keilmuan. Ia mengikuti pendidikan di sekolah Topkapi di Konstantinopel. Sultan Sulaiman AlQanuni merupakan sosok yang sangat berhati-hati dan tidak tergesa-gesa dalam setiap tindakan.

Sebelum mengambil tindakan, dia selalu memikirkan resikor–resikonya atas segala keputusan yang diambilnya. Selain seorang reformator yang energik, Sultan Sulaiman Al-Qanuni dikenal sebagai penguasa yang sungguh-sungguh adil dan imbang. Ia mengangkat kedudukan para pengabdinya sesuai kemampuan mereka, tidak memandang dari kekayaan pribadi ataupun latar belakang keluarga melainkan dari kemamampuan dan prestasinya.

Bahkan banyak pejabat paling penting Sultan Sulaiman Al-Qanuni berasal dari kaum budak beragama Kristen.  Topkapi adalah sebuah Istana di Istanbul, Turki yang merupakan kediaman resmi Sultan Utsmaniyah selama lebih dari 600 tahun 1465- 1856 M. Yang terletak di pinggir pantai selat Basphorus dan berada tidak jauh dari Hagia Sophia.

Istana Topkapi ini selain digunakan sebagai tempat tinggal kesultanan, juga digunakan untuk acara-acara penting kesultanan. Pembangunan Istana ini dimulai pada tahun 1459 M atas perintah Sultan Mehmed II.

Kepribadian Sultan Sulaiman Al-Qanuni tidak bisa diragukan lagi dalam memimpin Kesultanan Turki Utsmaniyah, sehingga kemajuankemajuan dapat diraihnya.

Sultan Sulaiman Al-Qanuni mempunyai dua istri, yaitu istri pertama bernama Mahidevran Gulbahar Sultan yang dikaruniai dua anak dari pernikahannya, yaitu Sehzade Mustafa dan Raziye Sultan. Adapun dari istri kedua Sultan Sulaiman Al-Qanuni menikahi seorang wanita harem yang bernama Hurrem Sultan.

Pernikahan Hurrem Sultan dan Sultan Sulaiman AlQanuni dikaruniai enam anak, yaitu Putri Mihrimah, Selim II, Beyazid, Abdullah, Cihangir, dan Mehmed. Dari keenam anaknya tersebut, Selim II yang nantinya akan menggantikan posisi Sultan Sulaiman sebagai sultan Utsmaniyah.

Adapun dalam pernikahannya dengan Mahidevran Gulbahar Sultan, mereka dikaruniai dua orang anak, yaitu Sehzade Mustafa dan Raziye Sultan. Jadi keseluruhan anak dari Sultan Sulaiman Al-Qanuni berjumlah delapan anak dari dua istri.

Wanita Harem

Istilah wanita harem berasal dari kata harim dalam bahasa Arab yang artinya sebuah ruangan khusus wanita di dalam rumah yang menganut sistem rumah tangga poligini. Sebenarnya antara anak Mahidevran dan Hurrem Sultan juga terjalin hubungan yang sangat baik, bahkan beberapa di antara mereka bersahabat karib dan menjalin persaudaraan yang baik.

Namun intrikintrik di wilayah kekuasaan Kesultanan Turki Utsmaniyah membuat mereka ikut terseret dalam permainan politik tingkat tinggi. Misalnya, Jihangir anak dari Hurrem Sultan bersahabat baik dengan Mustafa anak dari Mahidevran. Kematian Mustafa memang sudah direncakan oleh pihak-pihak tertentu. Pada tahun 1552 M terjadi intrik politik yang menjatuhkan Mustafa, ketika itu ia difitnah oleh Rustam Pasha, yang merupakan suami dari Mihrimah anak dari Hurrem Sultan, dikatakan bahwa Mustafa akan mengambil alih kekuasaan Sultan Sulaiman Al-Qanuni.

Akhirnya, Mustafa tewas dibunuh oleh orang-orang kepercayaan Sultan Sulaiman AlQanuni, diduga para kasim kesultanan yang telah membunuh Mustafa. Karena begitu dalamnya kesediahan Jihangir hingga beberapa kemudian ia pun meninggal dunia, karena tidak mampu lagi menahan kesedihan yang begitu dalam atas kematian Mustafa yang sangat mengenaskan karena dibunuh.

Sultan Sulaiman Al-Qanuni bersahabat dengan seorang pemuda bernama Pergali Ibrahim Pasha atau yang biasa dipanggil Ibrahim, seorang budak yang nanti di kemudian hari menjadi orang kepercayaan sekaligus penasihat pribadinya.

Sultan Sulaiman menjadikan Pargali Ibrahim Pasha sebagai falconer kesultanan. Falconer kesultanan, yaitu orang yang bertugas untuk menerbangkan burung pemburu, biasanya dari jenis elang atau rajawali. Kegiatan ini merupakan jenis olahraga atau permainan yang dulunya banyak dimainkan oleh kalangan bangsawan atau kesultanan untuk aktivitas berburu. Setelah menugaskan Pargali Ibrahim Pasha menjadi falconer, kemudian Sultan Sulaiman Al-Qanuni menaikkan jabatan sahabatnya itu menjadi perwira pertama ruang tidur kesultanan. Begitupun jabatan tertinggi yang diberikan Sultan Sulaiman Al-Qanuni terhadap Pargali Ibrahim Pasha adalah saat ia mengangkat Pargali Ibrahim Pasha sebagai Wazir Agung Kesultanan Turki Utsmani pada tahun 1523 M.

Tugas Awal:  Menjadi Gubernur

Sebelum menduduki tahta kesultanan Utsmani, pada usia 17 tahun Sultan Sulaiman Al-Qanuni ditunjuk sang ayah untuk menjadi gubernur pertama Provinsi Kaffa (Theodosia),

Delapan hari setelah sang ayah (Sultan Salim I) tutup usia, pada 30 September 1520 M, Sultan Sulaiman AlQanuni naik tahta menjadi sultan ke-10 Kesultanan Turki Usmaniyah, pada usia 25 tahun.

Sultan Salim I dikenal sebagai seorang Sultan yang alim dan memiliki sifat utama dan cerdik. Dalam hidupnya ia mempunyai rencana visi dan misi, serta tekad yang keras. Di awal pemerintahan Sultan Sulaiman Al-Qanuni sudah menghadapi cobaan berat. Ia harus berhadapan dengan empat gerakan pembangkangan sekaligus. Pembangkangan tersebut dilakukan oleh Janbarad, Ahmad Syah, Baba Dzunnun, dan Qalandar Jalabi.

Adapun motivasi para pemberontak, mereka mengira kekuatan Kesultanan Turki Utsmani semskin melemah, sehingga mereka berani memerdekakan diri dan menyatakan sebagai wilayah independen.26

Bagaimanapun juga, masa pemerintahan Sultan Sulaiman AlQanuni merupakan respresentasi puncak kejayaan politik Khilafah Turki Utsmaniyah dan puncak kemuliaan Sultan di tengah pusaran dunia di masa itu. Masa pemerintahan Sultan Sulaiman Al-Qanuni dianggap sebagai puncak zaman keemasan pemerintahan Turki Utsmaniyah. Masa pemerintahan ini berlangsung dalam kurun 1520- 1566 M. Di masa itu wilayah Kesultanan Turki Utsmaniyah meluas sedemikian rupa, melebihi wilayah-wilayah yang dicapai oleh Sultan-sultan sebelumnya. Kekuasaan Kesultanan Turki Utsmaniyah kala itu menjangkau tiga wilayah benua, Asia, Afrika dan Eropa.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here