Home Galeri Kisah Sariamin Ismail, Novelis Perempuan Pertama Indonesia

Kisah Sariamin Ismail, Novelis Perempuan Pertama Indonesia

80
0

SEJARAHONE.ID – Sariamin Ismail adalah penulis novel perempuan pertama di Indonesia. Sariamin lahir dengan nama Basariah pada tanggal 31 Juli 1909 di Talu, Pasaman Barat (Sumatra Barat. Ia adalah anak kedua, memiliki tiga saudara perempuan dan seorang saudara laki-laki, dari pasangan Sari Uyah dan Lau. Sebagai anak seorang ambtenaar, Sariamin dapat masuk ke Sekolah Gubernemen. Dalam usia sepuluh tahun, Sariamin telah menulis syair dan puisi.

Pada 1921, ia mengikuti ujian masuk sekolah guru perempuan Meisjes Normaal School (MNS) di Padang Panjang dan dinyatakan lulus.  Di sekolah, ia sering mendapat hadiah dari perlombaan menulis karangan prosa dan puisi yang diikutinya. Sajaknya yang berjudul “Orang Laut” dibacakan di setiap kelas oleh para guru.

Sewaktu kelas tiga, karena dianggap sudah sering mendapatkan hadiah, ia tidak lagi diberi hadiah dari lomba meskipun mendapat juara. Walaupun demikian, guru bahasa Indonesianya, Noer Marliah Moro membawanya berlibur ke Padang, hadiah yang paling istimewa baginya karena ia belum pernah menyaksikan laut walaupun ia berhasil mengarang “Orang laut”.

Sariamin Ismail

Tamat dari MNS, Sariamin mendapat tugas mengajar di Meisjes Vervolg School (MVS) yang ada di Bengkulu. Pada 17 Juni 1925, ia diangkat sebagai kepala sekolah dan mencatatkan kemajuan untuk sekolah dengan pertambahan murid selama setahun memimpin. Sejak itu, ia berpindah-pindah domisili mengikuti tugas mengajarnya dan terus menulis sampai sisa umurnya. Sariamin kembali ke Sumatra Barat pada 1926 untuk mengepalai MVS yang ada di Matur dan pindah ke Lubuksikaping pada 1927.

Di Matur, ia bertemu dengan bekas gurunya di MNS, Noer Marliah Moro yang memberinya dorongan untuk mengirim karyanya ke surat kabar. Ia menggunakan nama samaran Sri Gunung untuk pertama kali dan tetap digunakannya sewaktu di Lubuksikaping. Ketika mengepalai MVS di Lubuksikaping, Sariamin bertengkar dengan schoolopzinener yang menyalahkan keputusannya membeli alat-alat dapur sekolah dengan uang pembeli bangku dan meja. Pada Mei 1928, setelah memenuhi panggilan inspektur di Bukittinggi, Sariamin pindah mengajar ke kota itu dan pangkatnya diturunkan hanya sebagai guru di Meisjes Leer School (MLS), sekolah untuk murid pindahan MNS Padangpanjang yang gedungnya hancur akibat gempa bumi 1926.

Ia sering memakai nama samaran Selasih dan Seleguri, atau gabungan kedua nama Selasih Seleguri. Novel pertamanya berjudul Kalau Tak Untung diterbitkan oleh Balai Pustaka pada 1934. Ia menulis untuk sejumlah surat kabar termasuk Pujangga BaruPanji PustakaAsjarqSunting Melayu, dan Bintang Hindia. Bersama kepindahannya ke Kuantan sejak 1941, Sariamin naik sebagai anggota parlemen daerah untuk Provinsi Riau setelah terpilih pada tahun 1947. Ia terus menulis untuk sisa umurnya.

 

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here