Home Pahlawan Kisah Sanusi Pane dan Lahirnya Bahasa Indonesia

Kisah Sanusi Pane dan Lahirnya Bahasa Indonesia

197
0

SEJARAHONE.ID – Bangsa Indonesia setiap tanggal 28 Oktobermemperingati Hari Sumpah Pemuda. Peristiwa yang terjadi 92 tahun silam ini menjadi momen sejarah yang sangat penting bagi pergerakan bangsa yang mengantarkan Indonesia hingga meraih kemerdekaannya.

Berbicara tentang Sumpah Pemuda, pasti tak bisa lepas dari bahasa persatuan, yaitu Bahasa Indonesia. Di negara yang hidup dengan semboyan ‘Bhinekka Tunggal Ika’ ini, adanya bahasa persatuan menjadi sangat penting untuk menjaga keutuhan bangsa hingga saat ini.

Namun, lahirnya Bahasa Indonesia ternyata melewati perjuangan panjang oleh para tokoh bangsa terdahulu. Salah satunya adalah Sanusi Pane.

Sanusi Pane adalah seorang sastrawan dan pujangga yang lahir di Muara Sipongi, Tapanuli Selatan, Sumatra Utara pada 14 November 1905. Ia adalah tokoh pelopor yang mendorong lahirnya bahasa persatuan, yaitu Bahasa Indonesia.

Tak begitu dikenal sebagai pahlawan, berikut kisah hidup Sanusi Pane hingga akhir hayatnya.

Melansir dari ensiklopedia.kemdikbud.go.id, Sanusi Pane mengenyam bangku pendidikan pertama kali di Hollands Inlandse School (HIS) di Padang Sidempuan. Ia kemudian pindah ke Tanjung Balai lalu masuk Europeesche Lager School (ELS) di Sibolga lalu melanjutkan ke Meer Uitgebreid Lager Onderwijs (MULO) di Padang, dan diselesaikan di Jakarta tahun 1922.

Sang Pujangga kemudian melanjutkan pendidikannya di Kweekschool di Jakarta dan lulus tahun 1925 serta melanjutkan ke Sekolah Hakim Tinggi. Setelah lulus Ia kemudian memperdalam pengetahuan tentang kebudayaan Hindu di India pada tahun 1929—1930.

Setelah menyelesaikan studinya, Sanusi Pane bekerja sebagai guru di Kweekschool Gunung Sahari, Jakarta, lalu pindah ke HIK Lembang, pindah lagi ke HIK Gubernemen Bandung kemudian pindah di Sekolah Menengah Perguruan Rakyat, Jakarta. Namun, karena aktif dalam Partai Nasional Indonesia, Ia akhirnya dipecat sebagai guru.

Sanusi Pane terkenal aktif dalam organis.asi pergerakan, seperti Jong Sumatra dan Gerindo. Ia juga pernah menjadi redaktur majalah Timboel tahun 1931—1933, harian Kebangoenan di tahun 1936 dan redaktur Balai Pustaka di tahun 1941

Sanusi Pane adalah anak dari Sutan Pengurabaan Pane, seorang guru dan seniman Batak Mandailing di Muara Sipongi, Mandailing Natal. Di antara delapan bersaudara, selain dirinya ada juga yang menjadi tokoh nasional, yaitu Armijn Pane yang juga menjadi sastrawan, dan Lafran Pane yang merupakan pendiri organisasi pemuda Himpunan Mahasiswa Islam. Sanusi Pane merupakan ayah dari 6 anak perempuan.

Pendidikan

Semasa mudanya, Sanusi Pane menempuh pendidikan formal di HIS dan ELS di Padang Sidempuan, Sumatra Utara. Pendidikannya selanjutnya adalah di MULO di Padang dan Jakarta, yang diselesaikannya tahun 1922. Ia lalu melanjutkan di Kweekschool (sekolah guru) di Gunung Sahari, yang selesai pada tahun 1925. Ia juga sempat kuliah di Rechtshogeschool dan mempelajari Ontologi. Pada antara tahun 1929-1930, ia berkesempatan mengunjungi India, yang selanjutnya akan berpengaruh besar terhadap pandangan kesusastraannya.

Karier

Sekembalinya dari India, Sanusi Pane menjadi redaksi majalah Timbul yang berbahasa Belanda. Ia mulai menulis berbagai karangan kesusastraan, filsafat dan politik, sementara tetap mengajar sebagai guru. Ia pernah aktif dalam Jong Sumatra dan Gerindo. Karena keanggotaannya dalam PNI, tahun 1934 ia dipecat sebagai guru. Ia pernah menjadi guru di Kweekschool “Gunung Sahari” Jakarta, HIK Lembang, HIK Gubernemen Bandung, dan Sekolah Menengah Perguruan Rakyat Jakarta.

Sejak tahun 1931 sampai 1933 dia menjadi redaktur majalah Timbul. Tahun 1936 Sanusi Pane menjadi pemimpin surat kabar Tionghoa-Melayu Kebangunan di Jakarta. Pada tahun 1941 ia menjadi redaktur Balai Pustaka.

Pandangan

Dalam bidang kesusastraan, Sanusi Pane sering kali dianggap sebagai kebalikan dari Sutan Takdir Alisjahbana.[1]. Dalam karyanya Sanusi Pane banyak berbeda dengan karya yang ditulis oleh sastrawan Sutan Takdir, yang menghendaki coretan yang hitam dan berada dibawah pra-Indonesia,yang, dianggapnya telah menyebabkan bangsa Indonesia dipandang nista. Sanusi Pane mencari inspirasinya pada kejayaan budaya Hindu-Budha di Indonesia pada masa lampau.[2] Perkembangan filsafat hidupnya itu, sampailah kepada sintesis Timur dan Barat, persatuan jasmani dan rohanidunia dan akhirat, serta idealisme dan materialisme; yang tercermin dalam karyanya “Manusia Baru”, yang diterbitkan oleh Balai Pustaka pada tahun 1940.

Karya

Pancaran Cinta (1926)

Prosa Berirama (1926)

Puspa Mega (1927)

Kumpulan Sajak (1927)

Madah Kelana (1931)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here